Dini

Ternyata yang kami lihat berbeda.

Aku melihat pesona di kemandiriannya, manis di pipi cempluknya saat kesal, indah yang memancar dari dirinya.

Bukan berarti yang lainnya tak tampak. Aku juga melihat kasar di sikapnya saat ada masalah, lemah di balik kata-kata tegasnya, dengki yang kadang melintas di matanya.

Tapi ya sudah. Memang begitu adanya manusia. Memang begitu aku mencintainya.

Ternyata yang kami lihat berbeda.

Di matanya hanya tampak cacat, gores, luka. Di benaknya hanya ada buruk, jelek, hina.

Aku melihat dia seutuhnya. Dia melihat dirinya kurang dari itu.

****

“Din.”

Aku memanggilnya pelan. Bukan karena tidak ingin mengagetkannya, tapi lebih karena tidak ingin rasa takutku menunjukkan keberadaannya.

Dini sedang duduk di ruang keluarga, di sofa dekat jendela. Dari tadi dia menengok ke kanan, pandangan mengarah ke halaman di luar jendela. Kalau saja di bola matanya terpantul hijau segar tanaman, aku tidak akan merasa takut. Namun ketika ku mendekat dan memperhatikan, yang ada hanya kosong.

Mendengar suaraku, Dini menoleh. Kosong mulai memudar dari matanya, dan aku pun menghembuskan napas lega.

Sudah setahun terakhir aku berusaha menghapus kosong dari kedua bola matanya yang indah. Karena kosong itu bukan hampa, melainkan depresi yang menjelma.

“Kenapa Dan?” Mata Dini kini menunjukkan tanya dan heran.

Aku mencoba tersenyum jahil. “Manggil aja.”

Hangatnya dadaku begitu Dini tertawa. Senyumku melebar ketika dia balik berkata.

“Dan.”

“Din.”

“Dan, Dan.”

“Din, Din.”

Pagi itu tawa kami memenuhi ruang keluarga. Satu hari lagi dimulai dengan cocktail takut dan ceria. Namun aku tak pernah ragu. Berat, tapi tak pernah sekali pun aku berpikir untuk pergi. Dini sudah rutin ke dokter dan kegiatan sehari-harinya hampir tidak ada masalah. Pasti baik-baik saja.

Lebih lagi, dengan hebatnya rasa cinta yang menyelimutiku tiap saat melihat Dini, bagaimana bisa aku meninggalkannya?

***

Sambil turun dari mobil aku menggerakkan jempol kananku di atas layar ponsel. Tiga jam lalu aku mengirim pesan pada Dini bahwa aku sedikit lembur. Hanya di-read. Mungkin tadi waktu baca Dini sedang sibuk dengan kerjaan dan tak sempat membalas.

Optimis. Itu kata-kata yang sering aku dengar dari orang-orang sekitar untuk menggambarkanku. Aku menganggapnya sebagai pujian. Aku suka dengan sifat optimisku.

Hari ini aku mengutuknya.

Aku buka pintu rumah dan masuk dalam gelap. Sifat optimisku berkata, mungkin Dini lembur juga.

Namun setelah satu persatu saklar lampu kutekan dan gelap hilang ditelan cahaya, sosok Dini tampak sedang duduk di sofa dekat jendela ruang keluarga. Aku berjalan mendekati cintaku dan setiap langkah mengubah optimis menjadi pesimis.

Dini menoleh menghadap jendela. Tubuhnya kaku tak bergerak, botol kosong obat tergeletak di sebelah tangannya.

***

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan menulis dari Katahati.

Tantangan Kedelapan: Tafsir Gambar ke dalam Cerpen

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *