Belajar Menangis

Dulu saya tidak terbiasa menangis. Kata ibu dari kecil saya memang sudah biasa apa-apa sendiri, jadi mungkin karena itu jarang merengek.

Nggak cuma perkara kehidupan nyata, saya juga nggak ada ingatan zaman dulu nangis karena cerita fiksi. Adegan Sai menghilang selamanya dari sisi Hikaru di episode terakhir Hikaru no Go, dan momen-momen mengharukan lainnya, meski sukses membuat saya sedih atau terharu, tapi gagal membuat air mata menetes.

Satu-satunya yang bisa buat saya nangis itu cerita tentang hewan peliharaan. Saya hidup bersama hewan dari bayi sampai 17 tahun, terbiasa menganggap mereka sebagai anggota keluarga, dan berkali-kali menangis melihat mereka menghadapi kematian.

Mungkin karena itu saya jadi lebih mudah bersimpati dan mengeluarkan emosi lewat air mata saat nonton/baca kisah tentang hewan peliharaan. Saya nangis waktu lihat Nimrod terluka di pelukan Miles di suatu episode serial Surface. Kalau waktu pertama baca Hedwig kena Adava Kedavra di buku Harry Potter, sebenarnya saya nggak ingat nangis atau nggak, tapi yang jelas sedihnya banget ya.

Dulu saya seperti itu. Sampai di usia 21 tahun, saya baru sadar kalau saya sulit untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan orang lain. Karena itu air mata pun seret, susah keluarnya. Banyak sekali emosi yang dipendam sendiri, sampai saya jatuh ke lubang gelap yang dalam. Di situ saya mulai belajar mengekspresikan emosi, lewat lisan, tulisan, dan juga air mata.

Baca juga:

Kisahku dengan Si Depresi

Sejak itu saya mudah sekali menangis, baik merespon kejadian nyata atau fiksi. Nggak cuma adegan hewan peliharaan mati di film-film, adegan tokoh utama meraih kemenangan setelah usaha keras juga buat saya menangis terharu. Benar-benar meneteskan air mata, bukan cuma terharu dalam hati.

Bagi saya menangis itu bukan hal buruk. Menangis itu salah satu cara yang sehat untuk menghadapi emosi (cuma ya sama seperti segala sesuatu, kalau berlebihan ya tidak baik). Sekarang saya bisa lebih lepas untuk menangis, dan karena itu saya lebih bahagia.

Share this:

Tinggalkan Balasan