(Fiksi) Pinjem Kamar Mandi

Terinspirasi dari tulisan ini.

 Pinjem Kamar Mandi

Aku selalu khawatir kalau ada pocong mengisi ruang kosong di kasur jadi aku selalu pasang tumpukan guling dan bantal di sebelahku. Ternyata ada yang lebih ngeri daripada pocong.

Bayangkan. Kamu bangun, buka mata, trus lihat kamu. Ya, dirimu sendiri. Awalnya bingung. Emang aku tidur sama cermin? Setelah kedip-kedip ngumpulin nyawa, sadarlah aku kalau yang di depanku itu bukan bayangan. Makhluk yang mukanya mirip—nggak. Persis aku. Cuma kulitnya putih pucat, beda dengan kulitku yang kuning langsat. Matanya dikelilingi lingkaran hitam, seperti tidak tidur tujuh hari tujuh malam.

Aku mundur. Jedug. Ya iyalah. Belakang tembok. Mati aku. Kejepit gini dan dia (aku?) ngeliatin aku. Betis kiri kram pula, langganan tiap bangun tidur. Mau njerit tapi nggak ada suara yang keluar. Sial sial sial. Mau meleng dan liat apa pun selain tatapannya dia tapi leher nggak mau gerak. Apaan nih.

Baru setelah kramku hilang, bagian tubuhku yang lain ikut terbebas. Aku lompat keluar dari kasur.

 

**

 

“Mir, ke sini bentar dong.”

Nggak enak sih sama Mira, yang udah rapi, nggendong tas plus ngerangkul beberapa buku di tangannya. Mukanya berkerut seperti terburu-buru mau ke kampus. Tapi aku terpaksa. Penghuni kos lain aku nggak ada yang kenal, cuma ngangguk dan senyum aja waktu papasan.

Hati Mira emang sungguh luar biasa baik. Datanglah dia ke pintu kamarku. Dia ngeliatin aku, tatapan matanya bertanya-tanya. Aku bingung mau jelasin gimana, jadi aku noleh saja ke arah kasur. Ke arah aku, aku jadi-jadian yang sekarang posisinya duduk, menatap balik ke arah kami.

Aku bersiap dengar jeritan Mira, tapi nggak terdengar apa-apa. Waktu aku noleh, aku cuma dapat tatapan heran.

“Mir, kamu nggak lihat…?”

“Apaan? Kamarmu kotor?”

“Oh… Ngg… Nggak pa pa deh.”

Alis Mira naik tinggi banget, hampir hilang di balik poninya. Yakin dia mikir aku ini aneh, tapi dia cuma bilang, “Ya udah aku ngampus dulu ya” dan melangkah pergi.

Aku nengok lagi ke kasur. Dia masih ada, nggak bergerak, bahkan jangan-jangan nggak berkedip dari tadi. Jadi cuma aku yang ngeliat? Cuma aku yang dihantui? Kampret kampret kampret—wait, kalau dia hantuku, berarti aku udah mati? Atau cuma menyerupai aja? Buat apa coba tiru-tiru mukaku. Tiruin Chelsea Islan atau sapa kek!

Pikiran lagi kacau begini, tiba-tiba dia berdiri. Sumpah, liat sosokmu sendiri, pucet, mata kosong begitu; nggak banget. Mana dia mulai jalan pula ke sini. Hiii!!! Langsung aku mundur keluar kamar, punggung nabrak tembok lorong.

Udah bingung-bingung mikir gimana cara mempertahankan diri dari serangan makhluk halus, dianya lewat aja di depanku. Terus jalan menelusuri lorong, sampai ujung dia baru berhenti, belok kanan, dan buka pintu. Kamar mandi.

Sebelum nutup pintu dia nyalain saklar lampu dulu.

Nggak tahu aku berapa lama berdiri di situ, bengong. Pokoknya dia keluar dari kamar mandi aku masih ngowoh. Otak udah nggak bisa dipake mikir. Pasrah aja sampai dia kembali ke hadapanku.

“Kenapa?” Bibirnya yang pucat bergerak. “Aku kan juga butuh pipis.

Versi urek-urek-an
Share this:

2 thoughts on “(Fiksi) Pinjem Kamar Mandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *