Pengalaman Konseling dengan Psikolog Puskesmas

Saya berkutat dengan isu kesehatan mental bukan cuma setahun dua tahun belakangan. Sudah dari zaman masih pakai seragam putih abu-abu dan masih berlanjut sampai sekarang di paruh akhir usia kepala dua.

Jadi sebenarnya saya sudah berpengalaman dan mampu menghadapi, apalagi sejak tahun 2015 sudah belajar caranya minta bantuan. Cuma kadang-kadang perjuangan ini terasa berat banget karena satu hal.

Saya sudah tahu caranya minta tolong. Lumayan rajin dan inisiatif juga berhubungan dengan orang-orang sekitar. Sekarang saya punya beberapa teman dan keluarga yang bisa saya tuju ketika butuh bantuan.

Tapi ada saatnya ketika saya nggak bisa minta tolong. Bukan karena nggak tahu caranya, bukan karena nggak ada orang yang bisa dimintai tolong. Di saat seperti ini saya memang nggak bisa karena sudah begitu parah, sampai-sampai yakin dengan pikiran-pikiran yang bilang kalau nggak ada jalan keluar, percuma cerita ke orang lain, pokoknya mau ngapain aja sia-sia.

Saya nggak tahu orang lain mengalami perasaan putus asa ini seperti apa. Mungkin seperti berjalan terus di lorong gelap tak berujung, tenggelam di air dan meronta-ronta untuk mencapai permukaan tapi nggak bisa, atau lainnya. Bagi saya rasanya seperti punya mata yang bisa melihat, lidah yang bisa merasa, semua panca indera lengkap dan sehat, tapi nggak bisa merasakan apa pun yang ada di dunia luar. Yang ada cuma terkurung di dunia dalam kepala bersama rasa sakit yang terus mengikuti, satu pemandangan yang nggak bisa hilang meskipun mengalihkan pandangan, satu pikiran sama yang berulang-ulang: udah capek, mau selesai aja.

Akhir-akhir ini saya merasakan hal itu. Entah sudah berapa lama, mungkin berawal dari akhir Maret ketika mulai WFH. Tapi paling parah seminggu belakangan ketika saya menarik diri dari orang-orang sekitar. Biasanya saya aktif menghubungi teman-teman dan merespon mereka. Cuma waktu kondisi parah ini saya merasa takut? Beban? Sakit? Entah apa sebenarnya, pokoknya saya jadi malah mengurangi kontak. Bahkan repot-repot bikin akun chat yang khusus buat kerja supaya nggak buka yang ada chat pribadinya.

Sambil menutup diri seperti itu, saya nggak bisa cerita ke siapa-siapa soal rasa sakit yang saya alami. Kerja pun nggak bisa, dan akhirnya sampai tahap cari-cari cara buat mengakhiri sakit bersama dengan nyawa.

Tapi karena saya sebenarnya orang yang naluri bertahan hidupnya lumayan tinggi (ini saya sadari sejak 2015), dan untungnya juga tipe yang selalu insiatif bertindak, saya nggak diem aja. Saya izin sebentar dari pekerjaan untuk ke puskesmas terdekat.

Setelah pindah ke Jakarta saya juga memindahkan faskes I BPJS saya dari area sesuai KTP (Sleman) ke Puskesmas Gambir yang dekat domisili sekarang. Waktu googling saya nggak nemu Puskesmas Gambir di daftar puskesmas yang menyediakan layanan psikolog. Saya pikir datang saja ke faskes I ini dan minta rekomendasi ke faskes yang ada psikolognya.

Ternyata satpam Puskesmas Gambir bilang kalau mereka bisa menyediakan psikolog. Saya ambil nomor antrian dan datang ke loket, lalu petugas bilang kalau mereka akan telponkan psikolognya. Setelah dikonfirm kalau psikolognya bisa, saya diminta menunggu beberapa menit.

Petugasnya dengan ramah menjelaskan kalau layanan psikolog ini tidak ditanggung oleh BPJS dan perlu membayar biaya Rp 30.000. Saya bilang nggak masalah. Dan ternyata setelah ketemu psikolognya saya diberi konseling selama dua jam. Biaya segitu untuk dua jam itu sekitar 5% dari biaya konseling dengan psikolog di biro swasta atau rumah sakit, jadi saya nggak merasa keberatan.

Di akhir sesi psikolognya bilang kalau dia nggak minta saya datang lagi dengan jadwal tertentu, kalau merasa butuh ya datang saja. Dia juga memberi “PR” terkait evaluasi diri yang bisa kami bahas di sesi selanjutnya, supaya ada perkembangan di tiap sesi. Btw saya nggak dikasih obat antidepresan atau semacamnya karena psikolog tidak bisa meresepkan obat. Yang bisa adalah psikiater yang punya pendidikan medis.

Berkat konseling ini saya merasa sangat terbantu. Saya tahu kalau saya nggak tiba-tiba sembuh hanya dengan sekali konseling. Di masa depan mungkin saya bisa “kumat” lagi. Tapi seenggaknya saya sudah ada pengalaman dan tahu kalau misalnya saya lagi mode menutup diri, saya bisa minta tolong ke psikolog.

Share this:

2 thoughts on “Pengalaman Konseling dengan Psikolog Puskesmas

  1. Katya-san,
    Berarti bisa ya tidak memakai bpjs/asuransi sekalipun untuk konsul?
    Terima kasih tulisannya, menambah pengetahuanku jadi punya alternatif lain.
    頑張って、せんせい! ♡

Tinggalkan Balasan