7 Hari Backpacker di Jepang: Seminggu Penuh Perkenalan Kembali

Terbayang wisata dengan orang yang pernah berantem sama kamu? Itu salah satu cara refreshing saya: menghabiskan 7 hari travelling bersama orang yang pernah bertengkar dengan saya di depan publik.

Sudah satu tahun ini saya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Setelah menghabiskan waktu cukup lama sebagai full-time freelancer yang serba fleksibel, saya pikir saya tidak bisa diam duduk di ruangan dalam waktu yang sudah ditentukan. Eh, ternyata bisa bertahan selama satu tahun.

Meski bisa menyesuaikan diri dengan kerja kantoran, saya tetap butuh refreshing sesekali dengan travelling. Tujuan kali ini Jepang. Negara ini sudah menggugah minat saya sejak duduk di bangku SD, dan hingga sekarang saya masih bersentuhan dengan bahasa dan budayanya dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan ini membuat saya merasa aman memilih Jepang sebagai destinasi.

Nah, untuk rekan seperjalanan, pilihan saya adalah Mimin. Mimin adalah teman saya sejak kami berdua satu angkatan di jurusan yang sama saat kuliah dulu. Entah di semester 3 atau 4, kami pernah bertengkar di depan teman sekelas.

Mimin dan Katya, rekan travelling
Photo by Miho Moriya

Untuk tips wisata seminggu di Jepang, coba baca tulisan saya yang lain: “Wisata Ala Backpacker 7 Hari di Area Tokyo“.

Continue reading “7 Hari Backpacker di Jepang: Seminggu Penuh Perkenalan Kembali”

Share this:

Melangkah, Tersenyum, Menyapa

Jalanan di Jogja penuh dengan senyum. Selama enam tahun tinggal di sana, saya biasa jalan kaki ke mana-mana. Sambil jalan menganggukkan kepala dan tersenyum. Ke pak becak yang ngetem di depan gang. Ibu-ibu yang nyapu jalan depan rumah. Pak sekuriti IONs. Wajah-wajah familiar yang saya tak kenal namanya.

Di saat gelisah memuncak. Ketika otak saya membuat segalanya rumit dan malah menganggap orang-orang terdekat sebagai beban. Merekalah penyelamat saya.

Enam bulan di Jakarta, saya sempat merasa kehilangan itu. Ke kantor jalan kaki sekitar 1,5 km. Dua puluh menitan. Ada wajah-wajah yang melekat di ingatan saking seringnya berpapasan. Hampir tak pernah kami bertukar sapa.

Tapi ini bukan salah ibu kota.

Continue reading “Melangkah, Tersenyum, Menyapa”

Share this: