Tentang Katya

Jatuh ya bangun. Susah ya minta tolong.

Kedengarannya mudah, tapi tidak juga. Kadang kita tidak sadar bahwa kita bisa bangkit. Kadang lupa kita bisa dan perlu minta bantuan orang lain. Meskipun ingat, ada saja yang menghalangi untuk minta tolong. Biasanya rasa takut; takut orangnya malah jadi merasa repot dan malas berhubungan dengan kita, takut dianggap lemah, takut merasa tidak enak karena “merepotkan” orang lain, dan berbagai macam rasa takut lainnya.

Itu wajar. Saya tahu karena mengalaminya sendiri dan melihatnya pada orang-orang sekitar saya.

Kalau sulit berangkat minta tolong, biarkan saya yang datang menjemput

Saya peduli tentang kesehatan fisik dan mental, bahasa dan komunikasi, serta kepenulisan. Saya harap saya dapat membantu Anda dalam hal-hal tersebut melalui tulisan.

Saya bukan seorang ahli. Saya pembelajar yang ingin berbagi dan belajar bersama. Belajar lebih enak kalau ada temannya, kan?

Melampaui batasan bahasa dan budaya

Selain menulis, saya juga menerjemahkan berbagai materi dalam berbagai pasangan bahasa, khususnya yang meliputi bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Saya punya pengalaman bekerja secara individu maupun sebagai koordinator tim.

Kenapa menulis dan menerjemahkan?

[cml_media_alt id='19']pa081[/cml_media_alt]

Semua bermula dari kurungan ayam

Saya berusia 7 bulan ketika orang tua saya mengadakan upacara tedak siten (tedak siti) untuk saya. Dalam prosesi kurungan ayam, saya diberi berbagai pilihan benda yang akan menggambarkan profesi saya ketika dewasa. Saya mengambil pensil.

Saya tumbuh menjadi balita dan ingatan saya waktu itu meliputi kertas karton dengan kata-kata dan gambar yang digunakan orang tua saya untuk mengajari saya membaca, serta cerita yang saya tulis berjudul “Bintik-Bintik Setan”.

Menginjak bangku SD saya mengenal serial Harry Potter dan merasakan sihir dari kata-kata. Saya pun mulai bermimpi jadi penyihir seperti J.K. Rowling.

Ketika SMP saya ikut ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Saya menulis tentang fungsi daun mahkota dewa sebagai cairan pembersih dengan Mimi dan Blacky, anggota keluarga saya, sebagai kelinci percobaan voluntir.

Hari-hari SMA dihiasi dengan kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik (Joer Lima, Smala Pers!); membuat majalah dan tabloid, ikut kompetisi Deteksi Mading, dan sebagainya.

Selain membaca dan menulis, saya juga terbiasa hidup dengan beberapa bahasa sekaligus sejak dini.

Buku pertama yang membekas dalam ingatan saya adalah buku cerita bergambar dalam bahasa Inggris yang orang tua saya berikan waktu saya balita. Sewaktu SD saya menghabiskan waktu setelah makan malam dengan tertawa-tawa melihat acara berbahasa Inggris di TV. Sejak mengenal internet, saya ganti tertawa-tawa karena video-video berbahasa Jepang di dunia maya.

Di bangku kuliah saya memilih untuk belajar di jurusan Sastra Jepang. Berkat pengalaman di sana saya jadi lebih mengenal tentang Jepang, budaya, serta pola pikir masyarakatnya. Saya juga mengenal karakter budaya lain karena aktif di pusat bahasa Indonesia untuk orang asing yang dikelola oleh kampus.

Ilmu dan praktek penerjemahan juga saya kenal mulai dari masa kuliah, khususnya melalui masa satu tahun belajar di Osaka dan pengalaman bekerja dengan berbagai klien sejak semester 6.

Hubungi saya

Salah satu hal yang membuat saya senang menulis dan menerjemahkan adalah bertemu dan berkomunikasi dengan berbagai orang. Jangan sungkan-sungkan dan silakan hubungi saya kapan saja.

Jangan lupa klik subscribe untuk dapatkan update, ya!

 


Share this: