Timbangan

 

Hari ini aku ke pasar lagi

Kamu sudah siap berdiri di balik meja warungmu, seperti biasa

“Sayangnya 2,5 ons ya,” pesanku

Kamu taruh dua biji anak timbangan di satu sisi

Lalu buka dadamu dan taruh isinya di sisi lain sampai timbangan berhenti goyang

Sayangnya mau kamu bungkus dalam kresek, tapi aku sela

“Eh, sekalian setengah kilo aja deh”

Tatapanmu aneh. Apa itu? Campur kesal campur sedih

“Nggak bisa,” kamu menghela napas lelah

Dagumu berayun ke timbangan lain di sebelah

“Sayangmu nggak sampai 1 ons”

Aku cemberut, heran kenapa kamu protes, padahal biasanya oke-oke aja

Ya sudah, aku ambil kresek isi 2,5 ons sayangmu

 

Besoknya aku ke pasar lagi

“Nih!” Aku buka dadaku dan tuang isinya ke timbangan. “Marahku 2 kilo!”

Kamu melotot, bibir terkatup rapat

Menimbang isi dadaku lalu gantian mengukur yang tercurah darimu

Aku pulang-pulang bawa satu kresek isi 2 kilo marahmu

 

Minggu depannya aku ke pasar lagi

“Ini air mataku… 5 kilo…”

Aku kuras tangisku sampai imbang dengan 5 biji anak timbangan paling besar

Dadaku hampir kosong, sisa capek

Ketambahan kaget karena kresek dari kamu terasa enteng di tangan

“Berapa ini?” tanyaku dengan dahi berkerut dan mata masih basah

“Setengah ons,” katamu dengan mata merah tapi kering

“Cuma segini?”

Balasannya ayunan tangan dan muka yang berpaling

 

Akhir bulan aku ke pasar lagi

Warungmu kosong, tinggal dua timbangan di atas meja

Aku congkel dadaku dan keluarkan sesal

Timbangannya sampai oleng

 

Share this:

Tinggalkan Balasan