Semacam Ulasan: Film “The Fable” (Jepang, 2019)

PERINGATAN: Tulisan ini mengandung sedikit (?) spoiler.

Kapan lalu film ini sempat diputar di Jakarta dalam rangka Japanese Film Festival 2019. Sayangnya saya tidak sempat nonton. Nggak bisa nonton di bioskop, ternyata dapet kesempatan nonton film ini di pesawat ANA.

Photo: movies.yahoo.co.jp

Informasi “The Fable” di IMDB, AsianWiki, dan MyDramaList.com

Tokoh utama film ini adalah pembunuh bayaran legendaris “The Fable” yang bisa membunuh orang dalam hitungan 6 detik saja. Sudah dilatih jadi pembunuh sejak kecil, dia hanya tahu kehidupan kriminal. Tiba-tiba suatu hari dia diberi perintah oleh bosanya untuk menjalani hidup seperti orang biasa selama 1 tahun.

Photo: movie.walkerplus.com

Kalau dirangkum jadi satu kalimat, film ini dark humor dengan karakter nyentrik ala anime dan dibalut action.

Di awal nggak langsung kelihatan ini film mau ngarah ke mana, nggak ada naik turun dan klimaks jelas seperti film-film mainstream. Baru akhir-akhir aja kelihatan, “Oh, ini klimaksnya to.” Biasanya untuk bisa nonton film seperti ini sampai habis, saya harus berada di mood yang tepat. Untungnya kemarin memang lagi mood.

Photo: withonline.jp

Yang cukup membantu saya menikmati film ini adalah aktor-aktrisnya. Junichi Okada cocok memerankan Akira Sato alias Fable yang tampangnya lempeng, serba perhitungan, dan punya selera humor tidak umum. Yuya Yagira, nggak heran lagi, bagus banget meranin tokoh yang ngeselin minta ampun. Jajaran pemeran film ini memang mewah: ada aktor dengan pengalaman lebih dari seperempat abad seperti Koichi Sato dan Ken Yasuda, aktor yang sudah punya nama seperti Fumino Kimura dan Osamu Mukai, sampai wajah-wajah baru yang fresh seperti Mizuki Yamamoto dan Kai Inowaki. Jiro Sato, seperti biasa, memberikan sentuhannya di nuansa humor nyeleneh film ini.

Photo: fashion-press.net

Di sini ada juga Sota Fukushi, perannya sebagai pembunuh yang obsesi mencari Fable karena ingin mengalahkannya. Pembunuh maniak lah. Saya oke-oke aja lihat aktingnya Sota Fukushi, tapi biasanya dia terlihat agak kaku atau canggung. Nah, di film ini dia terlihat beda, rasanya natural aja. Entah karena perubahan dalam aktingnya, atau memang dia cocok sama karakternya. Ryo Kimura yang berperan jadi rekannya Sota Fukushi juga cocok dengan perannya di sini.

Photo: cinema.ne.jp

Di mata saya yang awam soal genre laga, action di film ini terlihat keren. Sepertinya kerja sama koreografer, sutradara, editor, dan lainnya bagus. Mungkin ada juga faktor casting Junichi Okada. Saya kurang tahu seberapa banyak porsi dia berperan dalam adegan laganya, tapi dia punya keahlian bela diri, jadi ada kemungkinan keahliannya itu dimanfaatkan di film ini.

Sejujurnya adegan laga yang biasa-biasa pun nggak masalah buat saya, karena tiap menikmati karya fiksi prioritas saya selalu:

  1. karakter
  2. cerita
  3. teknis seperti sinematografi, musik, koreografi laga, dsb.

Separah apa pun teknis dan ceritanya, kalau saya suka karakternya, saya akan tonton sampai habis.

Nah, film ini punya banyak karakter serta hubungan antara karakter yang menarik. Mulai dari Fable. Dia memang pembunuh, tapi ada sisi “polos”. Ini terlihat dari cara dia berusaha melebur ke kehidupan orang normal. Gap antara pengetahuannya dengan normal yang dianut orang kebanyakan itu bikin dia imut. Sisi polosnya juga menonjol dari bagaimana dia berusaha mematuhi perintah bosnya (diperankan Koichi Sato) untuk tidak membunuh selama 1 tahun dan menjadi orang biasa. Betapa patuhnya dia.

Photo: movie.walkerplus.com

Bosnya sendiri juga menarik. Dia membesarkan Fable sebagai pembunuh, tapi dia juga peduli dengan Fable. Dia berharap dengan Fable berhenti membunuh, Fable akan kehilangan kemampuannya dan bisa menjadi orang biasa. Hubungan antara bos dan Fable ini di mata saya seperti bapak dan anak. Tidak seperti bapak-anak kebanyakan, tapi justru itu yang menarik.

Karakter Misaki (diperankan Mizuki Yamamoto), gadis yang jadi rekan kerja Fable di perusahaan desain, juga tidak kalah menarik. Dia baik dan pekerja keras, melakukan beberapa pekerjaan sekaligus untuk membiayai pengobatan ibunya. Mudah untuk bersimpati dengannya. Kadang karakter seperti ini bisa jadi Mary Sue, terlalu sempurna tanpa cela sehingga malah jadi menyebalkan. Tapi Misaki tidak seperti itu.

Selain Misakinya sendiri, saya suka dengan hubungan Misaki dan Fable. Saya paling demen sama cerita “cowok akward yang berusaha jadi normal, ketemu dengan cewek biasa.” Ini inti dari salah satu anime/light novel favorit saya “Full Metal Panic!” dan saya suka lihat trope ini di karya-karya lain.

Photo: cinemacafe.net

Hubungan Ebihara (Ken Yasuda), salah satu petinggi di organisasi yakuza yang membantu menyembunyikan jati diri Fable, dengan Kojima (Yuya Yagira), bawahan kesayangan Ebihara, juga mirip dengan si bos dan Fable. Ada rasa saling peduli di antara mereka. Tapi masing-masing tetap punya hasrat dan nilai-nilainya sendiri. Perbedaan itu yang jadi salah satu konflik di film ini, dan berujung ke akhir kisah yang berkesan.

Photo: cinematoday.jp

Film ini cocok buat kamu yang suka dark humor + action dan nggak ada masalah dengan penggambaran kekerasan yang cukup vulgar. Yang tidak kuat dengan adegan berdarah-darah sebaiknya menghindari film ini.

Share this:

Tinggalkan Balasan