Belajar dari Subtitle: Macam-Macam “Otsukaresama” di Border Ep2

Saya sudah dengar soal drama Jepang berjudul “Border” ini sejak awal tayang di tahun 2014, tapi belum sempat nonton. Pemeran utamanya aktor Oguri Shun yang terkenal. Mungkin penggemar Jejepangan di Indonesia paling tahu dia dari drama komedi-romantis “Hana Yori Dango” alias “Boys Over Flowers” dan juga film aksi tentang berandalan sekolah berjudul “Crows Zero.”

Oguri Shun di gambar promosi “Border.” Sumber: tv-asahi.co.jp

“Border” menceritakan kisah Ishikawa Ango (Oguri Shun), detektif kepolisian yang bertugas menangani kasus pembunuhan. Suatu hari dia ditembak kriminal dan pelurunya nyangkut di dalam kepala. Karena operasi mengambil peluru ini berisiko tinggi, Ishikawa memutuskan untuk menunda operasi dan hidup dengan peluru di dalam dirinya. Sejak saat itu, dia jadi bisa bicara dengan arwah korban pembunuhan di kasus-kasus yang dia tangani.

Awalnya saya nggak berharap banyak ke drama ini karena Jepang itu produksi banyak sekali drama detektif tiap tahunnya. Mereka biasa produksi drama tiap 4 musim dalam setahun yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Nah, di tiap musim ini selalu ada drama detektif dan jumlahnya nggak cuma satu-dua. Kebayang banyaknya, kan? Makanya saya siap-siap dengan kemungkinan “Border” jadi judul yang nggak ada istimewanya di antara sekian banyak drama detektif Jepang. Lagipula hadirnya aktor terkenal tidak selalu menjamin dramanya bagus.

Para tokoh utama “Border.” Sumber: ginkon2.xyz

Eh, ternyata cukup 1 episode untuk buat saya jatuh hati dengan “Border.” Waktu nulis blog ini saya baru nonton 5 dari 9 episode, tapi sudah terpuaskan dengan kualitasnya sejauh ini. Karakterisasi tokoh, jalan cerita, gaya kamera dan musik pengiringnya semua selera saya banget.

Tonton di Netflix: 
Border

Seperti biasa, saya otomatis memperhatikan subtitle sambil menikmati konten dramanya. Kali ini yang menarik perhatian saya adalah macam-macam “otsukaresama” di episode 2.

“Otsukaresama” adalah sering sekali dipakai oleh orang Jepang. Yakin, pasti hampir setiap hari mereka mengucapkan atau menulis kata ini. Penggunaannya begitu umum karena lekat dengan budaya orang Jepang untuk memperhatikan dan menghargai orang lain.

“Otsukaresama” menurut kamus dictionary.goo.ne.jp

Menurut kamus dictionary.goo.ne.jp, “otsukaresama” adalah kata-kata yang digunakan untuk berterima kasih dan memberi penghargaan terhadap jerih payah orang lain. Di tempat kerja juga dipakai sebagai salam untuk orang yang pulang duluan.

Biasanya nggak cuma saat mau pulang, “otsukaresama” juga dipakai ketika bertemu atau komunikasi email dengan kolega di sepanjang hari kerja. Di luar konteks kerja “otsukaresama” juga dipakai, misalnya oleh anak-anak kuliah yang habis selesai kelas terus lihat senior atau temannya lagi mau pulang dari kegiatan klub. Masih banyak konteks penggunaan lainnya, tapi intinya salam ketika bertemu yang juga mengandung apresiasi terhadap lawan bicara. Kalau diucapkan kepada rekan kerja ya berarti mengapresiasi pekerjaan orang itu, kalau kepada teman kuliah yang habis kegiatan klub ya penghargaan terhadap usaha dia di klub itu.

Setahu saya kata “otsukaresama” ini tidak ada padanan pastinya dalam bahasa dan budaya Indonesia. Biasanya kalau kita pulang duluan dari tempat kerja atau sekolah ya bilang “Duluan ya” atau mungkin “Permisi” kalau lawan bicaranya lebih senior. Secara harfiah tidak ada makna “apresiasi.” Begitu juga di negara-negara berbahasa Inggris, tidak ada ungkapan yang maknanya persi sama.

Karena itu biasanya dalam subtitle, “otsukaresama” diterjemahkan berbeda-beda tergantung konteks adegan. Misalnya di “Border” episode 2 ada adegan di mana Ishikawa sedang di toilet. Tiba-tiba ada detektif lain yang masuk toilet. Detektif itu nyadar kalau ada Ishikawa dan memberi salam “otsukaresama.”

Di subtitle bahasa Inggris “otsukaresama” diterjemahkan jadi “Long case, huh?” yang kira-kira artinya “Kasusnya panjang, ya?” Ini bisa dimaknai sebagai obrolan basa-basi si detektif dan merujuk ke kasus pembunuhan yang sedang mereka tangani bersama. Mungkin dalam budaya negara-negara berbahasa Inggris lebih umum pakai basa-basi seperti ini untuk menyapa rekan kerja.

Subtitle bahasa Indonesia menggunakan kata-kata “Teruskan kerja kerasmu.” Mungkin penerjemah bermaksud mempertahankan makna “apresiasi terhadap jerih payah orang lain” di dalam terjemahannya. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini aneh buat orang Indonesia. Oke mungkin orang yang lumayan tahu budaya Jepang nggak merasa aneh karena sudah paham budaya “otsukaresama,” tapi orang awam bisa jadi bertanya-tanya. Saya rasa di keseharian orang Indonesia nggak ada yang tiba-tiba bilang “teruskan kerja kerasmu” ketika kebetulan papasan dengan kolega.

Persis setelah adegan di toilet, Ishikawa tiba di depan ruang otopsi. Dia berpapasan dengan para petugas koroner yang baru selesai otopsi mayat. Mereka membawa mayat itu melewati Ishikawa dan menyapa Ishikawa dengan “otsukaresama.”

“Otsukaresama” di adegan ini diterjemahkan jadi “Excuse me” di subtitle bahasa Inggris dan “Permisi” di subtitle bahasa Indonesia. Interpretasinya penerjemah Inggris dan Indonesia sama, yaitu “otsukaresama” di sini bermakna “halo, maaf ya, kami mau lewat, dadah.” Oleh karena itu terjemahannya jadi “excuse me (permisi).”

Bisa dilihat di dua adegan beruntun ini kalau makna dan terjemahan “otsukaresama” bisa berbeda-beda tergantung konteks. Penerjemah perlu menimbang hal-hal yang dia prioritaskan. Apakah itu menjaga makna kalimat aslinya? Menyampaikan makna yang serupa dengan mengedepankan pemahaman dan kenyamanan target penonton? Atau menjaga kesinambungan antara dialog dalam satu adegan dan lintas adegan? Terjemahan akan berbeda tergantung pertimbangan-pertimbangan itu. Makanya penerjemahan (khususnya konteks kali ini, subtitle untuk konten fiksi) tidak punya satu jawaban pasti. Ini sulitnya sekaligus serunya menerjemahkan.

Share this:

Tinggalkan Balasan