Tembang Kenangan: Lagu yang Berubah Makna

Biasanya saya mengaitkan satu lagu dengan satu kenangan atau periode tertentu. Misalnya lagu “No Me Ames” yang mengingatkan pada perjalanan keluarga dari Surabaya ke Jogja, atau lagu “Aku Bisa” yang membawa saya kembali ke masa SMP.

Tapi ternyata ada lagu yang kenangan dan maknanya berubah seiring berjalannya waktu. Baru-baru ini saya merasakannya dengan lagu “Kiseki” oleh GReeeeN.

Continue reading “Tembang Kenangan: Lagu yang Berubah Makna”
Share this:

Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line”

<Tulisan ini mengandung spoiler>

Baru-baru ini saya selesai nonton drama Jepang “Life~Love on the Line.” Overall oke, sukses membuat saya semangat nonton selama empat minggu penayangannya. Dari drama ini ada satu hal yang paling membekas: Bagaimana drama ini bisa menampilkan tokoh yang realistis dan manusiawi.

Tonton di Viki:

Life~Love on the Line

Continue reading “Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line””
Share this:

Hidup Bersama Hewan

Sejak saya bisa mengingat, saya sudah hidup bersama binatang peliharaan di rumah. Anjing, kelinci, kura-kura, dan pernah sekali waktu, kucing. Baru sejak umur 17 pindah dari rumah orang tua dan tinggal sendiri di kosan, saya tidak lagi hidup bersama hewan.

Rossie dan Sandy

Pengalaman 17 tahun pertama dalam hidup itu terus membekas dan mempengaruhi saya. Sampai sekarang merasa agak aneh nyebut binatang peliharan “mati.” Lebih nyaman nyebutnya “meninggal.”

Karena dulu pelihara kelinci begitu banyak dari SD sampai SMP, saya pernah menolak makan sate kelinci. Seumur-umur makan sate kelinci baru sekali, waktu saya usia 21 tahun. Ya bisa dibilang agak lebay ya, tapi emang saya nggak tega. Saking sayangnya dulu saya ingat tanggal meninggalnya semua kelinci kami, misalnya si Leo itu 2 Mei (ingat karena pas Hardiknas) dan hari Jumat (waktu nemu Leo terbujur kaku, saya pakai seragam pramuka).

Continue reading “Hidup Bersama Hewan”
Share this:

Renungan: Percakapan dengan Bapak

Ini minggu keenam saya sebagai pegawai kantoran, setelah 1,5 tahun menyokong diri sendiri sebagai full-time freelancer. Ternyata cepat juga menyesuaikan diri; kerjaan terasa menyenangkan, lingkungan oke, secara keseluruhan tidak ada kendala berarti.

Kerjaan freelance masih jalan. Kantor tidak melarang asal tidak mengganggu pekerjaan utama.  Supervisor saya sudah tahu kalau saya masih terima kerjaan sampingan. Tidak ada komplain.

Cuma akhir-akhir ini rasanya berat. Mungkin karena pas kondisi badan tidak fit. Batuk tanpa henti berhari-hari, badan pegal-pegal, lengan kanan entah kenapa sakit padahal tidak ada kejadian jatuh atau ketarik. Badan tidak sehat, jiwa ikut sakit.

Di saat-saat seperti ini teringat percakapan dengan Bapak.

“Aku nggak tahu bedanya. Apa aku mencoba melakukan sesuatu yang di luar batasku? Atau aku kurang mendorong diriku untuk mencapai yang terbaik yang bisa aku lakukan?”

Continue reading “Renungan: Percakapan dengan Bapak”

Share this: