Yang Saya Rasakan Ketika Depresi

Sudah beberapa kali saya menulis pengalaman saya menghadapi penyakit depresi. Sekilas tentang pikiran-pikiran bunuh diri yang saya miliki, serta apa yang saya lakukan ketika pikiran-pikiran itu begitu lantang dan mengganggu aktivitas saya sehari-hari.

Waktu pertama kali menulis pengalaman saya di blog, orang-orang di sekitar saya merespon dengan memberikan dukungan. Cuma yang menarik, ada beberapa kenalan yang mengungkapkan rasa kaget mereka. Mereka bilang, “Nggak nyangka kamu depresi.”

Wajar mereka tidak tahu. Karena dulu saya memang tidak pernah cerita. Apalagi saya juga pada umumnya terlihat baik-baik saja. Bisa kuliah/kerja. Bisa berinteraksi dengan orang lain. Bukan yang setiap saat kelihatan murung atau tiba-tiba menghilang berhari-hari. Ternyata memang ada tipe depresi yang seperti itu. Secara umum terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya merasakan sakit.

Ini ada video sekitar 10 menit yang bisa menggambarkan apa yang saya rasakan selama ini. Sebelumnya saya mau sampaikan, saya belum pernah didiagnosa mengidap “High Functioning Depression / Persistent Depressive Disorder” yang dibahas di video ini. Diagnosa saya dua tahun lalu adalah mild depression. Tahun ini saya konseling dengan psikolog, tapi kami tidak membahas label untuk penyakit saya. Saya tidak mendukung self diagnose jadi saya tidak mau melabeli diri dengan tipe depresi ini kecuali ada diagnosa dari psikolog atau psikiater. Di sini saya cuma mau memberikan gambaran karena gejala-gejala yang dibahas di video ini sama seperti yang saya rasakan.

Seperti yang dibahas di video tersebut, saya merasakan gejala seperti kesulitan melakukan kegiatan-kegiatan yang mungkin biasa saja bagi orang lain. Kalau saya merasakan gejala ini pada hari kerja, khususnya di saat WFH ini, saya bisa bangun sebelum jam kerja, sarapan, nyalakan PC kerja dan absen. Tapi biasanya butuh waktu untuk bangkit dari kasur. Olahraga singkat dan jalan pagi yang selalu saya jadwalkan sebelum jam kerja pun jadi terbengkalai. Makan sih bisa karena mungkin alam bawah sadar saya tahu saya nggak kuat kalau makan telat, apalagi harus kerja dengan perut kosong. Tapi karena kerja di rumah, bisa aja nggak mandi. Kerja pun tidak maksimal, cuma bisa mengerjakan tugas-tugas yang memang urgent hari itu. Tugas yang tidak kalah penting tapi sifatnya tidak mendesak biasanya terabaikan, waktu kerja malah banyak terisi dengan bengong.

Waktu akhir pekan lebih parah. Karena tidak ada kewajiban untuk kerja, saya cenderung kalah dengan rasa hampa. Mata sudah melek, tapi nggak bangkit dari kasur. Mulut kering minta cairan, tapi ambil air putih di dekat kasur saja tidak sanggup. Ya sebenarnya sanggup secara fisik, tapi pikiran bilang nggak ada gunanya. Makan sekenanya dan terpaksa karena perut menjerit perih (di saat sehat saya memang terbiasa makan 3x sehari, jadi tubuh saya tidak tahan kalau skip jam makan).

Seharian penuh berbaring di kasur, balik tidur lagi. Kalau toh bangun, paling pol cuma bisa main hape browsing idol favorit. Itu pun nggak sepenuhnya enjoy. Kadang bisa ketawa lihat tingkah idol yang lucu, tapi sedetik kemudian merasa hampa lagi. Bahkan bisa merasa semakin payah saat lihat idol yang menunjukkan daya juangnya. Kan banyak tuh cerita idol-idol yang gigih menghadapi kerasnya dunia hiburan. Kalau kondisi mental sehat ya bisa saja melihat cerita itu sebagai inspirasi dan dorongan untuk memperbaiki diri sendiri. Tapi di kondisi sakit saya malah merasa ditampar melihat mereka. Saya malah merasa semakin nggak bernilai, bukannya termotivasi.

Susah melakukan hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur dan minum air putih. Padahal itu cuma rutinitas biasa kan? Dan memang perlu kan? Tapi di saat sakit saya merasa semua itu nggak ada gunanya, termasuk hal-hal yang biasanya saya nikmati. Misalnya, tiap hari saya mengisi kesibukan dengan menulis fiksi, menonton drama, belajar bahasa, dan sebagainya. Tapi di saat sakit semua hal di dunia ini terasa nggak bermakna, jadi hobi dan minat saya pun terasa tidak menarik lagi.

Setelah masa “turun”nya lewat, ketika saya tidak lagi merasa hopeless atau dipenuhi pikiran bunuh diri, itu pun saya tidak bisa langsung merasa sehat. Butuh banyak energi untuk menjalani kegiatan sehari-hari sambil menghadapi gejala-gejala tadi, jadi setelahnya saya bisa merasa lemas dan mungkin belum bisa melakukan aktivitas sebanyak biasanya.

Belum lagi rasa malu dan payah yang kadang membekas karena melalui hari-hari buruk itu sambil minta tolong ke banyak orang. Secara logika saya paham kalau saya butuh bantuan dan memang sepantasnya minta tolong. Saya juga tahu bahwa meminta tolong itu tidak hanya demi saya sendiri, tapi juga orang-orang yang peduli dengan saya, dan mungkin juga orang-orang yang mengalami hal serupa dan bisa saya bantu jika saya bertahan hidup. Tapi ini tidak bisa menghentikan hati saya untuk merasa ciut, untuk berpikir, “Ah, jangan-jangan saya ini cuma males aja. Terlalu lebay. Ngapain ngumbar-ngumbar masalah, cerita-cerita dan bikin orang lain jadi muram.” Ya, sampai sekarang masih ada suara kecil di kepala saya yang bilang begitu.

Selain perasaan payah, after effect lainnya adalah rasa takut dan lelah. Takut hari-hari yang buruk ini akan datang lagi. Lelah membayangkan harus melaluinya lagi. Biasanya saya bisa bilang ke diri saya sendiri, “Ya sudah, dihadapi saja. Yang penting jalani sekarang dulu. Nggak usah mikir yang nanti-nanti.” Kadang saya berpikir, mau sampai kapan ya seperti ini, sampai kapan saya sanggup.

Saya nggak tahu jawaban untuk pertanyaan saya di atas. Tapi yang jelas sekarang saya berusaha dulu. Namanya juga hidup kan? Ada banyak hal yang nggak bakalan tahu kalau nggak dicoba.

Saya mau hidup.

Share this:

Tinggalkan Balasan