Melangkah, Tersenyum, Menyapa

Jalanan di Jogja penuh dengan senyum. Selama enam tahun tinggal di sana, saya biasa jalan kaki ke mana-mana. Sambil jalan menganggukkan kepala dan tersenyum. Ke pak becak yang ngetem di depan gang. Ibu-ibu yang nyapu jalan depan rumah. Pak sekuriti IONs. Wajah-wajah familiar yang saya tak kenal namanya.

Di saat gelisah memuncak. Ketika otak saya membuat segalanya rumit dan malah menganggap orang-orang terdekat sebagai beban. Merekalah penyelamat saya.

Enam bulan di Jakarta, saya sempat merasa kehilangan itu. Ke kantor jalan kaki sekitar 1,5 km. Dua puluh menitan. Ada wajah-wajah yang melekat di ingatan saking seringnya berpapasan. Hampir tak pernah kami bertukar sapa.

Tapi ini bukan salah ibu kota.

Continue reading “Melangkah, Tersenyum, Menyapa”

Share this:

Pengalaman Saya Menyikapi Pelecehan

Beberapa bulan ini saya punya rutinitas dan hobi baru: jogging. Dari yang awalnya 500 meter saja sudah ngos-ngosan sampai sekarang non-stop satu jam, saya jalani rutin meski tiap kali selalu ada pikiran “males ah, susah ah” (toh kalau sudah lewat kilometer kedua, rasanya seakan bisa lanjut sampai kapan pun, pokoknya jalani saja).

Hari ini jadwal jogging saya. Saya keluar area perumahan menuju jalan raya, tidak terlalu besar, tapi biasanya jadi jalannya sejuta umat. Langit sudah terang, tapi masih terlalu pagi untuk orang-orang yang berangkat kerja maupun sekolah.

Sudah lewat kira-kira kilometer keenam, tiba-tiba saya merasakan tangan seseorang di pantat saya. Kaget, saya menjerit dan menoleh; ada pria bersepeda motor, lewat sambil entah bergumam apa. Saya tidak ingat, yang jelas nadanya geli, seakan-akan ada sesuatu yang lucu dan pantas ditertawakan. Ia terus melaju dengan motornya. Saya terus berlari, kini dengan hati yang kalut.

Continue reading “Pengalaman Saya Menyikapi Pelecehan”

Share this: