(Fiksi) Dari Perut Naik ke Hati

Saat aku masuk ke relax room, Dicky sudah on the way menyantap makan siangnya. Dia bawa bekal di tupperware kotak seukuran roti tawar. Aku bawa nasi bungkus dari rames seberang kantor.

Karena di mulut Dicky sudah ada makanan—begitu banyak sampai pipinya menggembung, seperti hamster yang lagi nyetok biji—dia cuma melirik dan mengangguk selagi aku mendaratkan pantat ke kursi. Sambil tersenyum, aku melepas steples dari kertas coklat bungkusanku.

“Ehem, yang dimasakin yayangnya nih,” godaku sambil menyendok sejumput nasi plus sayur tauge.

Continue reading “(Fiksi) Dari Perut Naik ke Hati”

Share this: