Melangkah, Tersenyum, Menyapa

Jalanan di Jogja penuh dengan senyum. Selama enam tahun tinggal di sana, saya biasa jalan kaki ke mana-mana. Sambil jalan menganggukkan kepala dan tersenyum. Ke pak becak yang ngetem di depan gang. Ibu-ibu yang nyapu jalan depan rumah. Pak sekuriti IONs. Wajah-wajah familiar yang saya tak kenal namanya.

Di saat gelisah memuncak. Ketika otak saya membuat segalanya rumit dan malah menganggap orang-orang terdekat sebagai beban. Merekalah penyelamat saya.

Enam bulan di Jakarta, saya sempat merasa kehilangan itu. Ke kantor jalan kaki sekitar 1,5 km. Dua puluh menitan. Ada wajah-wajah yang melekat di ingatan saking seringnya berpapasan. Hampir tak pernah kami bertukar sapa.

Tapi ini bukan salah ibu kota.

Di Jogja ada juga wajah familiar yang tidak saya sapa. Tukang tambal ban di bundaran UGM, seberang Mirota. Pernah sekali dua kali saya tersenyum padanya ketika lewat. Mungkin reaksinya kurang ramah atau bagaimana. Saya lupa kenapa, untuk waktu yang lama saya menghindari melihat bapak itu tiap lewat. Padahal mungkin waktu sekali dua kali saya sapa, bapaknya sedang tidak fokus, tidak sadar disapa. Mungkin juga ia cuma tidak terbiasa tersenyum. Coba kalau saya terus menyapa. Apa yang terjadi ya?

Yang jelas tidak akan ada yang terjadi kalau saya tidak bertindak. Semua dimulai dari tindakan sendiri.

Pagi ini saya jalan kaki ke kantor seperti 6 bulan terakhir. Sudah sepertiga jalan, ketemu dua kucing. Saya tidak pernah tertarik dengan hewan ini, tapi punya banyak teman yang suka. Jadi berhentilah saya. Keluarkan hape, rekam.

 

Pas di dekatnya ada bapak-bapak (mungkin lebih tepat kakek) jualan di pinggir jalan. Cuma dengan bangku dan kotak-kotak, sepertinya isi roti, rokok, dan minuman. Atapnya dedaunan pohon. Kami beradu pandang. Saya tersenyum. Kami mengobrol.

 

Katanya dua kucing itu dipelihara di kantor yang ada di pinggir jalan itu. Pantas, dua-duanya bersih, yang satu pakai kalung. Bapaknya jualan di situ dari subuh sampai habis maghrib. Kontrakannya di belakang kantor.

Malamnya waktu pulang. Jam enam lebih lewat jalan yang sama. Bapaknya masih ada, ada bapak-bapak lain di sebelahnya. Sempat berpikir mau lewat saja tanpa menoleh. Tapi saya menengok. Dari matanya terlihat kalau ia mengingat saya. Sambil jalan saya mengangguk dan tersenyum. Ia membalas. Saya terus berjalan.

 

Bonus: entah kenapa pulangnya ada kucing sok pdkt.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *