Percakapan Seorang dengan Cermin

“Cukup.”

“Cukup,” ucapnya lantang.

 

“Nggak.”

“Nggak akan,” balasannya.

 

“Kenapa?”

“Kenapa…” suara bergetar.

 

Jawabnya hanya senyum.

Cemooh. Mencibir.

Juga sedih.

 

“Karena kamu, kamu.”

 

 

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *