Belajar dari Subtitle: “Full Metal Panic! One Night Stand”

Karena memang minat dengan bahasa, apalagi pernah dua tahun lebih menerjemahkan subtitle acara TV dan film untuk menghidupi diri, saya jadi sering memperhatikan subtitle ketika nonton sesuatu.

Kapan lalu saya nonton film animasi Jepang, “Full Metal Panic! 2nd Section – One Night Stand“. Ini salah satu judul di serial “Full Metal Panic!” yang berawal dari light novel terbitan tahun 1998, lalu diadaptasi jadi anime, komik, dan game. Ceritanya tentang Sousuke Sagara, remaja laki-laki yang hidup besar di medan perang dan sekarang jadi anggota organisasi militer anti-teroris. Dia ditugaskan melindungi Kaname Chidori, remaja perempuan Jepang yang karena alasan tertentu ditarget oleh banyak organisasi berbahaya.

Film yang baru saya tonton ini dirilis tahun 2017 dan bagian kedua dari tiga digest film yang merangkum 24 episode dari musim pertama serial anime Full Metal Panic! (tayang tahun 2002). Saya sudah nge-fans serial ini sejak nonton animenya di TV7 waktu SD kelas 4 (siapa yang masih ingat TV7?). Seneng banget lihat filmnya tersedia di iflix.

Tonton di iflix:

Full Metal Panic! 1st Section – Boy Meets Girl

Full Metal Panic! 2nd Section – One Night Stand

Full Metal Panic! 3rd Section – Into the Blue

Waktu nonton, ada subtitle yang buat saya nge-pause filmnya. Adegannya Sousuke lagi naik mobil. Dia di kursi penumpang, yang nyetir rekan kerjanya, Kurz Weber. Mereka lagi dikejar-kejar musuh dan menuju suatu bangunan gudang. Kurz ngebut sekuat tenaga dan mobilnya mau menerjang pintu gudang.

Kurz dan Sousuke. Gambar: Netflix.com

Si Kurz bilang:

「つかまってろ。舌噛むぞ」

Tsukamattero. Shita kamu zo.

Artinya kira-kira, “Pegangan. Ntar lidahmu kegigit.”

 

Subtitle bahasa Inggrisnya:

“Hang on. Don’t bite your tongue.”

Di sini dia bilang, “Pegangan. Jangan gigit lidahmu.”

 

Yang menarik di sini, ada bagian yang hilang di kalimat bahasa Jepang. Kalimat yang lengkap adalah 「つかまってろ。つかまっていないと舌を噛むぞ」”Pegangan. Kalau nggak pegangan, ntar lidahmu kegigit.”

Bagian “kalau nggak pegangan”, yaitu bagian penyebab dihilangkan. Situasinya Kurz lagi terburu-buru. Dia lagi berusaha nyetir mobil sekencang-kencangnya supaya tidak terkejar musuh. Tidak sempat ngomong panjang-panjang. Akhirnya yang terucap hanya akibatnya, lidah kegigit.

Kurz. Gambar: wiki.dengekionline.com

Sedangkan kalimat bahasa Inggrisnya mengutak-atik kalimat aslinya menjadi perintah “jangan gigit lidahmu.” Saya bisa memahami keputusan penerjemah untuk menerjemahkan seperti ini. Adegan ini hanya sebentar, dengan kata lain durasi subtitle tampil di layar juga tidak lama. Perlu kalimat yang bisa menyampaikan pesan secara cepat kepada penonton, dan ini bisa dicapai dengan kalimat perintah yang singkat. “Jangan gigit lidahmu.”

Bayangkan kalau penerjemah memilih “Hang on. If you don’t, you’ll bite your tongue.” (Pegangan. Kalau nggak, ntar lidahmu kegigit.” Bisa dibandingkan seperti ini.

 

Terjemahan asli:

“Hang on. Don’t bite your tongue.”

Total karakter termasuk spasi: 32 karakter

 

Terjemahan alternatif:

“Hang on. If you don’t, you’ll bite your tongue.”

Total karakter termasuk spasi: 47 karakter

 

Ada beda 15 karakter. Untuk tulisan biasa mungkin ini tidak terlalu berarti, tapi untuk subtitle, ada kalanya perbedaan ini jadi signifikan. Penonton sudah dibombardir dengan berbagai input: gerakan-gerakan di video, suara-suara di audio. Selain itu mereka masih harus memproses teks subtitle juga. Menurut saya subtitle yang baik itu yang bisa menyampaikan inti pesan tanpa terlalu membebani penonton. Jadi lebih baik dibuat sesingkat mungkin.

Yang penting adalah inti pesan dari kalimat aslinya tetap tersampaikan. Intinya kan Kurz mau supaya Sousuke lidahnya nggak kegigit, jadi “jangan gigit lidahmu” bisa dianggap tidak melenceng dari pesan aslinya.

Arbalest. Gambar: hobby.dengeki.com

Ada lagi subtitle yang menarik perhatian saya di film ini. Adegan Sousuke sedang naik Arbalest, robot raksasa semacam Gundam, untuk melawan Behemoth, robot musuh. Sousuke menembakkan pelurunya ke arah Behemoth, tapi tidak jelas apakah ada kerusakan pada robot musuh.

 

Sousuke bilang:

「ダメか?」

Dame ka?

 

Subtitle bahasa Inggrisnya:

“Is it working?”

 

Kata “dame” dalam bahasa Jepang artinya bisa macam-macam, tapi dalam konteks ini bisa dimaknai “not working” (tidak berhasil). Jadi Sousuke sebenarnya bilang “Is it not working?” (Apa nggak berhasil?). Tapi subtitle bahasa Inggrisnya pakai pertanyaan “positif” yaitu “Is it working?” (Apa berhasil?).

Saya belum tahu kenapa bahasa Jepangnya pakai asumsi negatif “tidak berhasil”, tapi rasanya aneh kalau pakai bahasa Inggris dan bertanya “Is it not working”. Saya bukan native speaker bahasa Inggris jadi mungkin intuisi saya salah. Bisa jadi penerjemahnya pilih “Is it working?” semata-mata karena lebih singkat, sama seperti  “Hang on. Don’t bite your tongue.” yang tadi dibahas.

“One Night Stand.” Gambar: IMDB

Nonton “One Night Stand” nggak cuma bikin saya nostalgia ke anime tontonan zaman kecil, tapi juga bikin belajar banyak hal tentang bahasa Jepang, Inggris, dan penerjemahan subtitle. Saya mau lanjut nonton film ketiga. Ada hal menarik apa lagi ya di subtitlenya?

Share this:

One thought on “Belajar dari Subtitle: “Full Metal Panic! One Night Stand”

Tinggalkan Balasan