Teman Tidur

Inilah yang aku impikan sejak dulu. Kehangatan di samping tubuhku, menemani istirahat malam di atas kasur. Oh, betapa nikmatnya. Aku pun memeluknya erat.

Di batas kabur kesadaran, pikiran-pikiran melintas di kepalaku.

Tunggu, aku kan jomblo.

Aku kan nggak punya guling.

Berarti yang aku peluk…

Rasanya ada suara kecil di sudut benakku yang berkata jangan, tapi namanya orang lagi ngantuk, dan dasarnya aku memang tidak cerdas. Aku bukalah mataku.

Dar.

Dag, dig, dug, dag dig dug, dagdigdug, dagdigdug dagdigdug. Jantungku, ya Tuhan. Berdetak begitu kencang sampai aku heran kenapa jantung ini belum copot.

Yang aku lihat begitu membuka mata adalah wajah gelap layaknya dioles dengan tanah dan lama tak dicuci. Kepalanya dibalut kain putih dan diikat di atas. Pocong.

Mau teriak, tidak ada suara yang keluar. Akhirnya aku harus puas dengan mengumpat-ngumpat di dalam pikiran, sambil berusaha mundur menjauh dari sosok teman tidurku.

Sudah sampai di ujung kasur, sebentar lagi tubuhku akan jatuh ke lantai. Bodoh amat, pikirku. Yang penting menjauh dari mimpi buruk ini.

Namun belum selesai aku menjalankan niat untuk kabur, sang pocong membuka mulutnya.

“Yah, abang. Toh sama-sama jomblo. Temenin lah. Eke kesepian nih. Situ juga, kan?”

Share this:

Tinggalkan Balasan