Belajar dari Subtitle: K-Drama “Leverage” Ep 8-9

Drama Korea “Leverage” ini tayang akhir tahun 2019 lalu. Saya sudah tertarik sejak pertama dengar kabarnya, tapi baru tahun ini nonton lewat Viu.

Tertarik sama K-Drama satu ini karena sekitar satu dekade lalu saya nonton versi originalnya, Leverage produksi Amerika Serikat. Sebenarnya saya sudah agak lupa detail ceritanya, tapi masih ingat perasaan seru lihat aksi komplotan Robin Hood modern ini. Ceritanya dimulai dengan Nathan Ford, mantan penyelidik asuransi yang jadi pemabuk dan hidup berantakan sejak kematian putranya. Dia memimpin tim penipu dan hacker untuk membalas dendam ke perusahaan asuransi yang membiarkan anaknya mati. Ternyata mereka cocok jadi satu tim, dan akhirnya lanjut bekerja sama melawan korporasi dan badan pemerintah yang praktek nakalnya menimbulkan korban di kalangan rakyat biasa.

Setelah sekitar sepuluh tahun berlalu, Korea Selatan mengadaptasi serial ini. Format timnya sama, dipimpin oleh mantan penyelidik asuransi yang kehilangan anaknya. Di versi Korea namanya menjadi Lee Tae Joon. Dia ditemani dengan Soo Kyung, aktris tidak populer tapi penipu ulung; Na Byeol, wanita muda yang pencuri handal; Roy, mantan koordinator keamanan perusahaan besar yang lihai berbagai ilmu bela diri; dan Eui Sung, pemuda canggung yang hacker ahli.

Kim Sae Ron di Leverage. Image: Soompi

Saya tambah tertarik lagi karena lihat nama Kim Sae Ron di daftar pemainnya. Akting Kim Sae Ron sudah mencuri hati saya sejak The Man From Nowhere (Ahjeosshi / 2010). Senang bisa lihat dia di Leverage sebagai Ko Na Byeol, versi Koreanya Parker yang ahli rampok, copet, dan bobol brangkas.

Image: kdramapal

Tonton di Viu: Leverage (K-Drama)

Waktu nonton episode 8-9 ada subtitle yang mengingatkan saya ke salah satu poin penting, tidak cuma dalam penerjemahan, tapi juga dalam berbahasa.

Di akhir episode 8 ada adegan ketika Roy dan Eui Sung baru pulang setelah menyelidiki bangunan panti jompo. Tim sudah mencurigai rencana jahat pemilik panti untuk membakar panti, membuatnya seolah-olah kecelakaan, dan mengumpulkan uang asuransinya. Hasil penyelidikan Roy dan Eui Sung membuktikan kecurigaan ini; semua kamera CCTV dan alat pemadam api di dalam gedung panti telah sengaja dirusak.

Episode 8

Adegan ini diulangi lagi di awal episode 9. Tapi entah karena vendor episode 8 beda dengan episode 9, atau mungkin vendornya sama tapi sistem quality checknya belum maksimal, terjemahan adegan yang sama ini jadi beda di kedua episode.

Roy mengucapkan kata bahasa Inggris “sprinkler” yang sudah diserap dalam bahasa Korea menjadi 스프링클러 untuk menyebut alat pemadam api otomatis yang dipasang di langit-langit bangunan. Pada akhir episode 8, kata “sprinkler” diterjemahkan menjadi “penyiram pemadam api”, sedangkan di episode 9 diterjemahkan jadi “alat penyiram rumput”.

Episode 9

Dalam bahasa Inggris, kata “sprinkler” memang punya dua arti: (1) alat penyiram rumput dan (2) alat pemadam api otomatis di langit-langit bangunan. Kalau lihat konteks episode 8-9 Leverage, jelas “sprinkler” bukan untuk menyiram rumput. Mungkin penerjemah episode 9 menerjemahkan hanya dengan melihat naskah tanpa menonton videonya. Tapi meskipun tanpa lihat video, seharusnya dia bisa lihat konteks dari kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya.

Berkat ini saya kembali diingatkan hal penting: Bahasa itu kontekstual. Makna dalam sebuah kata bisa berubah tergantung siapa yang menggunakan, ditujukan kepada siapa, kapan dan di mana menggunakannya, intonasi dan ekspresi pembicaranya bagaimana, posisinya dalam struktur ucapan/tulisan bagaimana, dan sebagainya. Ketika berbahasa dan menerjemahkan, kita perlu memperhatikan konteks.

Makanya saya sering kesal kalau ada orang tanya, “Eh, kata xxx bahasa Jepangnya apa ya?” tanpa memberikan konteks kalimat atau situasinya. Padahal nggak ada satu jawaban yang pasti. Selalu tergantung konteks.

Kalau yang tanya itu orang awam, saya masih maklum. Kalau yang tanya itu sesama penerjemah, biasanya saya nggak tanggung-tanggung ^^ Idealnya sebagai profesional mereka paham susahnya menerjemahkan (apalagi tanpa konteks) dan bisa mengajukan pertanyaan dengan cara yang lebih efisien, ya nggak sih. Hehe.

Selain poin penting di atas, saya juga jadi berpikir lagi tentang cara menyeragamkan terjemahan dalam tim dan menjaga kualitas. Saya ada pengalaman beberapa tahun mengelola tim penerjemah subtitle dan tim penerjemah web magazine, tapi masih menemui tantangan-tantangan. Jadi diingatkan kalau perlu belajar terus.

 

Share this:

Tinggalkan Balasan