Renungan: Percakapan dengan Bapak

Ini minggu keenam saya sebagai pegawai kantoran, setelah 1,5 tahun menyokong diri sendiri sebagai full-time freelancer. Ternyata cepat juga menyesuaikan diri; kerjaan terasa menyenangkan, lingkungan oke, secara keseluruhan tidak ada kendala berarti.

Kerjaan freelance masih jalan. Kantor tidak melarang asal tidak mengganggu pekerjaan utama.  Supervisor saya sudah tahu kalau saya masih terima kerjaan sampingan. Tidak ada komplain.

Cuma akhir-akhir ini rasanya berat. Mungkin karena pas kondisi badan tidak fit. Batuk tanpa henti berhari-hari, badan pegal-pegal, lengan kanan entah kenapa sakit padahal tidak ada kejadian jatuh atau ketarik. Badan tidak sehat, jiwa ikut sakit.

Di saat-saat seperti ini teringat percakapan dengan Bapak.

“Aku nggak tahu bedanya. Apa aku mencoba melakukan sesuatu yang di luar batasku? Atau aku kurang mendorong diriku untuk mencapai yang terbaik yang bisa aku lakukan?”

Itu yang sering saya pikirkan. Ada semacam ketakutan; jangan-jangan saya belum berusaha sekeras mungkin, jangan-jangan saya cuma manusia yang begini-begini aja. Ada juga rasa khawatir; apa ini namanya bukan kemaruk? Serakah?

Jawaban Bapak waktu itu:

“Itu butuh bertahun-tahun untuk tahu. Kamu baru mulai.”

Itu percakapan dua tahun lalu. Sampai sekarang saya belum paham. Mungkin memang masih harus terus belajar, terus cari tahu. Proses tanpa akhir.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *