Agamamu Apa?

Dulu saya menjawab “Islam” sesuai Kartu Keluarga. Sekarang saya bilang “Belum pilih mana-mana.” Sudah lelah berbohong.

Reaksi orang macam-macam. Ada yang santai, “Oh gitu ya.” dan lanjut ngobrol. Ada yang bertanya, “Kalau keluarga? Di KTP bagaimana?” Setelah saya jawab “Islam”, mereka akan “menceramahi” saya. Tidak apa-apa. Saya maklum. Kan memang sudah jadi ajaran Islam bahwa muslim wajib berdakwah dan menyebarkan agamanya. Dakwahnya berhasil atau tidak, itu urusan belakang.

Saya percaya dengan adanya Tuhan. Namun entah kenapa, saya belum bisa meyakini agama mana pun. Belum, tolong digaris bawah ya. Saya memang masih mencari.

Apa salahnya mencari? Apa saya manusia gagal karena tidak bisa serta merta meyakini agama yang dituliskan untuk saya di KK sejak lahir? Yakin itu butuh tekad dan keberanian. Saya kagum dan menghormati teman-teman yang sudah bisa meyakini kepercayaannya masing-masing. Bersyukurlah kalian.

Silakan kalau mau berdakwah kepada saya. Saya bersedia belajar. Namun kembali lagi pada cara dakwahnya. Sudah terlalu sering saya mendapat dakwah yang terkesan menggurui dan malah membuat saya makin menjauh.

Saya mencari cara belajar yang pendekatannya ke bagaimana kita bisa berperilaku baik terhadap sesama manusia dan lingkungan. Jadi tolong jangan mengajak saya yakin dengan iming-iming surga dan ancaman neraka. “Nanti masuk neraka, lho.” Tidak perlu seperti itu. Kalau saya masuk neraka, nanti saya tidak akan menyeret Anda ikut. Toh Anda sudah melakukan kewajiban dengan berusaha menyebarkan agama Anda.

***

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan menulis dari Katahati.

Tantangan Kelima: Unpopular Opinion

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *