(Fiksi) Dari Perut Naik ke Hati

Saat aku masuk ke relax room, Dicky sudah on the way menyantap makan siangnya. Dia bawa bekal di tupperware kotak seukuran roti tawar. Aku bawa nasi bungkus dari rames seberang kantor.

Karena di mulut Dicky sudah ada makanan—begitu banyak sampai pipinya menggembung, seperti hamster yang lagi nyetok biji—dia cuma melirik dan mengangguk selagi aku mendaratkan pantat ke kursi. Sambil tersenyum, aku melepas steples dari kertas coklat bungkusanku.

“Ehem, yang dimasakin yayangnya nih,” godaku sambil menyendok sejumput nasi plus sayur tauge.

Continue reading “(Fiksi) Dari Perut Naik ke Hati”

Share this:

Gadis Kunang-Kunang

Aku tak bermaksud mengintip, sungguh. Aku hanya sedang duduk di bangku taman ini, sudah sejak sejam yang lalu, dan ketika seorang wanita muda berjalan mendekat, menundukkan kepala ke arahku, aku mengangguk dan membiarkan wanita itu mengambil tempat kosong di sebelahku. Beberapa saat berlalu dan kami sibuk dengan kegiatan masing-masing; aku dengan mengamati burung-burung di atas pohon seberang, wanita itu… entah dengan apa, aku tidak tahu. Aku tidak melihat dan tidak ada niat untuk mencampuri urusan orang.

Baru pada saat aku melihat seekor burung merpati di atas tanah, menapak mendekat ke arah bangku, aku memutar badan untuk meraih tas yang tergeletak di sampingku, hendak mengambil sebungkus roti yang tadi ku beli di minimarket. Ketika itulah aku melihat apa yang dilakukan wanita itu, benda yang berada di pangkuannya.

Continue reading “Gadis Kunang-Kunang”

Share this:

Sandiwara

Ketika tangan itu menyentuh pipi kirinya, Ratna merasakan sengatan yang menjalar dengan cepat ke sekujur tubuhnya, membuat dadanya bergetar. Sejak itu, segalanya jadi terasa lebih jelas. Betapa tangan yang kasar itu membelai tubuhnya dengan lembut. Bagaimana aroma rempah dari tubuhnya sendiri bercampur dengan aromanya. Ia akhirnya dapat melihat, setelah bertahun-tahun, bahwa ada luka kecil di sisi kiri wajah orang itu, tepat di sebelah daun telinga. Ia juga akhirnya tahu bahwa pertemuan antara bibir, lidah, dan air liur dari dua orang dapat menghasilkan rasa yang begitu manis. Sungguh tidak disangka.

Dengan panca indera yang menjadi begitu peka, Ratna merasa penuh sekaligus lapang. Sensasi yang aneh. Mungkinkah ini yang dirasakan para pria dan wanita di pesta-pesta istana. Mungkin ini yang dinamakan mabuk.

Kalau iya, aku tidak keberatan mabuk selamanya, begitu pikir Ratna.

Tetapi pikiran itu langsung terhapus dari kepala Ratna ketika orang itu meninggalkan lehernya dan muncul sekilas di hadapan Ratna. Hanya sejenak sebelum wajah itu kembali menghilang, kali ini menelusuri dada dan perut Ratna. Dalam waktu yang sedikit itu Ratna terlanjur melihat.

Continue reading “Sandiwara”

Share this: