Belajar Mendengarkan

Pernah nggak lagi curhat ke temen terus direspon dengan kata-kata semacam “Halah, gitu aja kok galau. Aku nih lebih parah…..” bla bla bla. Males banget ya pasti. Lagi kesal/marah/sedih/kecewa dan mau meluapkan perasaan supaya bisa lega dan move on, tapi malah dikasih kata-kata yang meremehkan perasaan kita. Bahkan curhatan kita malah dijadikan ajang untuk kompetisi “siapa yang paling menderita.”

Ada banyak orang yang suka berbicara tapi jarang mendengarkan dengan baik. Saya sendiri juga belum ahli dalam mendengarkan orang lain. Biasanya saya cenderung menanggapi curhatan teman dengan “saran” atau “nasihat” yang sebenarnya tidak dibutuhkan, seenggaknya tidak dibutuhkan pas di saat sesi curhat itu.

Continue reading “Belajar Mendengarkan”
Share this:

Tembang Kenangan: Lagu yang Berubah Makna

Biasanya saya mengaitkan satu lagu dengan satu kenangan atau periode tertentu. Misalnya lagu “No Me Ames” yang mengingatkan pada perjalanan keluarga dari Surabaya ke Jogja, atau lagu “Aku Bisa” yang membawa saya kembali ke masa SMP.

Tapi ternyata ada lagu yang kenangan dan maknanya berubah seiring berjalannya waktu. Baru-baru ini saya merasakannya dengan lagu “Kiseki” oleh GReeeeN.

Continue reading “Tembang Kenangan: Lagu yang Berubah Makna”
Share this:

Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line”

<Tulisan ini mengandung spoiler>

Baru-baru ini saya selesai nonton drama Jepang “Life~Love on the Line.” Overall oke, sukses membuat saya semangat nonton selama empat minggu penayangannya. Dari drama ini ada satu hal yang paling membekas: Bagaimana drama ini bisa menampilkan tokoh yang realistis dan manusiawi.

Tonton di Viki:

Life~Love on the Line

Continue reading “Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line””
Share this:

Hidup Bersama Hewan

Sejak saya bisa mengingat, saya sudah hidup bersama binatang peliharaan di rumah. Anjing, kelinci, kura-kura, dan pernah sekali waktu, kucing. Baru sejak umur 17 pindah dari rumah orang tua dan tinggal sendiri di kosan, saya tidak lagi hidup bersama hewan.

Rossie dan Sandy

Pengalaman 17 tahun pertama dalam hidup itu terus membekas dan mempengaruhi saya. Sampai sekarang merasa agak aneh nyebut binatang peliharan “mati.” Lebih nyaman nyebutnya “meninggal.”

Karena dulu pelihara kelinci begitu banyak dari SD sampai SMP, saya pernah menolak makan sate kelinci. Seumur-umur makan sate kelinci baru sekali, waktu saya usia 21 tahun. Ya bisa dibilang agak lebay ya, tapi emang saya nggak tega. Saking sayangnya dulu saya ingat tanggal meninggalnya semua kelinci kami, misalnya si Leo itu 2 Mei (ingat karena pas Hardiknas) dan hari Jumat (waktu nemu Leo terbujur kaku, saya pakai seragam pramuka).

Continue reading “Hidup Bersama Hewan”
Share this: