Menghadapi Pertanyaan Kepo

Dulu saya pernah ke Atrium Plaza buat belanja. Mbak penjaga tokonya ngajak ngobrol sambil menunggu proses pembayaran.

“Mbak, lagi isi ya?”

Saya ketawa. “Iya, isi lemak.”

Ya saya jawab apa adanya. Memang saya tidak sedang hamil, perutnya buncit memang karena timbunan lemak. Mbaknya bilang “oh” dan kelihatan agak malu.

Saya sih santai aja. Kadang ada orang yang merasa tersinggung dengan pertanyaan seperti itu, menganggapnya mengusik privasi, kepo, dan sebagainya. Tapi saya coba pakai sudut pandang lain. Siapa tahu mbaknya ada niat baik, mau menawarkan tempat duduk supaya seorang ibu mengandung tidak capai berdiri. Atau mungkin dia sedang butuh cerita dan saran dari ibu hamil, jadi dia mau tanya-tanya. Toh nada mbaknya terdengar tulus waktu dia bertanya. Saya juga yakin kalau kebanyakan orang tidak ada maksud buruk ketika mengajukan “pertanyaan-pertanyaan kepo” seperti itu. Masa iya sih mbaknya sengaja memprovokasi saya, seorang pelanggan di tokonya.

Setelah itu kami lanjut ngobrol. Ya santai aja. Setelah transaksi belanja, kami berpisah dengan senyum.

Kadang kita bisa meminta orang lain untuk berhenti mengajukan pertanyaan kepo, tapi sering kali ini tidak bisa dihindari. Kadang kita yang harus mengubah cara pandang kita dan cara kita menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu. Misalnya cara seperti user Twitter ini.

Share this:

Tinggalkan Balasan