Mengenang Tumbuhnya Bibit Cinta: Dari Pacar Keling Hingga Kusuma Bangsa

Lika-liku kisah cinta saya dengan olahraga, khususnya lari, sudah pernah saya ceritakan sedikit. Memang dulu zaman SMA saya belum jatuh hati pada kegiatan lari, tapi setelah diingat-ingat, waktu itu sudah ada bibitnya.

Saya versi SMA suka menggerakkan kaki lebih daripada orang kebanyakan.

Selama tiga tahun saya berangkat dan pulang sekolah naik bemo (angkotnya Surabaya). Belum jam setengah enam, saya sudah stand by dalam keremangan menunggu bemo T2.

Tampak dalam bemo T2. Biasanya ada stiker “Mau turun kampus C, bilang sopir”. Luarnya warna coklat ke arah krem.

Continue reading “Mengenang Tumbuhnya Bibit Cinta: Dari Pacar Keling Hingga Kusuma Bangsa”

Share this:

Melangkah, Tersenyum, Menyapa

Jalanan di Jogja penuh dengan senyum. Selama enam tahun tinggal di sana, saya biasa jalan kaki ke mana-mana. Sambil jalan menganggukkan kepala dan tersenyum. Ke pak becak yang ngetem di depan gang. Ibu-ibu yang nyapu jalan depan rumah. Pak sekuriti IONs. Wajah-wajah familiar yang saya tak kenal namanya.

Di saat gelisah memuncak. Ketika otak saya membuat segalanya rumit dan malah menganggap orang-orang terdekat sebagai beban. Merekalah penyelamat saya.

Enam bulan di Jakarta, saya sempat merasa kehilangan itu. Ke kantor jalan kaki sekitar 1,5 km. Dua puluh menitan. Ada wajah-wajah yang melekat di ingatan saking seringnya berpapasan. Hampir tak pernah kami bertukar sapa.

Tapi ini bukan salah ibu kota.

Continue reading “Melangkah, Tersenyum, Menyapa”

Share this:

Menerima Rasa Sakit: Renungan Pasca-operasi Gigi

Dua minggu lalu saya operasi gigi geraham bungsu (odontektomi). Sebenarnya tidak ada keluhan. Gara-gara ada tiga orang teman yang cerita masalah giginya, saya jadi parno dan minta gigi saya  dironsen. Ketahuan, semua gigi bungsu saya tidak tumbuh sempurna dan posisinya miring. Kalau tidak dicabut, bisa nabrak dan merusak gigi lain.

Imajinasi yang aktif membuat saya membayangkan yang tidak-tidak soal operasi. Cuma imajinasi soal apa terjadi kalau tidak operasi jauh lebih kuat. Akhirnya saya beranikan operasi satu gigi dulu.

Operasinya jam 10 pagi. Sekitar jam setengah dua sudah sampai kantor. Kerja sampai sore. Pulangnya saya baru merasa bingung.

Gigi yang diambil lokasinya di dekat syaraf. Dokter sudah menjelaskan sebelum operasi bahwa ada efek yaitu baal (seperti kebas) dan liur yang terus mengalir. Benar saja. Hari itu liur keluar tanpa henti. Ditelan saja liurnya, toh liur sendiri, kata dokter.

Entah kenapa, tiap menelan tenggorokan saya terasa sakit. Padahal yang diubek-ubek waktu operasi itu rahangnya. Paniklah saya. Menelan ludah sendiri saja sakit. Minum air dan susu pun harus dipaksa, demi mengisi energi dan minum antibiotik. Malam itu saya menangis. Lebay memang.

Dalam kondisi seperti itu, saya kirim pesan ke bapak saya. “Bapak, caranya ngadepin rasa nggak nyaman itu gimana ya.” Itu yang pertama saya sampaikan, karena saya sudah tahu. Rasa sakit ini tidak perlu ditolak. Yang ada malah tambah tidak nyaman. Cara terbaik untuk menghadapinya adalah menerimanya apa adanya.

Continue reading “Menerima Rasa Sakit: Renungan Pasca-operasi Gigi”

Share this:

Perkenalkan Anakku Vera

Sebenarnya sudah cukup terbiasa merawat makhluk hidup. Selama 17 tahun hidup di rumah orang tua sudah pernah pelihara empat kelinci dan dua anjing. Meski tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas mereka (duit makan dan vaksin = dompet orang tua), setidaknya sudah berpartisipasi aktif memberi makan/minum, memandikan, dsb. Peduli ketika lihat tempat minum mereka kotor dan kosong, bertindak segera untuk memastikan kesejahteraan mereka. Bukan sekadar “Aaa lucunya. Elus-elus. Peluk-peluk.”

Continue reading “Perkenalkan Anakku Vera”

Share this:

Renungan: Percakapan dengan Bapak

Ini minggu keenam saya sebagai pegawai kantoran, setelah 1,5 tahun menyokong diri sendiri sebagai full-time freelancer. Ternyata cepat juga menyesuaikan diri; kerjaan terasa menyenangkan, lingkungan oke, secara keseluruhan tidak ada kendala berarti.

Kerjaan freelance masih jalan. Kantor tidak melarang asal tidak mengganggu pekerjaan utama.  Supervisor saya sudah tahu kalau saya masih terima kerjaan sampingan. Tidak ada komplain.

Cuma akhir-akhir ini rasanya berat. Mungkin karena pas kondisi badan tidak fit. Batuk tanpa henti berhari-hari, badan pegal-pegal, lengan kanan entah kenapa sakit padahal tidak ada kejadian jatuh atau ketarik. Badan tidak sehat, jiwa ikut sakit.

Di saat-saat seperti ini teringat percakapan dengan Bapak.

“Aku nggak tahu bedanya. Apa aku mencoba melakukan sesuatu yang di luar batasku? Atau aku kurang mendorong diriku untuk mencapai yang terbaik yang bisa aku lakukan?”

Continue reading “Renungan: Percakapan dengan Bapak”

Share this: