Gadis Kunang-Kunang

Aku tak bermaksud mengintip, sungguh. Aku hanya sedang duduk di bangku taman ini, sudah sejak sejam yang lalu, dan ketika seorang wanita muda berjalan mendekat, menundukkan kepala ke arahku, aku mengangguk dan membiarkan wanita itu mengambil tempat kosong di sebelahku. Beberapa saat berlalu dan kami sibuk dengan kegiatan masing-masing; aku dengan mengamati burung-burung di atas pohon seberang, wanita itu… entah dengan apa, aku tidak tahu. Aku tidak melihat dan tidak ada niat untuk mencampuri urusan orang.

Baru pada saat aku melihat seekor burung merpati di atas tanah, menapak mendekat ke arah bangku, aku memutar badan untuk meraih tas yang tergeletak di sampingku, hendak mengambil sebungkus roti yang tadi ku beli di minimarket. Ketika itulah aku melihat apa yang dilakukan wanita itu, benda yang berada di pangkuannya.

Continue reading “Gadis Kunang-Kunang”

Share this:

Sandiwara

Ketika tangan itu menyentuh pipi kirinya, Ratna merasakan sengatan yang menjalar dengan cepat ke sekujur tubuhnya, membuat dadanya bergetar. Sejak itu, segalanya jadi terasa lebih jelas. Betapa tangan yang kasar itu membelai tubuhnya dengan lembut. Bagaimana aroma rempah dari tubuhnya sendiri bercampur dengan aromanya. Ia akhirnya dapat melihat, setelah bertahun-tahun, bahwa ada luka kecil di sisi kiri wajah orang itu, tepat di sebelah daun telinga. Ia juga akhirnya tahu bahwa pertemuan antara bibir, lidah, dan air liur dari dua orang dapat menghasilkan rasa yang begitu manis. Sungguh tidak disangka.

Dengan panca indera yang menjadi begitu peka, Ratna merasa penuh sekaligus lapang. Sensasi yang aneh. Mungkinkah ini yang dirasakan para pria dan wanita di pesta-pesta istana. Mungkin ini yang dinamakan mabuk.

Kalau iya, aku tidak keberatan mabuk selamanya, begitu pikir Ratna.

Tetapi pikiran itu langsung terhapus dari kepala Ratna ketika orang itu meninggalkan lehernya dan muncul sekilas di hadapan Ratna. Hanya sejenak sebelum wajah itu kembali menghilang, kali ini menelusuri dada dan perut Ratna. Dalam waktu yang sedikit itu Ratna terlanjur melihat.

Continue reading “Sandiwara”

Share this:

Berlari

Aku berlari dan berlari, tapi tetap tak bisa lari darinya.

Beberapa bulan ini aku rutin lari pagi. Waktu pelajaran olahraga di SMA, aku payah dalam berlari. Pokoknya bukan tipe yang aktif. Tapi 6 tahun kemudian, aku bisa lari selama satu jam dan merasa masih kurang. Aneh ya.

Dulu aku benci kotor, berbasah-basah. Sekarang aku suka bermandikan keringat. Dulu aku malas sekali pergi ke luar. Sekarang aku masih suka berdiam di kamar, tapi juga suka keluar pagi-pagi dan berlari. Manusia itu bisa juga berubah ya. Wajar sih.

Tapi…

Aku berlari dan berlari, tapi ada satu yang tak berubah. Selalu ada ke mana pun aku pergi, selalu nampak tanpa perlu melihat cermin. Tak bisa lari, tak peduli apapun yang kulakukan.

Karena tak seharusnya aku lari darinya. Harusnya ku peluk dan ku rengkuh, seperti matahari memeluk gunung ini dengan sinarnya yang lembut.

Share this:

[Fiksi] Anting

Mata Santi sedikit terbelalak, terpaku pada telinga kiri anak gadisnya. Kemudian pandangannya bergerak menuju telinga kanan, sebelum akhirnya menyipit.

“Nit, antingmu mana?”

Nita sang putri, yang sedari tadi asyik dengan buku di pangkuannya, mendongak untuk menatap ibunya.

“Lupa, Bu,” jawabnya santai, membuat sang ibu geleng-geleng kepala.

“Perempuan ya pakai anting to, nduk.”

Anaknya hanya menyahut “Iya, Bu…” lalu kembali menghadap bukunya.

 

**

Santi mengamati anak gadisnya yang sedang duduk di seberang meja. Rasanya ada yang aneh. Ada yang kurang. Santi tidak tahu apa.

Temen-temen sudah oke. Aku mau coba usaha ini dulu.” Santi mendengar suara Nita berkata.

“Nanti disuruh kumpul saja di rumah. Bapak ajarin prosedur buat badan hukumnya.” Kali ini suara bapaknya Nita.

Suara-suara itu membuat perhatian Santi teralihkan.

Ndak jadi ngelamar ke yang di Surabaya itu to, nduk?” ujar Santi, membuat anak dan suaminya menoleh. “Kan nilai-nilaimu bagus. Punya sertifikat bahasa asing juga. Pasti diterima.”

“Bukan pekerjaan yang pingin aku tekuni, Bu.”

Lha tapi kan enak.”

Nita terdiam sejenak sebelum menjawab, “Enak buat siapa? Ibu atau aku?”

Santi tidak menjawab.

Ketika mereka selesai makan dan berjalan keluar restoran, Santi melihat sosok Nita dari samping dan akhirnya sadar. Nita tidak pakai anting.

Continue reading “[Fiksi] Anting”

Share this: