Usaha Balik Sama Mantanku, Si Olahraga

Padahal dulu sayang banget. Dengan mengerahkan usaha untuk mengubah benci jadi cinta, saya sudah melalui proses untuk mencintai olahraga, khususnya lari.

Tapi sejak kaki patah di September 2018, saya tidak berolahraga selama berbulan-bulan lamanya. Bahkan setelah 6 bulan dan sudah dinyatakan boleh lari lagi, saya merasa ogah-ogahan pakai sepatu lari dan beranjak keluar kamar. Padahal tahun lalu antusias untuk ikut half marathon. Entah hilang ke mana semangat itu.

Setengah tahun lebih tanpa olahraga sepertinya tidak hanya berdampak bagi fisik, tapi juga mental. Tadinya olahraga adalah salah satu senjata saya melawan depresi. Setelah melepaskan senjata itu, kondisi mental saya memburuk.

Bulan April rasanya paling parah. Tiap pagi butuh usaha ekstra untuk sekadar bangun dari tempat tidur. Pergi ke kantor jadi enggan padahal tidak ada hal yang membuat stres berlebihan di pekerjaan. Kepala penuh dengan pikiran, “Buang saja semuanya dan pulang ke Surabaya.”

Tapi setelah seperempat abad melalui berbagai macam hal, saya sadar bahwa saya orang yang cukup gigih dan tidak bisa pasrah begitu saja. Akhir bulan April saya mulai olahraga lagi.

Masih susah untuk bangun subuh dan lari di sekitar kos, atau pergi lari di Monas sepulang kantor. Karena itu saya mulai dulu dengan mendaftar keanggotaan di gym + kolam renang dan rutin mampir ke sana. Tempatnya ada di antara kantor dan kos, jadi saya bisa ke sana sepulang kantor di hari kerja. Akhir pekan perginya pagi-pagi jam 7, sebelum tergoda guling-guling di kasur lagi.

Saat tidak bisa ke gym, saya latihan yoga di kamar dengan lihat video Youtube. Pokoknya setiap hari menggerakkan tubuh, bagaimana pun caranya. Membangun kebiasan itu intinya sedikit-sedikit sampai jadi bukit. Yang penting ada usaha rutin meski kecil.

Baru-baru ini saya berenang dan di dalam air saya teringat isi buku “The Subtle Art of Not Giving A Fuck” oleh Mark Manson, bab tentang tanggung jawab. Intinya kita selalu bertanggung jawab atas apa yang kita alami, baik itu salah kita atau bukan. Kita yang memilih cara menginterpretasi dan menyikapi segala hal yang terjadi dalam hidup. Jadi sekarang saya memilihーmeski kadang terasa payah dan sia-siaーuntuk terus olahraga dan menghargai diri saya yang berusaha.

Seperti kata Jolin Tsai di video musik “Life Sucks,” mungkin bulan April yang negatif kemarin adalah persiapan untuk perjalanan hidup selanjutnya.

Share this:

One thought on “Usaha Balik Sama Mantanku, Si Olahraga

Tinggalkan Balasan