Tips Cari Job Untuk Penerjemah/Interpreter Freelance

Saya mulai bekerja sebagai penerjemah/interpreter freelance sejak 2014. Bahasa asing yang saya tangani adalah Jepang dan Inggris. Beberapa pengalaman saya bisa dilihat di Portofolio dan Linkedin.

Pengalaman saya mungkin belum terlalu banyak dibandingkan dengan para penerjemah senior, tapi saya coba mengambil pelajaran yang bisa didapat dan berbagi dalam 3 tips ini.

 

Tips 1: Komunikasikan

Hampir 100% pekerjaan saya dapat dengan bantuan dari orang lain. Ada yang dari senior kuliah, ada yang dari mahasiswi Jepang yang belajar di kampus saya. Berbagai job dalam beberapa tahun belakangan datang dari klien-klien saya yang sebelumnya.

Saya tidak terus-terusan bilang pada semua kenalan, “Lagi cari job nih, ada info nggak?” Yah, sesekali seperti itu, tapi biasanya cukup dengan mengobrol. Membicarakan hal-hal yang tidak selalu terkait dengan pekerjaan. Asal terus berusaha menjaga hubungan, sambil mengasah kemampuan dan menunjukkannya dalam kegiatan sehari-hari, biasanya orang akan melihat dan memikirkan kita ketika ada info job atau lowongan.

Manfaatkan juga medsos. Di sela update status makan-makan, posting juga foto atau status tentang pengalaman terjemahan yang sudah dilakukan. Belum punya pengalaman? Upload contoh terjemahan artikel/cerpen/lagu/dsb. untuk menunjukkan minat dan kemampuan kita. Bisa juga buat akun Linkedin, atau blog seperti ini dan buat laman portofolio.

Made with Canva

Tips 2: Coba Aja

Siapa pun pasti pernah mulai dari nol. Kadang kurangnya pengalaman membuat kita takut untuk mengambil pekerjaan pertama. Tapi kalau tidak coba diambil, kapan mulai mengisi portofolio kita?

Saya pernah merasa ragu mengambil pekerjaan, bahkan setelah berkecimpung di dunia ini selama beberapa tahun. Waktu itu tawarannya adalah menerjemahkan karya ilmiah dan menjadi interpreter untuk workshop dan pidato di sidang senat. Ini termasuk rangkaian acara Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta tahun 2017. Keraguan saya datang dari banyak hal. Mulai dari topik seni yang jelas saya bukan ahlinya, hingga nuansa pekerjaannya (Sidang senat! Di hadapan para guru besar!)

Namun saya memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini, dan ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Dengan persiapan yang cukup, saya bisa melaluinya dengan relatif baik. Saya bersyukur sudah mengambil kesempatan ini. Setidaknya sekarang saya sudah pernah satu kali menerjemahkan soal seni di sidang senat. Pengalaman!

Sumber foto: ISI Yogyakarta

Kadang ada rasa ragu karena merasa kemampuan diri belum cukup. Ada yang beralasan level JLPT belum N1. Tapi sebenarnya ujian kemampuan bahasa bukan satu-satunya patokan. Berdasarkan pengalaman saya, ada klien-klien, baik untuk job terjemahan maupun interpreting, yang tidak menanyakan nilai  TOEFL atau level JLPT saat membicarakan penawaran job.

Nyatanya memang sertifikat tidak menjamin. Kemampuan yang dites di ujian ada yang berguna di penerjemahan/interpreting, tapi bukan segalanya.

Kebanyakan ujian bahasa hanya menguji kemampuan berbahasa yang pasif, yaitu membaca dan mendengar. Keduanya dibutuhkan dalam penerjemahan/interpreting, tapi tidak akan lengkap tanpa kemampuan aktif yaitu menulis dan berbicara. Ingat, dalam menerjemahkan kita tidak hanya dituntut memahami pesan dalam bahasa sumber, tapi juga menyampaikannya kembali dalam bahasa target.

Kemampuan ini biasanya tidak diuji dalam tes bahasa (kecuali TOEFL iBT dan IELTS yang punya seksi Writing dan Speaking). Kita bisa kembangkan kemamuan berbahasa aktif dalam sehari-hari, melalui kegiatan-kegiatan yang menuntut kita untuk mengungkapkan maksud secara terstruktur melalui tulisan maupun lisan.

Mengubah sudut pandang mungkin akan membantu. Coba maklumi bahwa diri kita memang belum cukup berkemampuan/berpengalaman, dan lihat pekerjaan yang ditawarkan sebagai kesempatan untuk belajar. Mungkin dengan ini kita bisa lebih menghadapi rasa takut dan memaklumi kesalahan.

Made with Canva

 

Tips 3: Beri Nilai Ekstra

Hal menarik yang saya amati dari berbagai pekerjaan yang saya tangani: kalau kita mau memberi lebih, biasanya klien akan menghargai lebih juga.

Misalnya di tahun 2014. Waktu itu saya mendaftar sebagai penerjemah freelance untuk perusahaan lokalisasi konten berbasis di Jepang. Saya diminta menerjemahkan proyek trial berbentuk konten video. Kebetulan ada kondisi proyek yang menyebabkan saya harus mengerjakan ulang. Selain itu, waktu pengerjaan pas dengan berakhirnya program pertukaran pelajar 1 tahun di Jepang. Akhirnya saya menghabiskan 1 minggu terakhir di Jepang mengerjakan trial ini sambil sibuk pindahan. Bahkan saya masih mengerjakan trial beberapa menit sebelum naik pesawat.

Syukurlah hasil trialnya berhasil disetor oleh perusahaan itu ke klien. Mereka mengungkapkan apresiasinya dengan memberikan saya kupon kopi, dan yang paling penting, penawaran job selanjutnya. Di awal tahun 2015 saya diminta untuk mengumpulkan penerjemah freelance dan membentuk tim. Terbentuklah tim dan kami pun mulai menerjemahkan subtitle untuk TV.

Sambil menjalankan proyek ini (waktu itu berjalan cukup panjang, sekitar 2 tahun), saya terus berusaha untuk memberikan sesuatu yang ekstra. Memikirkan cara-cara agar kerja tim lebih efektif dan kualitas meningkat, berkoordinasi dengan anggota tim dan menjalankan langkah-langkah perbaikan. Ternyata itu membuat perusahaan mau menghargai lebih. Saya diberi honor bulanan yang tetap dan terpisah dari honor terjemahan.

Kejadian serupa saya alami dengan klien yang lain, MATCHA Inc. Saya sudah menjadi penerjemah Jepang-Indonesia untuk majalah online perusahaan ini, MATCHA Japan Travel Magazine sejak tahun 2014. Dalam pekerjaan ini saya rutin berkomunikasi dengan koordinator tim bahasa Indonesia. Belum setahun saya bekerja, ternyata sang koordinator berniat untuk berhenti, dan ia menawarkan kepada saya untuk menggantikan. Rupanya ia berpikir menawarkan pada saya karena selama jadi penerjemah, saya sering mendiskusikan usulan-usulan tentang terjemahan. Sepertinya ia menghargai insiatif ini dan melihat saya cocok untuk posisi koordinator.

Sama dengan klien yang lain, saya juga terus berusaha memberi nilai lebih untuk MATCHA. Akhirnya tim Indonesia bisa berkembang. Sekarang kami punya lebih dari 20 orang anggota, termasuk seorang rekan yang menjadi co-coordinator dan diberi honor tetap seperti saya.

Made with Canva

Itulah beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman sebagai penerjemah dan interpreter freelance. Ke depannya saya akan sharing lagi pengalaman lainnya, subscribe saja supaya tidak ketinggalan. Yang ada pengalaman bisa sharing juga di komen. Atau mau coba gabung dengan tim MATCHA Indonesia? Bisa komen atau hubungi saya.

Share this:

6 thoughts on “Tips Cari Job Untuk Penerjemah/Interpreter Freelance

  1. Selamat siang kak, sebelumnya saya sangat bersyukur bisa menemukan blog kakak yang memberikan tips menjadi seorang penerjemah bahasa Jepang.

    maaf kak, kalau boleh tahu untuk menjadi penerjemah freelance di MATCHA Inc. harus punya sertifikat JLPT level berapa?

    Terima kasih

    1. Hai! Terima kasih sudah mampir.
      Semoga tulisannya bisa membantu.

      Untuk jadi penerjemah MATCHA, level JLPT tidak diperhatikan.
      Penerimaan murni berdasarkan hasil trial.
      Calon penerjemah akan diminta menerjemahkan satu artikel untuk trial.

      Kalau ada pertanyaan lagi silakan hubungi saya ya ^^

  2. Hai, kak, saya mahasiswa sastra Jepang dan sedang mencari lowongan penerjemah freelance dan kebetulan menemukan blog kakak hehe. Terima kasih atas tips-tipsnya, kak! 😀

    Oh iya, apakah Matcha Inc. membuka lowongan untuk penerjemah freelance? Kalau iya harus apply ke mana dan apa saja yang perlu dilampirkan, ya?

    Terima kasih 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *