Tips Cari Job Untuk Penerjemah/Interpreter Freelance

Saya mulai bekerja sebagai penerjemah/interpreter freelance sejak 2014. Bahasa asing yang saya tangani adalah Jepang dan Inggris. Beberapa pengalaman saya bisa dilihat di Portofolio dan Linkedin.

Pengalaman saya mungkin belum terlalu banyak dibandingkan dengan para penerjemah senior, tapi saya coba mengambil pelajaran yang bisa didapat dan berbagi dalam 3 tips ini.

 

Continue reading “Tips Cari Job Untuk Penerjemah/Interpreter Freelance”

Share this:

(Fiksi) Dari Perut Naik ke Hati

Saat aku masuk ke relax room, Dicky sudah on the way menyantap makan siangnya. Dia bawa bekal di tupperware kotak seukuran roti tawar. Aku bawa nasi bungkus dari rames seberang kantor.

Karena di mulut Dicky sudah ada makanan—begitu banyak sampai pipinya menggembung, seperti hamster yang lagi nyetok biji—dia cuma melirik dan mengangguk selagi aku mendaratkan pantat ke kursi. Sambil tersenyum, aku melepas steples dari kertas coklat bungkusanku.

“Ehem, yang dimasakin yayangnya nih,” godaku sambil menyendok sejumput nasi plus sayur tauge.

Continue reading “(Fiksi) Dari Perut Naik ke Hati”

Share this:

Mengenang Tumbuhnya Bibit Cinta: Dari Pacar Keling Hingga Kusuma Bangsa

Lika-liku kisah cinta saya dengan olahraga, khususnya lari, sudah pernah saya ceritakan sedikit. Memang dulu zaman SMA saya belum jatuh hati pada kegiatan lari, tapi setelah diingat-ingat, waktu itu sudah ada bibitnya.

Saya versi SMA suka menggerakkan kaki lebih daripada orang kebanyakan.

Selama tiga tahun saya berangkat dan pulang sekolah naik bemo (angkotnya Surabaya). Belum jam setengah enam, saya sudah stand by dalam keremangan menunggu bemo T2.

Tampak dalam bemo T2. Biasanya ada stiker “Mau turun kampus C, bilang sopir”. Luarnya warna coklat ke arah krem.

Continue reading “Mengenang Tumbuhnya Bibit Cinta: Dari Pacar Keling Hingga Kusuma Bangsa”

Share this:

Melangkah, Tersenyum, Menyapa

Jalanan di Jogja penuh dengan senyum. Selama enam tahun tinggal di sana, saya biasa jalan kaki ke mana-mana. Sambil jalan menganggukkan kepala dan tersenyum. Ke pak becak yang ngetem di depan gang. Ibu-ibu yang nyapu jalan depan rumah. Pak sekuriti IONs. Wajah-wajah familiar yang saya tak kenal namanya.

Di saat gelisah memuncak. Ketika otak saya membuat segalanya rumit dan malah menganggap orang-orang terdekat sebagai beban. Merekalah penyelamat saya.

Enam bulan di Jakarta, saya sempat merasa kehilangan itu. Ke kantor jalan kaki sekitar 1,5 km. Dua puluh menitan. Ada wajah-wajah yang melekat di ingatan saking seringnya berpapasan. Hampir tak pernah kami bertukar sapa.

Tapi ini bukan salah ibu kota.

Continue reading “Melangkah, Tersenyum, Menyapa”

Share this:

Menerima Rasa Sakit: Renungan Pasca-operasi Gigi

Dua minggu lalu saya operasi gigi geraham bungsu (odontektomi). Sebenarnya tidak ada keluhan. Gara-gara ada tiga orang teman yang cerita masalah giginya, saya jadi parno dan minta gigi saya  dironsen. Ketahuan, semua gigi bungsu saya tidak tumbuh sempurna dan posisinya miring. Kalau tidak dicabut, bisa nabrak dan merusak gigi lain.

Imajinasi yang aktif membuat saya membayangkan yang tidak-tidak soal operasi. Cuma imajinasi soal apa terjadi kalau tidak operasi jauh lebih kuat. Akhirnya saya beranikan operasi satu gigi dulu.

Operasinya jam 10 pagi. Sekitar jam setengah dua sudah sampai kantor. Kerja sampai sore. Pulangnya saya baru merasa bingung.

Gigi yang diambil lokasinya di dekat syaraf. Dokter sudah menjelaskan sebelum operasi bahwa ada efek yaitu baal (seperti kebas) dan liur yang terus mengalir. Benar saja. Hari itu liur keluar tanpa henti. Ditelan saja liurnya, toh liur sendiri, kata dokter.

Entah kenapa, tiap menelan tenggorokan saya terasa sakit. Padahal yang diubek-ubek waktu operasi itu rahangnya. Paniklah saya. Menelan ludah sendiri saja sakit. Minum air dan susu pun harus dipaksa, demi mengisi energi dan minum antibiotik. Malam itu saya menangis. Lebay memang.

Dalam kondisi seperti itu, saya kirim pesan ke bapak saya. “Bapak, caranya ngadepin rasa nggak nyaman itu gimana ya.” Itu yang pertama saya sampaikan, karena saya sudah tahu. Rasa sakit ini tidak perlu ditolak. Yang ada malah tambah tidak nyaman. Cara terbaik untuk menghadapinya adalah menerimanya apa adanya.

Continue reading “Menerima Rasa Sakit: Renungan Pasca-operasi Gigi”

Share this: