Perkenalkan Anakku Vera

Sebenarnya sudah cukup terbiasa merawat makhluk hidup. Selama 17 tahun hidup di rumah orang tua sudah pernah pelihara empat kelinci dan dua anjing. Meski tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas mereka (duit makan dan vaksin = dompet orang tua), setidaknya sudah berpartisipasi aktif memberi makan/minum, memandikan, dsb. Peduli ketika lihat tempat minum mereka kotor dan kosong, bertindak segera untuk memastikan kesejahteraan mereka. Bukan sekadar “Aaa lucunya. Elus-elus. Peluk-peluk.”

Berbeda dengan hewan, saya tidak punya banyak pengalaman merawat tanaman. Ibu lumayan suka tanaman dan di halamannya ada berbagai variasi, tapi saya belum pernah merasa peduli terhadap tanaman itu sendiri. Partisipasi cuma sebatas menyapu dan membuang daun-daun yang rontok (itu pun karena Ibu suka ngomel kalau halamannya kotor).

Ternyata di usia 23 tahun ini, saya memutuskan untuk memelihara tanaman. Pendorongnya adalah isu kesehatan. Fisik bobrok, mental juga bobrok. Pikir saya, menambah interaksi dengan sesama makhluk hidup, apalagi mengambil tanggung jawab untuk merawatnya, mungkin itu akan memberi efek bagus untuk kesehatan mental. Apalagi setelah googling-googling, ada tanaman-tanaman yang katanya bisa membantu meningkatkan kondisi udara di kamar.

Dengan motivasi seperti itulah saya browsing T*k*pedia sampai akhirnya berjumpa dengannya.

Namanya Vera. Iya, saya kasih nama supaya saya merasa terikat, dan semoga membuat saya merawatnya dengan baik.

Sekarang sebelum berangkat kantor saya bawa Vera keluar dari kamar, taruh dia di tempat yang cukup terlindung di bagian depan rumah kost supaya dia dapat pasokan sinar matahari. Masih agak bingung juga harus bagaimana. Harus baca-baca dan tanya-tanya lebih banyak soal perawatannya. Ganbarimasu. Supaya Vera sehat selalu.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *