Napak Tilas Osaka Bersama Ibu

November 2018 saya ke Jepang bersama mantan teman berantem dan menghabiskan 7 hari mengenal dia lebih jauh. November tahun ini lagi-lagi saya ke Jepang. Bedanya kali ini saya pergi bersama ibu saya. Baru ini saya wisata berdua saja dengannya.

Tempat tujuannya juga istimewa: Osaka, tempat saya menghabiskan 1 tahun untuk program pertukaran pelajar di tahun 2013-2014. Sejak program itu, saya belum kembali menginjakkan kaki di Osaka.

Kembali

Kampus tempat saya belajar dulu ada di daerah utara Prefektur Osaka, yaitu di Minoh. Sekitar dua tahun lagi, kampus ini akan pindah lokasi. Makanya beruntung banget bisa kembali ke sana sebelum pindah, ditambah lagi bersama dengan ibu.

Kampus Minoh, 2014

Kampus Minoh, 2019

Beda dengan wisata Jepang tahun lalu yang selow, kali ini rasanya agak terburu-buru. Pasalnya saya buat janji ketemu dengan dosen-dosen saya. Tiap hari ketemu minimal satu orang. Padahal saya di Osaka fullnya cuma 4 hari. Dua hari sisanya terpakai untuk perjalanan di pesawat.

Sempat ada rasa menyesal, kenapa janjian dengan banyak orang, jadi nggak bisa santai seperti tahun lalu. Tapi perasaan itu hilang tiap bertemu dengan dosen-dosen saya.

Kampus Minoh, 2014
Kampus Minoh, 2019

Ibu-Bapak saya sempat heran, kenapa mereka mau menyempatkan waktu menemui saya? Apalagi itu hari kerja dan mereka kan sibuk semua. Saya sendiri juga heran sih. Dan tentunya sangat-sangat berterima kasih. Tiap tahun saya hanya menyempatkan mengirim email Tahun Baru tiap Januari (bagi orang Jepang, momen Tahun Baru itu seperti Lebaran untuk muslim, saatnya silahturahmi). Cuma itu saja, dan mereka mau meluangkan waktu mereka yang berharga untuk saya.

Berdua dengan Ibu

Kastil Osaka

Sebelum berangkat sempat ada rasa khawatir pergi dengan ibu. Dulu waktu tinggal seatap, kami lumayan sering bertengkar. Sedikit banyak karena kepribadian kami banyak miripnya (mudah emosi dan langsung meluapkannya). Sehari sebelum terbang ke Osaka pun kami sempat adu mulut. Masalahnya sepele sih, cuma lagi sama-sama capek, jadinya emosi.

Tapi saya mengajak ibu pergi karena tahu kami berdua sudah berubah. Meski masih ada cekcok, kami sudah bisa menghadapinya dengan lebih baik. Menurut saya ini berkat Bapak Ibu yang membolehkan saya keluar dari rumah mereka 8 tahun lalu. Waktu yang kami lalui dengan terpisah jarak itu membantu meredakan emosi-emosi dan memberikan perspektif baru terhadap hubungan kami. Berkat itu, sekarang tiap cekcok kami bisa saling minta maaf dan diskusi setelah kepala sama-sama dingin. Coba kalau saya terus tinggal serumah dengan ibu. Nanti semua rasa jengkel, ekspektasi, dan sebagainya terus menumpuk. Nggak ada celah untuk berpikir jernih.

Arima Onsen

Rasanya bersyukur memutuskan pergi berdua. Bisa ngajak ibu ke tempat-tempat yang saya pernah datangi, makan makanan yang pernah saya icipi, bertemu orang-orang penting di hidup saya. Worth it, lah!

Pengalaman Pertama

Selain pertama kali wisata berdua dengan ibu, ada banyak pengalaman pertama lainnya di acara jalan-jalan kali ini.

Konser BABYMETAL pertama

Arima Onsen pertama
Daging Kobe wagyu pertama
Share this:

Tinggalkan Balasan