Melanjutkan Hidup Setelah Perpisahan Tanpa Selamat Tinggal

Kehilangan individu yang penting dalam hidup kita itu sudah cukup berat. Apalagi kehilangan mereka tanpa kesempatan mengucapkan selamat tinggal. Tahun 2020 saya mengalami kebrutalan ini dua kali.

Pertama waktu saya kehilangan teman selama 9 tahun karena pertengkaran. Sebelumnya kami sudah pernah bertengkar dengan alasan yang serupa. Saya pikir kali ini saya bisa jujur dengan perasaan saya, berargumen dengan baik-baik, dan setelah bertengkar hubungan kami bisa lebih kuat daripada sebelumnya. Ternyata bukan ini yang terjadi. Dia tidak lagi merespon komunikasi saya, istilahnya ghosting dalam bahasa Inggris,  dan saya dipaksa melepas sosoknya dari hidup saya begitu saja.

Yang kedua terjadi bulan ini ketika anjing keluarga saya meninggal. Mimi usianya 16 tahun, memang sudah sangat tua untuk ukuran anjing. Dia meninggal di rumah orang tua di Surabaya. Saya di Jakarta, tidak bisa pulang karena pekerjaan dan pandemi. Jadi saya harus berpisah dari keluarga yang sudah bersama saya sejak saya usia 10 tahun, tapi tidak bisa ikut mengantar saat-saat terakhirnya. Cuma bisa menyaksikan dari video yang dikirim ibu saya lewat WA.

Kalau sakitnya seperti ini, mungkin ada yang berpikir untuk lupakan saja semua. Move on supaya lepas dari derita ini. Tapi mana saya bisa? Sama seperti pembicara di video TED Talk ini.

Banyak poin yang saya setujui dari video di atas. Memang nggak mungkin melupakan sakit ini. Mana mungkin. Kehilangan teman selama 9 tahun dan keluarga selama 15 tahun, tanpa kesempatan mengucapkan selamat tinggal, itu bukan pengalaman yang bisa ditinggalkan di masa lalu begitu saja.

Lagipula saya nggak menyesal sudah mengenal Mimi. Dia keluarga yang sudah memberi banyak kebahagian untuk saya. Ya mungkin saya sedikit menyesal membuka hati saya kepada teman saya, tapi seenggaknya sama seperti Mimi, pengalaman dengan (mantan) teman saya turun berperan dalam membentuk diri saya. Harapannya dengan ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa disayangi oleh teman dan keluarga baru di masa depan.

Bukan move on (pergi) dari kesedihan, tapi move foward (maju) bersama kesedihan.

Sekarang saya belum bisa sepenuhnya move forward, tapi pasti ada saatnya nanti. Kalau terus lanjutkan hidup, pasti nanti terjadi juga kan?

Share this:

2 thoughts on “Melanjutkan Hidup Setelah Perpisahan Tanpa Selamat Tinggal

Tinggalkan Balasan