Resensi Puisi: “Ekor Matanya Sebatang Pensil Warna”

Menggugah simpati dengan sedikit kata. Itu yang saya kagumi dari banyak karya tulis hebat, seperti  puisi “Ekor Matanya Sebatang Pensil Warna” oleh Amel Widya.

Awalnya judul puisi ini membuat saya bertanya-tanya. Apa maksudnya? Namun kebingungan itu dengan cepat berubah menjadi pemahaman di dua bait pertama.

Menggugah rasa penasaran dengan judul lalu langsung menarik perhatian dengan sedikit kata. Coba lihat kalimat pertama, “Hingga dua belas tahun perkawinan kami, ia masih melukis perempuan-perempuan di kepalanya.” Satu kalimat ini sudah cukup memberikan gambaran kondisi tokoh sekaligus membangkitkan simpati terhadap tokoh.

Satu hal yang masih menyisakan misteri. Sebenarnya saya masih bingung dengan Jenderal Penjual Senyum di bait terakhir. Sebenarnya siapa yang dimaksud? Apakah si tokoh utama? Atau pasangannya. Apa yang dimaksud dengan turun dari takhta? Pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala saya, tapi ini tidak masalah. Mungkin suatu saat ketika membaca puisi ini lagi, saya akan mendapat sudut pandang dan pemahaman baru. Saya sangat menantikan saat itu.

***

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan menulis dari Katahati.

Tantangan Ketujuh: Mengulas Puisi

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *