7 Hari Backpacker di Jepang: Seminggu Penuh Perkenalan Kembali

Terbayang wisata dengan orang yang pernah berantem sama kamu? Itu salah satu cara refreshing saya: menghabiskan 7 hari travelling bersama orang yang pernah bertengkar dengan saya di depan publik.

Sudah satu tahun ini saya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Setelah menghabiskan waktu cukup lama sebagai full-time freelancer yang serba fleksibel, saya pikir saya tidak bisa diam duduk di ruangan dalam waktu yang sudah ditentukan. Eh, ternyata bisa bertahan selama satu tahun.

Meski bisa menyesuaikan diri dengan kerja kantoran, saya tetap butuh refreshing sesekali dengan travelling. Tujuan kali ini Jepang. Negara ini sudah menggugah minat saya sejak duduk di bangku SD, dan hingga sekarang saya masih bersentuhan dengan bahasa dan budayanya dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan ini membuat saya merasa aman memilih Jepang sebagai destinasi.

Nah, untuk rekan seperjalanan, pilihan saya adalah Mimin. Mimin adalah teman saya sejak kami berdua satu angkatan di jurusan yang sama saat kuliah dulu. Entah di semester 3 atau 4, kami pernah bertengkar di depan teman sekelas.

Mimin dan Katya, rekan travelling
Photo by Miho Moriya

Untuk tips wisata seminggu di Jepang, coba baca tulisan saya yang lain: “Wisata Ala Backpacker 7 Hari di Area Tokyo“.

Saya percaya, berkat pertengkaran itu, saya dan Mimin jadi cukup dekat sampai kami bisa travelling berdua. Ya, itu karena kami berhasil menyikapi perselisihan dengan dewasa dan baikan. Mungkin kalau tidak pernah bertengkar (dan akhirnya baikan), hubungan kami tidak seperti sekarang.

Sejak jauh-jauh hari kami membuat rencana. Berburu tiket pesawat di Japan Travel Fair yang diadakan pada bulan Maret di Kota Kasablanka. Dengan tujuan mengincar momiji alias pemandangan daun merah musim gugur, akhirnya kami memutuskan berangkat bulan November.

 

Pertemuan dengan Orang Baru

Sarapan di lounge hostel yang pewe

Saat travelling, kita sering menghadapi situasi di mana kita jadi bergantung pada orang sekitar. Pada saat seperti itu, hubungan dengan orang baru sering terjalin secara tidak terduga. Misalnya di hari kedua perjalanan kami. Waktu itu kami menginap di hostel Khaosan Tokyo Samurai. Pagi-pagi saya bangun, lalu tanpa pikir panjang langsung keluar dormitory room dan ke kamar mandi. Tanpa membawa kunci maupun handphone. Padahal pintu menuju dormitory room itu terkunci otomatis ketika keluar.

Karena tidak membawa handphone, saya tidak bisa menghubungi Mimin. Ingin mengetuk pintu, tapi takut mengganggu penghuni kamar yang lain. Terpikir untuk meminta bantuan resepsionis, tapi resepsionis baru buka jam 9.

Sebenarnya di resepsionis disediakan telepon untuk momen darurat seperti ini. Namun saya memilih naik ke lounge di lantai 5. Di sana ada PC yang bisa dipakai oleh semua tamu. Saya pakai PC itu untuk menghubungi Mimin. Sambil menunggu Mimin bangun dan melihat pesan saya, saya menikmati teh panas yang disediakan gratis oleh hostel sambil menonton berita di TV.

Saat itu datang seorang kakek. Dia kelihatannya seperti orang Jepang. Si kakek menikmati sarapan di meja sebelah. Sarapannya lengkap dengan buah-buahan sebagai penutup. Saya berpikir untuk mengajaknya ngobrol setelah ia selesai makan. Namun Mimin keburu datang dan kami pun sontak menertawakan kekonyolan saya.

Ternyata sang kakek tadi mendengar potongan kata-kata bahasa Jepang yang kami gunakan dan tiba-tiba mengajak bicara. Kami pun ngobrol panjang lebar bertiga sampai Mimin sudah cukup bangun untuk berjalan turun membeli sarapan.

Selama menginap tiga malam di hostel ini, kami beberapa kali bertemu dengan kakek itu dan bertegur sapa. Rasanya senang melihat wajah familiar dan saling bertukar senyum dan obrolan setiap pulang.

 

(Akhirnya) Berjumpa dengan Klien

Sudah jauh-jauh ke Tokyo, saya sempatkan bertemu dengan klien-klien yang sudah saya kenal sejak 2014.

Pertama saya berkunjung ke kantor MATCHA. Saya sudah menjadi penerjemah Jepang-Indonesia untuk situs wisata Jepang MATCHA sejak 2014, dan menjadi koordinator tim Indonesia sejak 2015.

Selama bekerja bersama, saya pernah beberapa kali video conference dengan mereka, tapi baru kali kami punya kesempatan bertatap muka. Rasanya aneh juga; orang-orang yang biasa saya lihat dari balik layar saat itu berada tepat di depan mata.

Saya diperkenalkan kepada sekitar 30 orang karyawan, lalu diajak makan siang dengan beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan saya.

Akhirnya ketemu

Klien kedua yang saya kunjungi adalah perusahaan lokalisasi konten yang berbasis di Minato-ku. Saya banyak menerjemahkan subtitle Jepang ke Indonesia dan Inggris untuk mereka, dan juga pernah mengelola tim penerjemah untuk proyek mereka.

Sambil mengobrol kami mengenang kembali hubungan kerja kami. Dulu saya kenal perusahaan ini berkat senior saya yang mengirimkan link trial penerjemah. Sejak itu hubungan kami berlanjut. Saya mengelola tim penerjemah untuknya dan tim kami terus bekerja sama. Sampai-sampai ada anggota tim yang jadi karyawan tetap di perusahaan ini.

Hubungan saya dengan kedua klien telah terjalin selama 4 tahun. Dengan bertemu langsung, semoga ke depannya kerja sama kami bisa lebih baik lagi.

 

Reuni dengan Teman-teman

Teman-teman dari masa kuliah cukup banyak yang tinggal di area Tokyo. Syukurlah saya sempat bertemu dengan beberapa dari mereka. Ada teman-teman yang sampai sekarang masih sering komunikasi lewat chat, jadi sebenarnya pertemuan ini tidak terasa seperti reuni. Tapi tetap saja, ketemu langsung > via online!

Foto agak ngeblur, reuni Sasjep UGM

Ada obrolan-obrolan yang hanya muncul ketika kami berhadapan langsung, canda tawa yang lebih meriah daripada teks di aplikasi chat.

Kali ini di Tokyo saya juga bertemu teman yang sudah tidak saya jumpai selama 5 tahun!

Reuni setelah 5 tahun

Meski telah sekian lama tidak bertatap muka, kami masih bisa “nyambung” dan asyik mengobrol.

 

“Perkenalan Kembali” dengan Mimin

Selama 7 hari 6 malam di Jepang, orang yang paling lama saya habiskan waktu bersama tentu saja, Mimin. Kami pergi ke mana-mana hampir selalu bersama, kecuali hari ke-6 yang kami lalui sendiri-sendiri.

Meski sudah saling mengenal lebih dari 7 tahun, tentunya masih ada banyak hal yang belum saya ketahui tentang Mimin. Ada sisi yang baru bisa kita lihat setelah menghabiskan waktu bersama secara langsung, apalagi dalam periode yang relatif lama. Seminggu bersama Mimin cukup untuk membuat saya melihat sisi lain dirinya dan berkenalan kembali.

Saya melihat Mimin yang banyak berhenti untuk foto bunga-bunga cantik. Mimin yang bahagia dan imut ketika video call dengan pacarnya. Mimin yang jadi pendiam ketika merasa kesal. Mimin yang perhatian dan selalu menawarkan untuk membawa koper paling berat karena kaki saya habis patah 2 bulan lalu. Mimin yang kalau bicara volumenya relatif besar dan geraknya mengeluarkan banyak suara.

Kami punya persamaan dan perbedaan, dan keduanya membuat kami cocok.

Kami sama-sama suka wisata yang santai. Bangun tanpa terikat waktu. Tidak terburu-buru untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat wisata dalam satu hari. Gaya travelling kami sama: fleksibel dengan rencana.

Perbedaannya juga ada. Saya tipe orang yang suka bersiap dan mencatat. Membagi-bagi uang ke dalam amplop berbeda supaya kami tidak berlebihan dalam belanja dan kehabisan uang di hari terakhir, mencatat pengeluaran dan mengatur berapa banyak yang bisa kita habiskan untuk belanja hari itu.

Sedangkan Mimin berperan sebagai ahli tentang arah dan peta. Tanpa dia sebagai navigator, saya akan berputar-putar di blok yang sama selama 1 jam. Ia jauh lebih mampu membaca peta dan menghubungkan visual 2D itu ke kenyataan.

Kami saling memaklumi dan berkomunikasi. Kalau Mimin berbicara terlalu keras di dalam ruang dormitory hostel, saya ingatkan untuk mengecilkan volumenya. Di sisi lain, Mimin menoleransi saya yang terlalu kaku soal uang dan melarangnya belanja banyak-banyak.

Menghabiskan 7 hari bersama dalam kondisi rileks memberi waktu untuk lebih mengenal pribadi masing-masing. Kami banyak mengobrol sambil jalan, atau sambil menikmati ramen dan karaage di festival.

 

Rasanya seperti kami berkenalan lagi 8 tahun setelah pertemuan pertama. Katya dan Mimin saling berkenalan dengan satu sama lain yang lebih riil, yang tidak semua orang pernah temui.

 

Akhir Perjalanan

Sebenarnya saya cukup menyukai travelling sendiri. Sudah 8 tahun merantau, hampir semua hal saya lakukan sendiri, termasuk wisata. Beberapa kali saya pergi solo travelling, di dalam negeri maupun luar negeri.

Tapi tak peduli sendiri atau beramai-ramai, tiap perjalanan selalu menghubungkan saya dengan orang lain. Itu yang saya sadari kali ini.

Setidaknya tiga poin di atas sudah bisa saya centang untuk saya dan Mimin.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *