Dini

Ternyata yang kami lihat berbeda.

Aku melihat pesona di kemandiriannya, manis di pipi cempluknya saat kesal, indah yang memancar dari dirinya.

Bukan berarti yang lainnya tak tampak. Aku juga melihat kasar di sikapnya saat ada masalah, lemah di balik kata-kata tegasnya, dengki yang kadang melintas di matanya.

Tapi ya sudah. Memang begitu adanya manusia. Memang begitu aku mencintainya.

Ternyata yang kami lihat berbeda.

Di matanya hanya tampak cacat, gores, luka. Di benaknya hanya ada buruk, jelek, hina.

Aku melihat dia seutuhnya. Dia melihat dirinya kurang dari itu.

****
Continue reading “Dini”

Share this: