Belajar Mendengarkan

Pernah nggak lagi curhat ke temen terus direspon dengan kata-kata semacam “Halah, gitu aja kok galau. Aku nih lebih parah…..” bla bla bla. Males banget ya pasti. Lagi kesal/marah/sedih/kecewa dan mau meluapkan perasaan supaya bisa lega dan move on, tapi malah dikasih kata-kata yang meremehkan perasaan kita. Bahkan curhatan kita malah dijadikan ajang untuk kompetisi “siapa yang paling menderita.”

Ada banyak orang yang suka berbicara tapi jarang mendengarkan dengan baik. Saya sendiri juga belum ahli dalam mendengarkan orang lain. Biasanya saya cenderung menanggapi curhatan teman dengan “saran” atau “nasihat” yang sebenarnya tidak dibutuhkan, seenggaknya tidak dibutuhkan pas di saat sesi curhat itu.

Sudah cukup lama saya menyadari kekurangan saya ini. Cuma memperbaikinya susah sekali. Mungkin erat kaitannya dengan karakter saya yang tidak sabaran, maunya langsung menindaklanjuti segala sesuatu sesegera mungkin. Jadinya tiap mendengar curahatan teman, bawaannya pingin mendorong teman itu untuk melakukan sesuatu terhadap masalah yang dia ceritakan.

Mungkin ada yang berpikir, kalau ada masalah ya wajar kan mikirin solusinya. Iya itu memang benar, tapi tergantung konteksnya. Biasanya orang curhat itu sedang dipenuhi emosi. Mereka butuh bantuan untuk menyalurkan emosinya, supaya kepalanya bisa berpikir jernih setelahnya. Dengan terburu-buru memberi saran solusi, saya tidak memberi teman-teman saya ruang untuk memproses emosinya.

Sering saya “keceplosan” ngasih saran saat teman saya curhat, saking sudah terbiasa. Rasanya nggak enak, ada rasa bersalah terhadap teman-teman. Kerasa banget kalau mereka bukannya jadi lega tapi malah perasaannya makin nggak enak.

Sejak berusaha belajar, saya mulai sedikit demi sedikit berubah. Yang saya tekankan adalah berusaha merespon dengan mengulangi apa yang teman saya ceritakan dengan kata-kata saya sendiri. Tambahkan juga parafrase itu dengan kata-kata yang memvalidasi perasaan mereka.

Misalnya teman saya curhat tentang rekan-rekan kerjanya yang sering tidak mengikuti instruksi teman saya (yang sudah disusun susah payah supaya kerjaan on schedule) dan ngasih info dadakan kalau ada perubahan (yang biasanya disebabkan oleh kelalaian mereka sendiri). Biasanya insting pertama saya adalah memberikan saran untuk membuat komunikasi teman saya dan rekan kerjanya lebih lancar, usulan sistem yang mungkin bisa membantu mereka kerjanya lebih teratur. Tapi saya tahan dorongan “ceramah” ini dan membalas dengan “Wah, ngeselin ya, udah susah-susah nyiapin dari jauh-jauh hari tapi mereka malah dadakan.” Saya berusaha menunjukkan ke teman saya bahwa saya mendengarkan dengan mengulangi peristiwa yang diceritakan (dengan pemahaman dan kata-kata saya sendiri), lalu mengakui perasaan kesal teman saya dengan langsung mengatakan “Wah, ngeselin ya.”

Saya mulai melihat hasil dari usaha saya. Baru-baru ini ada dua teman yang curhat. Yang pertama merasa kesal karena pelakuan temannya. Saya coba dengarkan curhat dia sambil mempraktekkan poin-poin di atas. Akhirnya teman saya bilang “Makasih ya! Udah sedikit lebih lega.” Rasanya seneng banget denger kata-kata itu.

Teman yang kedua kasusnya agak berbeda. Dia secara eksplisit bilang di awal kalau dia butuh saran. Nah, di sini saya baru bisa pakai mode default saya yang sukanya ngasih saran. Karena sudah ada pemahaman yang sama bahwa ini bukan sekadar sesi meluapkan emosi, tapi juga waktu untuk membahas solusi masalah, saya bisa lebih leluasa mengungkapkan usulan saya, dan teman saya sepertinya juga sudah siap dengan pikiran yang cukup jernih untuk menerima saran. Di akhir obrolan teman saya pun bilang “Makasih ya. Akhirnya tercerahkan.”

Masih ada hal-hal yang bisa saya perbaiki dalam mendengarkan curhatan teman. Tapi setidaknya saya sudah punya “pengalaman sukses.” Setelah sekian lama merasa payah karena tidak bisa mendengarkan orang dengan baik, saya bisa melihat diri saya dengan lebih positif. Makin semangat buat belajar dan jadi lebih baik lagi.

Share this:

Tinggalkan Balasan