Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line”

<Tulisan ini mengandung spoiler>

Baru-baru ini saya selesai nonton drama Jepang “Life~Love on the Line.” Overall oke, sukses membuat saya semangat nonton selama empat minggu penayangannya. Dari drama ini ada satu hal yang paling membekas: Bagaimana drama ini bisa menampilkan tokoh yang realistis dan manusiawi.

Tonton di Viki:

Life~Love on the Line

Tokoh utama cerita ini adalah Akira Ito yang menjalin cinta dengan sesama pria, Yuki Nishi. Kisahnya mencakup perjalanan mereka dari usia remaja (SMA) hingga 40 tahun.

Akira tidak pernah cerita ke orang tuanya soal Yuki. Dia takut karena ibunya selalu mendorong Akira untuk melakukan hal-hal “normal”, seperti belajar rajin dan masuk universitas di kotanya (bukan pergi kuliah di luar kampung halaman), lulus untuk kerja jadi pegawai kantoran, semua sesuai keinginan ibunya. Tekanan ini semakin besar karena kakak perempuan Akira berjiwa bebas dan selalu menentang kemauan ibunya. Akira pun semakin merasa harus menuruti ibu sebagai ganti kakaknya, padahal di dalam hati dia mengagumi kakaknya yang hidup sesuai kemauan hatinya sendiri.

Begitulah Akira menghabiskan bertahun-tahun pacaran dengan Yuki secara backstreet. Meski harus sembunyi-sembunyi, dia bahagia bersama Yuki. Tapi suatu hari di usia 28 tahun, Akira sadar dia sudah cinta terlalu dalam pada Yuki. Besarnya rasa cinta ini malah membuat dia takut. Tiap hari dia paranoid, gimana kalau Yuki suatu saat pergi ninggalin dia? Akhirnya Akira memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dan Yuki dan malah menikah dengan Hanako, wanita yang dari SMA suka Akira.

Sekitar 4 tahun sejak putus dari Yuki, Akira terus hidup sambil membohongi dirinya sendiri. Sampai akhirnya suatu hari dia nggak kuat. Kerjaan kantor udah kelar tapi dia nggak langsung pulang ke rumah, cuma duduk ngopi dan ngerokok di kafe. Setelah kafenya tutup dia pindah ke taman, cuma duduk bengong. Akira tahu dia harus segera berdiri dan pulang, kalau nggak nanti keburu pagi. Tapi ujung-ujungnya dia nggak bisa beranjak dari bangku taman semalam penuh, sampai akhirnya matahari pagi terbit.

Pilihan-pilihan yang diambil Akira itu tidak bisa dibilang “benar.” Seperti yang dibilang Hanako setelah Akira mengaku dia masih cinta Yuki, perbuatan Akira itu bukan sesuatu yang bisa dimaklumi dengan sekadar permintaan maaf. Dia sudah menyakiti banyak orang. Yuki, Hanako, dan juga dirinya sendiri.

Tapi penggambaran ceritanya bisa seimbang menunjukkan efek buruk tindakan Akira dan pergulatan batin yang mendorong Akira mengambil tindakan-tindakan itu. Makanya saya masih bisa memahami Akira. Misalnya rasa takut Akira untuk melawan ekspektasi orang-orang sekitar, saya rasa banyak orang yang merasakan ini juga. Saya sendiri juga merasa bisa memahami Akira yang takut kebahagiannya hilang dan terdorong untuk melepaskan kebahagiaan itu dengan tangannya sendiri (sebelum direnggut paksa dan tiba-tiba).

Apalagi adegan dia nggak bisa bangkit dari bangku taman semalaman. Cara adegan itu mengalir, kalimat dialog internal Akira, akting Jin Shirasu yang memerankan Akira, semuanya begitu menyampaikan betapa terpojoknya Akira. Saya paham banget perasaan begitu tertekan sampai-sampai nggak bisa ngapa-ngapain.

Menurut saya cerita yang bagus itu bisa menampilkan karakter-karakter yang mirip dengan manusia asli, tidak hitam atau putih, bukan sekadar baik atau jahat. Ada macam-macam perspektif yang disajikan sehingga penonton/pembaca bisa melihat banyak sisi dari karakter itu dan mengambil keputusan sendiri, mau mendukung atau tidak.

Share this:

Tinggalkan Balasan