Halo Tahun 2021

Tanggal 30 Desember tahun 2020, saya pergi ke psikolog untuk konseling. Harusnya jadwal konselingnya dua minggu sebelum itu, tapi saya merasa kerjaan lagi nggak bisa ditinggal dan memutuskan untuk menunda.

Di sesi terakhir tahun 2020, kami sempat membahas target masa depan. Waktu itu saya kondisinya tidak down, sudah sekitar sebulan tidak mengalami episode depresi yang sampai lumpuh tidak bisa ngapa-ngapain. Meski begitu, rasanya masih susah memikirkan target ke depan. Seperti ada tirai gelap dengan sedikit jarak dari mata, yang kelihatan cuma sekitaran saya saja. Noleh ke belakang kelihatan gelap, ke depan ya sama saja.

Hari itu tidak terlihat yang namanya harapan.

Keesokan harinya, di hari terakhir tahun 2020, entah kenapa saya merasa lebih positif. Mungkin 70% optimis, 30% pesimis. Begitu sadar dengan perasaan ini, saya langsung bertindak. Pergi ke toko buku untuk mencari notebook baru untuk melengkapi notebook yang sudah saya punya.

Jurnal target, jurnal kesehatan mental, jurnal latihan bass

Pulang dari toko buku, saya tulis target-target saya untuk tahun 2021. Mulai dari target kesehatan fisik dan mental, karier, hingga pengembangan diri. Ada rasa takut membayangi dari 30% pesimis, katanya gimana kalau target-targetnya tidak tercapai, gimana kalau sakit lagi. Saya biarkan saja dulu rasa takut itu berbicara sambil terus menulis target-target tahun baru.

Sampai sekarang di hari ketiga tahun 2021, rasanya “harapan” masih agak jauh dari jangkauan. Tapi setidaknya saya masih punya “daya juang,” meski baru sebatas untuk bertahan hidup. Mungkin kalau saya terus berjuang, lama-lama harapan akan terkumpul dan memberi tambahan daya juang untuk melakukan yang lebih.

Share this:

Tinggalkan Balasan