Menerima Rasa Sakit: Renungan Pasca-operasi Gigi

Dua minggu lalu saya operasi gigi geraham bungsu (odontektomi). Sebenarnya tidak ada keluhan. Gara-gara ada tiga orang teman yang cerita masalah giginya, saya jadi parno dan minta gigi saya  dironsen. Ketahuan, semua gigi bungsu saya tidak tumbuh sempurna dan posisinya miring. Kalau tidak dicabut, bisa nabrak dan merusak gigi lain.

Imajinasi yang aktif membuat saya membayangkan yang tidak-tidak soal operasi. Cuma imajinasi soal apa terjadi kalau tidak operasi jauh lebih kuat. Akhirnya saya beranikan operasi satu gigi dulu.

Operasinya jam 10 pagi. Sekitar jam setengah dua sudah sampai kantor. Kerja sampai sore. Pulangnya saya baru merasa bingung.

Gigi yang diambil lokasinya di dekat syaraf. Dokter sudah menjelaskan sebelum operasi bahwa ada efek yaitu baal (seperti kebas) dan liur yang terus mengalir. Benar saja. Hari itu liur keluar tanpa henti. Ditelan saja liurnya, toh liur sendiri, kata dokter.

Entah kenapa, tiap menelan tenggorokan saya terasa sakit. Padahal yang diubek-ubek waktu operasi itu rahangnya. Paniklah saya. Menelan ludah sendiri saja sakit. Minum air dan susu pun harus dipaksa, demi mengisi energi dan minum antibiotik. Malam itu saya menangis. Lebay memang.

Dalam kondisi seperti itu, saya kirim pesan ke bapak saya. “Bapak, caranya ngadepin rasa nggak nyaman itu gimana ya.” Itu yang pertama saya sampaikan, karena saya sudah tahu. Rasa sakit ini tidak perlu ditolak. Yang ada malah tambah tidak nyaman. Cara terbaik untuk menghadapinya adalah menerimanya apa adanya.

Continue reading “Menerima Rasa Sakit: Renungan Pasca-operasi Gigi”

Share this:

Perkenalkan Anakku Vera

Sebenarnya sudah cukup terbiasa merawat makhluk hidup. Selama 17 tahun hidup di rumah orang tua sudah pernah pelihara empat kelinci dan dua anjing. Meski tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas mereka (duit makan dan vaksin = dompet orang tua), setidaknya sudah berpartisipasi aktif memberi makan/minum, memandikan, dsb. Peduli ketika lihat tempat minum mereka kotor dan kosong, bertindak segera untuk memastikan kesejahteraan mereka. Bukan sekadar “Aaa lucunya. Elus-elus. Peluk-peluk.”

Continue reading “Perkenalkan Anakku Vera”

Share this:

Renungan: Percakapan dengan Bapak

Ini minggu keenam saya sebagai pegawai kantoran, setelah 1,5 tahun menyokong diri sendiri sebagai full-time freelancer. Ternyata cepat juga menyesuaikan diri; kerjaan terasa menyenangkan, lingkungan oke, secara keseluruhan tidak ada kendala berarti.

Kerjaan freelance masih jalan. Kantor tidak melarang asal tidak mengganggu pekerjaan utama.  Supervisor saya sudah tahu kalau saya masih terima kerjaan sampingan. Tidak ada komplain.

Cuma akhir-akhir ini rasanya berat. Mungkin karena pas kondisi badan tidak fit. Batuk tanpa henti berhari-hari, badan pegal-pegal, lengan kanan entah kenapa sakit padahal tidak ada kejadian jatuh atau ketarik. Badan tidak sehat, jiwa ikut sakit.

Di saat-saat seperti ini teringat percakapan dengan Bapak.

“Aku nggak tahu bedanya. Apa aku mencoba melakukan sesuatu yang di luar batasku? Atau aku kurang mendorong diriku untuk mencapai yang terbaik yang bisa aku lakukan?”

Continue reading “Renungan: Percakapan dengan Bapak”

Share this:

Lima Kilometer Pertamaku di Pantai Parangtritis

Minggu lalu saya ikut event lari untuk kali pertama. Jogja Beach Run 2017 yang diselenggarakan di area Pantai Parangtritis, Yogyakarta tanggal 30 Juli kemarin. Di antara tiga kategori–2,5K fun run, 5K, dan 10K–saya pilih yang 5K. Sebelum ikut acara ini, saya sudah rutin lari selama beberapa bulan. Sudah bisa non-stop 5 kilometer, tapi kecepatannya belum seberapa. Sebenarnya nggak pede, tapi mau tantangan jadi nekat saja pilih 5K.

Pokok’e budhal

Continue reading “Lima Kilometer Pertamaku di Pantai Parangtritis”

Share this:

Bulan Kesehatan Mental: Tulisan untuk Diri Sendiri

Layanan blogging Tumblr merayakan bulan kesehatan mental ini dengan mengadakan aksi Post it Forward, berbagi konten blog yang membantu meningkatkan kesadaran orang terhadap kesadaran mental. Minggu pertama diisi dengan konten yang menceritakan bagaimana kita menjaga kesehatan mental.

Agak terlambat, tapi aku mau ikut berbagi di sini.

Foto: Milo
Sekilas tampak tidak ada hubungannya tapi membuatku tersenyum, jadi relevan dengan kesehatan mental

Continue reading “Bulan Kesehatan Mental: Tulisan untuk Diri Sendiri”

Share this:

Latihan Tidak Berpikir (1b) Tiga Bonnou Dasar Manusia: Amarah, Hasrat, dan Kebimbangan

Terjemahan dari buku Kangaenai Renshuu oleh Koike Ryuunosuke.

Latihan Tidak Berpikir: Pengantar

Latihan Tidak Berpikir (1a) Mengurung Diri dalam Pikiran Menurunkan Daya Konsentrasi

 

Bab 1 Penyakit Bernama Pikiran

Orang Menjadi “Tidak Acuh” karena Berpikir

1.b.  Tiga Bonnou Dasar Manusia: Amarah, Hasrat, dan Kebimbangan

Continue reading “Latihan Tidak Berpikir (1b) Tiga Bonnou Dasar Manusia: Amarah, Hasrat, dan Kebimbangan”

Share this:

Tantangan Pertama Tahun 2017

2017! Yeeey!

Biasanya saya tidak terlalu peduli dengan tahun baru. Jarang merayakan pergantian tahun dengan main di luar atau menonton acara spesial di TV. Kali ini pun sama. 31 Desember 2016 saya tidur pukul 9 malam (gasik pol), bangun pukul 3 dini hari tanggal 1 Januari 2017 (tubuh saya cuma bisa tidur 5-6 jam tiap kali, lebih dari itu otomatis bangun). Sekilas tidak jauh beda dengan biasanya.

Hanya saja kali ini ada perbedaan. Bedanya ada di cara saya memaknai pergantian tahun dan 365 hari baru yang akan saya jalani (bila Tuhan memberkahi). Tahun 2015 saya mulai sadar akan banyak hal dan lebih banyak belajar tentang hidup. Tahun 2016 juga terus belajar dan hasilnya sekarang saya merasa lebih positif dalam menjalani hidup, atau setidaknya bisa lebih cepat kembali positif ketika jatuh ke lubang negativitas.

Biasanya saya berpikir, “Ngapain bikin resolusi tahun baru, paling di tengah-tengah udah buyar”. Dulu saya menganggap diri saya manusia gagal yang tidak bisa melakukan apapun secara konsisten. Ternyata saya bisa, jadi saya ingin kembali menantang diri saya tahun ini dengan target kecil-kecilan.

It’s time to address the elephant in the room, menghadapi salah satu permasalahan dalam diri saya: kurangnya kemampuan konsentrasi karena refleks saya dalam menghadapi rasa sakit dan pikiran lainnya.

Continue reading “Tantangan Pertama Tahun 2017”

Share this:

Latihan Tidak Berpikir (1a) Mengurung Diri dalam Pikiran Menurunkan Daya Konsentrasi

Terjemahan dari buku Kangaenai Renshuu oleh Koike Ryuunosuke.

Latihan Tidak Berpikir: Pengantar

Bab 1 Penyakit Bernama Pikiran

Orang Menjadi “Tidak Acuh” karena Berpikir

img_20161231_153313_hdr

1. a. Mengurung Diri dalam Kepala Menurunkan Daya Konsentrasi

Continue reading “Latihan Tidak Berpikir (1a) Mengurung Diri dalam Pikiran Menurunkan Daya Konsentrasi”

Share this: