Kisahku dengan Si Depresi

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kalian yang berjuang dalam rasa sakit, khususnya yang belum bisa bersuara untuk minta tolong.

PERINGATAN: Ada deskripsi tentang pikiran-pikiran bunuh diri.

Sadar

Saya baru sadar bahwa saya punya masalah waktu usia 21 tahun. Waktu itu hari wisuda teman baik saya, sebut saja namanya Asa. Setelah acara formal selesai, bukannya ikut merayakan dengan teman-teman lain, saya malah pergi ke koperasi mahasiswa. Berhenti di depan rak alat-alat tulis, hendak memilih cutter. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah membeli cutter dan membawanya pulang ke kamar kos untuk mengakhiri rasa sakit yang terus-terusan melanda.

Untungnya saya tidak jadi beli. Yang saya lakukan adalah pergi ke kos teman saya (sebut saja Rani). Sambil menangis, saya bercerita tentang pikiran bunuh diri yang saya miliki.

Hari itu di awal tahun 2015, saya sadar akan dua hal:

  1. Saya punya masalah dengan kesehatan mental.
  2. Saya bukannya mau mati; saya itu mau hidup dengan damai, tapi belum tahu caranya.

Menengok Kembali

Momen “aha!” itu membawa saya ke penemuan-penemuan lainnya.

Pertama, ternyata saya sudah memiliki masalah sejak SMA. Katya versi remaja kadang suka berbaring di tempat tidur dan membayangkan bagaimana rasanya kalau wajah saya dibekap atau kepala saya masuk ke bak air sampai kehilangan napas. Kalau menyeberang jalan, kepikiran bagaimana kalau lompat ke depan mobil yang melintas. Bahkan ketika usia 19 tahun, ketika saya sedang menjalani program pertukaran pelajar di Jepang, impian sejak kecil. Meski sedang menjalani hari-hari ketika impian jadi nyata, saya masih sering pulang ke kamar asrama, membayangkan bagaimana kalau gantung diri di sana.

Kedua, pemicu pikiran bunuh diri (pada saat itu) ada di rasa minder yang saya miliki sejak muda. Di bangku SD saya menimba ilmu di sekolah yang hanya punya satu kelas untuk tiap angkatan. Di sana saya bisa bergaul dengan baik dan tidak ada kecemasan berarti. Namun mulai SMP saya berada di lingkungan di mana ada lebih dari seratus murid di tiap angkatan, dan saya mulai menyadari “keanehan” saya.

Biasanya tiap anak punya teman yang jadi “gerombolan” mereka. Si A pasti sama si B waktu jam istirahat. Saya tidak seperti itu.

Saya tidak menyendiri, aktif ikut ekstrakurikuler dan berteman dengan cukup banyak orang, meski saya bukan level “si populer” yang dikenal oleh anak-anak satu sekolah. Namun saya merasa sendiri. Saya merasa aneh.

Ketika umur 21 (saat saya hampir beli cutter), saya baru pulang dari program pertukaran pelajar selama 1 tahun di Jepang. Saya harus berpisah dari teman-teman main saya selama 12 bulan lamanya, dan ketika pulang saya sudah tidak lagi mengikuti kelas-kelas yang sama dengan mereka. Mungkin jarak itu (beserta penyakit saya) yang membuat saya berpikir aneh-aneh. Saya jadi su’udzon. Tiap main dengan mereka, saya berpikir, “Jangan-jangan mereka cuma ngajak aku main karena sungkan.”

Saya merasa sendiri ketika bersama teman-teman. Rasanya sakit. Rasanya tidak tertahankan sampai-sampai saya pikir saya mau mati.

Melangkah

Setelah mengambil langkah pertama (cerita ke teman saya Rani), saya terus berjalan dan menghadapi penyakit saya. Saya akhirnya sadar bahwa saya merasa sendiri karena saya memang belum pernah berusaha terbuka dan mengundang orang lain “masuk”. Akhirnya saya mulai belajar bercerita dan meminta tolong. Saya cerita ke bapak saya, teman saya si Asa, dan lama-lama makin banyak orang yang saya ceritakan. Sekarang seluruh keluarga inti saya tahu, teman-teman terdekat saya tahu, bahkan teman-teman online yang belum pernah saya temui langsung juga tahu.

Saya berusaha mencari bantuan dari agama. Meskipun belum berhasil, mungkin karena usaha saya kurang keras atau belum bertemu guru yang tepat.

Saya juga meminta bantuan tenaga ahli. Meskipun psikiater pertama saya hanya memberi obat antidepresan dan tidak memberikan terapi apa pun, dan saya yang tidak sabaran pun langsung berhenti menemuinya karena tidak merasa terbantu.

Saya berusaha mengubah gaya hidup saya. Salah satu perubahannya adalah bertemu dengan hobi lari, hal yang dulunya saya pikir tidak mungkin saya sukai. Hobi baru ini mengajarkan saya bahwa saya bisa belajar dan berubah, dan ini cukup membantu dalam melawan si Depresi yang selalu berusaha menjatuhkan nilai dan kepercayaan diri saya. Menulis blog pun jadi salah satu senjata saya dalam memerangi si Depresi.

Puji Tuhan, Allah, Yang Maha Kuasa di atas sana, selain depresi, saya juga diberkahi dengan daya juang yang tinggi. Saya pun bisa terus melangkah.

Naik Turun

Meski bisa terus berjalan, bukan berarti tiap langkah itu selalu mudah. Dalam kondisi mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, kadang saya merasa berat. Ada hari-hari ketika saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Di saat-saat seperti itu kadang saya malah tidak bisa minta bantuan ke orang-orang terdekat saya. Karena di saat si Depresi datang, semuanya jadi tidak berarti. Yang ada cuma keputusasaan, atau kekosongan. Biasanya saya cuma bisa menunggu sampai si Depresi pergi.

Dulu saya merasa kondisi itu sudah cukup. Pokoknya saya tidak melukai diri sendiri dan orang lain. Namun lama kelamaan saya tidak puas. Saya merasa si Depresi menghalangi saya untuk mencapai potensi maksimal saya. Hal-hal yang saya sukai tidak lagi membuat saya bergairah. Target-target hidup saya malah menjadi beban. Saya jadi tidak bisa bertemu dengan orang-orang dan kesempatan baru karena cemas berlebih. Bahkan saya memutuskan hubungan dengan pacar saya setelah 5 bulan karena saya tidak tahan dengan rasa gelisah yang saya duga timbul akibat si Depresi.

Si Depresi ini juga menunjukkan tanda-tanda akan mengancam kemandirian saya dalam hidup sehari-hari. Pernah suatu hari di kantor ada sedikit masalah. Hal sepele sebenarnya, tapi saya sampai harus kabur ke tangga darurat dan menangis di sana. Satu jam lamanya saya tidak bisa bangun.

Akhirnya di usia 24 tahun saya memutuskan untuk meminta bantuan profesional lagi. Saya pergi ke rumah sakit jiwa di Jakarta dan meminta bantuan psikiater. Dokter memberi saya obat racikan dan menyarankan saya untuk rutin bertemu dengannya dan menjalani terapi psikodinamis. Katanya terapi ini akan membantu saya mencari sumber agresi yang menimbulkan depresi. Obat akan diberikan sampai saya stabil. Perkiraan dokter saya bisa lepas dari obat kira-kira setelah 6 bulan. Terapinya sendiri mungkin perlu minimal satu tahun karena saya sakitnya sudah cukup lama.

Ke Depan

Sudah bertahun-tahun saya berkutat dengan si Depresi. Mungkin saya masih harus hidup dengannya selama bertahun-tahun ke depan. Namun saya optimis karena saya cukup kuat untuk minta tolong. Dengan kekuatan ini, bantuan orang-orang sekitar, dan berkah dari Tuhan, saya yakin saya bisa menemukan cara untuk hidup yang benar-benar hidup, hidup dengan damai di dalam diri meski di luar dilanda kekacauan.

Untuk Kalian yang Juga Sedang Berjuang (Atau Menemani Perjuangan Orang Tercinta)

Ambil langkah pertama itu. Langkah-langkah selanjutnya tidak akan jadi lebih mudah, tapi kalian punya orang-orang yang bisa membantu. Kalau mau berbagi keluh kesah, pasti ada orang di sekitar kalian yang mau membantu. Kalau ternyata tidak ada, saya bersedia mendampingi kalian dan melangkah bersama. Jangan ragu untuk meminta bantuan tenaga ahli. Jangan sungkan juga untuk hubungi saya kalau ingin berbagi.

Ayo kita terus berjuang, dan semoga Tuhan memberkahi perjuangan kita.

Share this:

18 thoughts on “Kisahku dengan Si Depresi

  1. hai katya!
    bingung ngomongnya gimana, yg jelas kaget sih baca tulisanmu Ini. abisnya km selalu ceria sih..
    aku juga sedang mulai berjuang menghadapi 鬱. baru mulai konsul ke dokter. まだ何も見えない状態だけどとりあえず自分のペースでゆっくり向き合っていこうと思ってる。
    Katyaもこのブログを書けるようになるまで色んな事を乗り越えてきたんだと思うし、まずはお疲れ様って言いたい。そして、これからも頑張れるように応援していく! 私も頑張るね!

    1. Mbak Daniiiiii
      コメントくれてありがとうございます~
      ゆっくり、進んで行きましょう。
      私もMbak Daniを応援します!

    1. Aliyah-san, thank you!

      Aku sebenernya terinspirasi juga dari tulisan Aliyah-san. Makanya aku posting ceritaku.

      Setelah aku posting ini, sudah sekitar 10 orang kontak aku, ceritain kisah mereka.
      Ada yang baru pertama cerita ke orang lain.
      Ada yang bingung minta bantuan gimana.

      Aku seneng bisa bantu mereka tahu kalau mereka nggak sendiri.
      Ini berkat Aliyah-san 🙂

  2. KATIMOOOON THANK U FOR THIS RAW AND HEARTFELT POST, THANK U FOR SHARING YOUR STORY IM STRUGGLING WITH ANXIETY AND MILD DEPRESSION TOO, THANK U FOR EXISTING, THANK U FOR BEING U. 🌻 ps: selama SMA aku selalu memandang sosok Katimon sebagai seseorang yg keren. One of a kind.

  3. Katya, apa kabar.
    Tulisanmu lugas, dan membantu saya utk memahami persoalan mhsiswa. Ada beberapa kasus seperti yg Katya hadapi menimpa beberapa mahasiswa. Terima kasih sharing nya ya. Tetap semangat. Olah raga memang banyak membantu karena akan menghasilkan enzim pemicu rasa bahagia (sy lupa namanya). Klo ditambah renang/zumba/yoga, mungkin akan lebih menyenangkan. Semangat ya.

  4. Dua poin yang bisa saya ambil dari cerita kak Katya. Pertama, ada kemauan untuk meminta tolong, ini kesadaran yang belum tentu orang lain miliki. Kedua, kemauan dan usaha untuk berjuang menghadapi Si Depresi.
    Salam kenal dari mahasiswa psikologi yang gak luput dari depresi juga. Walaupun saya rasa masih ringan atau sedang karena tidak sampai ke pikiran melukai diri bahkan bunuh diri, tapi saya sangat terganggu dengan hidup yang stagnan saat ini. Target dua tahun terakhir banyak gagalnya, hingga membuat saya hampir putus asa. 😔
    Terimakasih sudah berbagi tulisan ini, semangat berjuang kak. 🤗

  5. terima kasih katya san…. saya sedang dilanda kondisi tersebut dan saya juga terkena mild depression. setelah membaca tulisan katya hampir semuanya plek dgn yg saya alami saat ini…

Tinggalkan Balasan ke Aliyah Rizky Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *