Budaya Kepo vs. Budaya Baper

Mana yang salah? Orang yang suka kepo atau orang yang gampang baper?

Made with Canva

Sering kita dengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

“Kapan skripsi selesai?”

“Kapan nyusul Dik Rini nikah?”

“Kapan si kecil dikasih adik?”

Pertanyaan-pertanyaan kepo seperti itu sudah begitu umum. Rasanya tak terhindarkan setiap acara keluarga, reuni, atau bahkan saat sekadar keluar rumah untuk buang sampah. Nampaknya memang sudah membudaya di masyarakat kita.

Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan-pertanyaan itu menyinggung, bikin baper, dan tidak sepantasnya diajukan. Namun coba kita lihat dari kedua sisi.

Si penanya harusnya bisa tanya hal lain, kan? Namun mungkin mereka tidak punya topik menarik dalam hidupnya, jadi cuma bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepo seperti di atas.

Yang ditanya harusnya bisa cuek dan masa bodoh, kan? Namun mungkin mereka baper karena victim mentality-nya kuat, merasa kalau pihak penanya tidak hanya bertanggung jawab atas rasa sakit/malu/risih dsb. yang ditimbulkan oleh pertanyaannya, tapi juga bertanggung jawab atas respon orang yang ditanya.

Menurut kalian mana yang salah? Mana yang harus mengalah dan mengubah budayanya? Atau kedua pihak bisa kompromi?

**********************************************************************************

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan menulis dari Katahati.

Tantangan Kedua: Ceritakan Budaya yang Ada di Lingkunganmu

Share this:

Tinggalkan Balasan