Rumah Portabel

Bulan ini saya pindah lagi. Ini keenam kalinya saya pindah tempat tinggal dalam 6 tahun terakhir, sejak usia 17 tahun hingga sekarang kepala dua. Yang pertama pindah provinsi, yang kedua nyebrang laut (sampai Jepang). Pernah mubeng-mubeng di sebagian kecil Sleman, dan sekarang menyusul Sun Go Kong makin ke barat: Jakarta.

Memori saya nggak terlalu bagus. Nggak begitu ingat dulu gimana rasanya waktu pertama pindah, 300 km dari Surabaya ke Jogja. Mungkin ada rasa khawatir. Itu pertama kalinya saya tinggal tidak seatap dengan keluarga. Ada nenek dan kerabat di Jogja, tapi saya tinggal di kost supaya dekat kampus (waktu itu belum bisa naik motor).

Kali kedua pindah, dari Jogja ke Jepang. Sepertinya waktu itu rasanya semangat. Harusnya sih gitu. Sudah jauh sebelum itu pingin ke Jepang. Sempat gagal pula waktu tidak lolos seleksi Monbukagakusho untuk S1. Akhirnya berangkat dua tahun kemudian lewat program Japanese Studies, mimpi tercapai.

Yang saya ingat itu perasaan waktu mau pindah lagi dari Jepang ke Jogja. Sudah satu tahun di negeri sakura, berakhir sudah wisata dibayarprogram belajar dan waktunya melanjutkan kembali kuliah S1. Mulai beres-beres hingga menjelang naik pesawat, lihat teman-teman yang juga pulang ke negara masing-masing, yang ada di dada saya cuma tenang. Nggak ada rasa sedih karena harus berpisah dengan kehidupan di Jepang, atau rasa tidak sabar kembali ke kehidupan di Indonesia. Yang ada cuma “Oh, udah mau balik to. Oke.”

Kadang saya mikir. Saya ini luweh dan mudah beradaptasi, atau dingin dan tidak berperasaan? Tiap berpisah dengan tempat tinggal lama, dengan orang-orang dan lingkungannya, saya tidak pernah menangisinya. Paling-paling merasa agak repot karena harus packing dan angkut-angkut.

Begitu tiba di tempat baru biasanya saya bisa langsung tidur nyenyak. Memang tipe yang kalau sudah waktunya tidur ya tidur. Tidak peduli itu di kamar sendiri atau ada orang lain, di kasur yang sudah ditiduri berbulan-bulan atau belum pernah sama sekali, pakai bantal atau tidak.

Cari makan di tempat baru juga gampang. Jalan aja terus mampir di sembarang tempat, coba-coba. Nggak punya alergi tertentu. Selera ya punya tapi udah dibiasakan orang tua untuk makan apa aja, jadi meski nggak begitu suka bisa tetep makan. Apalagi lidah saya sangat teramat nggak peka. Cuma bisa membedakan rasa ‘asin,’ ‘manis,’ ‘pedas,’ ‘nggak pedas.’ Perbedaan rasa yang detail ya nggak bakal nyadar, atau nyadar trus besoknya udah lupa.

Soal pisah dengan orang-orang, saya nggak terlalu merasa berat. Di zaman sekarang yang serba canggih, saya bisa dengan mudah telpon/chat/video call keluarga dan teman-teman. Mungkin ada faktor kepribadian saya yang setengah introvert. Suka bersama orang lain, dan jelas butuh. Tapi suka juga sendiri. Terutama untuk hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidup sehari-hari. Kalau sekadar makan, belanja atau semacam itu malah lebih nyaman sendiri. Nggak usah repot-repot menyesuaikan jadwal dengan orang lain. Kalau pas lagi pingin bersosialisasi ya main, hubungi orang, ajak ngobrol atau keluar.

Jujur, kalau terlalu lama bersama orang lain, saya malah capek *meringis*

Soal rasa keterikatan dengan lingkungan… ya pasti ada. Pemandangan yang dulu biasa dilihat setiap hari, jadi cuma bisa lewat foto atau kenangan. Tempat biasa jogging, yang udah nyaman dilewati, sekarang sudah beratus-ratus kilo jauhnya. Pak becak di rute jalan kaki yang selalu membalas salam dengan senyum. Banyak sekali yang harus ditinggalkan ketika pindah rumah. Tapi entah kenapa saya jarang merasa kesulitan menghadapinya.

Mungkin ini juga mekanisme saya untuk melindungi diri. Yang namanya perubahan pasti menimbulkan rasa takut dan tidak nyaman. Mungkin saya otomatis mengendurkan rasa terikat supaya tidak terlalu capek merasa takut. Takut, khawatir, hal-hal seperti itu makan banyak energi, kan?

Setelah merenungkan semua hal tadi, saya jadi bisa menerima sikap saya ini, baik dari sisi positif (luweh dan mudah beradaptasi) dan negatif (dingin dan tidak berperasaan). Saya juga jadi mengerti, apa arti ‘rumah’ bagi saya.

Selama hidup dan mengalami berbagai hal dalam 23 tahun ini, terbentuklah makna ‘rumah’ yang khusus bagi saya, yang tidak terikat oleh bangunan, kota, dan orang-orangnya. Tidak peduli di mana pun saya berada, siapapun orang-orang di sekitar saya, saya akan merasa berada di ‘rumah’ asalkan jiwa saya damai.

Sudah pengalaman. Ada kalanya saya merasa tenang di tengah banyak orang atau ramainya lalu lintas, malah bising dan sumpek ketika sendiri dengan pikiran-pikiran yang memenuhi kepala. Kadang juga sebaliknya. Asal pikiran saya damai, saya akan merasa nyaman. Saya akan berada di ‘rumah.’

Makanya saya agak merasa aneh menyebut pergi ke tempat orang tua di Surabaya sebagai ‘pulang ke rumah.’ Lha rumah saya nggak cuma di situ. Rumah saya ada juga di Jogja, di Jepang, dan sekarang di Jakarta.

Ke depannya gimana, ya? Apa saya akan terus pindah-pindah? Meski sudah tambah tua dan tambah lemah terhadap perubahan? Kalau toh iya, semoga saya masih bisa terus menjalaninya dengan positif. Menambah tempat baru ke daftar panjang ‘rumah saya.’

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *