Sudah Enam Tahun Ya

Tahun 2000-an awal

Dulu dia sering nakut-nakutin aku. Padahal badannya kecil. Dia selalu tiba-tiba keluar dari bawah pagar, menggonggong dan mengejar. Ya mana berani aku. Si Gendut dari gang belakang aja nggak gitu, padahal tampangnya lebih garang. Blacky memang anjing paling serem, bukan cuma se-gang XI, tapi se-RT 01.

Blacky dan Si Gendut (nama asli, bukan samaran)

Waktu itu aku masih SD. Tugasku sebagai pengedar kertas iuran RT, membantu orang tuaku yang jadi dasa wisma. Rumah Blacky yang paling susah. Orangnya jarang di rumah. Yang ada cuma anjing yang saking kecilnya bisa keluar dari celah di bawah pagar, terus menggonggongi pendatang.

Kadang kasihan juga sih. Blacky sering terlihat mengais-ngais makanan di tempat sampah. Mungkin keluarganya tidak pernah kasih makan sebelum meninggalkan rumah berhari-hari.

 

Tahun 2005

Aku kelas 7 SMP. Molly, anjingnya Bu Bandrio di ujung gang, melahirkan anak empat: Brenda, Pretty, Micky, dan Mimi. Brenda dipelihara Bu Subandrio, Pretty ke rumah seberangnya, Micky jadi temannya Hero di rumah seberang rumahku. Nah, keluargaku dapet si Mimi.

Mimi versi agak gedhean. Foto-foto masa kecilnya sudah hilang di Tragedi Hard Disk.

Semua anaknya kecil, dan tiga di antaranya berwarna hitam. Cuma Brenda si anak pertama yang ada coklat-coklatnya seperti ibunya. Kenapa bisa begini? Karena bapaknya si item Blacky.

Di sekitaran tahun ini juga Blacky mulai sering main ke rumah. Entah bagaimana kisahnya, aku juga sudah lupa. Keluargaku sering kasih makan dia dari balik pagar.

 

Sejak tahun 2006? Atau 2007???

Pemiliknya Blacky fix pindah. Sejak itulah Blacky resmi jadi anjing keluargaku. Sekarang dia hidup di dalam pagar kami.

Tapi namanya sudah kebiasaan, dia masih sering keluyuran. Tiap hari harus dilepas. Habis puas ngeluyur dia bakal balik sendiri. Entah ngapain aja ya dia kalau di luar. Mungkin sebagai penguasa RT 01 dia harus sering-sering patroli dan marking ulang teritorinya.

Kadang-kadang dia main juga ke RT lain. Yang aku tahu dia sih nyampe RT 02. Ke daerah jalan raya perumahan juga. Kayaknya sih nggak sampai daerah Prima Selatan di sisi lain perumahan (rumahku di Prima Utara).

Kalau ada orang datang ke rumah, dia kadang suka “iseng”. Nggonggong, ngejar. Nggak seperti anaknya Mimi yang gocik (bahasa Surabaya-nya “penakut”). Mimi ngonggong doang di awal tapi kalau didekati malah kabur.

Anjing yang mampir juga kena serangan Blacky. Apalagi kalau Mimi lagi menstruasi dan aromanya mengundang para pejantan. Gegerlah depan rumahku.

Yang nggak dijahati cuma beberapa orang. Salah satunya pak es puter. Dia tahu kalau bapaknya lewat, kadang kami akan stop dan beli dua mangkuk, satu buat Blacky, satu buat Mimi. Blacky suka juga sama pak daging. Pak daging baik. Kalau ibu beli, kadang dia kasih titilan buat Blacky.

 

 

 

 

 

Blacky si jagoan ini juga kadang suka pamer kehebatan. Kalau habis nangkap tikus, sering ditaruh di keset pintu depan. Dia tak kenal peribahasa “padi makin berisi makin merunduk.”

Dia juga ada sisi imutnya. Matanya yang bulat lucu. Kepalanya yang miring kalau kami sengaja bikin suara-suara aneh.

Mungkin karena sisi imutnya itu Mimi sayang sama Blacky. Mimi itu tipe wanita independen (?). Sering sendiri, nggak suka manja dan minta dielus-elus. Tapi kalau sama Blacky dia perhatian. Tiap Blacky pulang ngeluyur, dia endus-endus Blacky. Blacky lagi asik berbaring, Mimi petani (cariin) kutunya.

 

Akhir Agustus 2013

Aku lagi di Jogja, sibuk menyiapkan program pertukaran pelajar ke Jepang. Berangkat ke Osaka kurang dari sebulan lagi.

Waktu itu posisiku di bangku coklat (bangcok) FIB. Ibu telepon, katanya Blacky sakit parah. Aku nangis. Selesai hapus air mata, aku langsung beli tiket kereta pulang.

Besoknya aku sampai Surabaya, siang sekitar jam 1 sampai rumah. Langsung ke teras samping, lihat Blacky terbaring di keranjang tidurnya. Tubuhnya kurus lunglit, balung kulit kayak nggak ada dagingnya. Miris. Nggak tega lihatnya.

Sejam kemudian, Blacky meninggal. Seakan-akan nungguin aku pulang.

Setelah perpisahan singkat dengan kami berempat plus Mimi, Bapak menyiapkan tubuh Blacky dan menguburnya di halaman samping.

Waktu itu di usiaku yang 19 tahun, aku sudah berkali-kali menghadapi kematian binatang peliharaan. Selama SD-SMP sering pelihara kelinci. Aku masih ingat semuanya.

Leo mati waktu Hardiknas. Waktu itu Jumat, aku pakai seragam pramuka SD.

Poppy mati awal Juni. Mendadak kaku siang-siang.

Skippy mati padahal siangnya masih makan kangkung.

Rossie mati di dokter hewan malam-malam. Setelah matanya bengkak dan mau dioperasi.

Sandy mati kakinya lumpuh. Diputuskan sekeluarga untuk euthanasia.

Sudah sering. Tapi tentunya nggak ada kata mudah menghadapi kematian, apalagi anggota keluarga yang sudah menemani sebagian besar masa kanak-kanak dan seluruh masa remajaku.

Meski begitu aku bersyukur. Bersyukur Blacky sudah memberiku kesempatan bilang selamat tinggal sebelum dia menutup mata. Bersyukur mengenal sosoknya yang lucu dan setia.

Terima kasih Blacky, keluargaku.

Share this:

Tinggalkan Balasan