Hidup Bersama Hewan

Sejak saya bisa mengingat, saya sudah hidup bersama binatang peliharaan di rumah. Anjing, kelinci, kura-kura, dan pernah sekali waktu, kucing. Baru sejak umur 17 pindah dari rumah orang tua dan tinggal sendiri di kosan, saya tidak lagi hidup bersama hewan.

Rossie dan Sandy

Pengalaman 17 tahun pertama dalam hidup itu terus membekas dan mempengaruhi saya. Sampai sekarang merasa agak aneh nyebut binatang peliharan “mati.” Lebih nyaman nyebutnya “meninggal.”

Karena dulu pelihara kelinci begitu banyak dari SD sampai SMP, saya pernah menolak makan sate kelinci. Seumur-umur makan sate kelinci baru sekali, waktu saya usia 21 tahun. Ya bisa dibilang agak lebay ya, tapi emang saya nggak tega. Saking sayangnya dulu saya ingat tanggal meninggalnya semua kelinci kami, misalnya si Leo itu 2 Mei (ingat karena pas Hardiknas) dan hari Jumat (waktu nemu Leo terbujur kaku, saya pakai seragam pramuka).

Saya nggak segitu sukanya sama hewan sampai jadi dokter hewan atau kerja di organisasi terkait hewan. Bukan vegetarian juga, masih suka makan daging dan produk hewani lain. Tapi pengalaman hidup bersama hewan membuat saya sedikit lebih mudah bersimpati dan peduli dengan kesejahteraan hewan.

Apalagi karena kalau main ke Youtube, salah satu channel favorit itu The Dodo. Media ini fokus menyampaikan kisah berbagai macam hewan. Paling suka serial “Odd Couples” tentang duo sahabat unik, mulai dari yang agak aneh seperti anjing dan kucing, sampai yang nggak disangka-sangka seperti merpati dan chihuahua. Suka juga dengan konten-konten Dodo yang mendokumentasikan hewan-hewan terlantar, bagaimana mereka diselamatkan oleh foster family/organization dan mendapat keluarga baru. Dodo memang gencar menyuarakan hak-hak binatang dan menggugah penonton untuk berkontribusi, misalnya dengan sesimpel adopt, don’t shop saat mau mencari hewan peliharaan.

Kebetulan hampir semua anjing yang dipelihara di rumah orang tua itu bukan dari pet shop. Blacky anjing tetangga yang kami pelihara sejak mereka pindah. Mimi itu anak hasil perkawinan Blacky dengan Molly, yang rumahnya di ujung gang. Milo dapat dari pendeta yang nemu Milo di dekat rumahnya dalam keadaan luka-luka di hari hujan. Kami dengar soal Milo nggak lama setelah Blacky meninggal, dan Ibu langsung minta untuk lihat dan adopsi dia.

Milo dan Mimi

Sebenarnya sekarang ada rasa pingin adopsi anjing, kadang lihat postingan hewan-hewan terlantar dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), tapi nggak memungkinkan karena kondisinya tinggal sendiri di kosan. Jadi sekarang sebisanya saja; bantu nyebarin info JAAN soal hewan-hewan yang butuh bantuan, kalau ada rezeki lebih ya donasi.

Selain JAAN ada organisasi dan gerakan lain di Indonesia yang memperjuangkan kesejahteraan hewan. Misalnya reiSPIRASI yang menjalankan program konservasi penyu di Jogja. Di tengah kondisi pandemi ini kepedulian terhadap hewan juga makin diperlukan, khusunya hewan-hewan di kebun binatang dan taman safari yang terancam tidak bisa makan karena tidak ada pemasukan dari tiket pengunjung. Banyak yang berkontribusi membantu, baik langsung ke kebun binatang atau lewat perantara seperti penggalangan dana di Kitabisa.com oleh Alshad Ahmad.

Share this:

Tinggalkan Balasan