300 KM Lebih Dekat Daripada Kamar Sebelah

Aku baru sadar ketika salah satu sahabat SMA-ku melewati 300 kilometer dan berkunjung ke Jogja. Setelah sekian lama diresahkan oleh sesuatu yang aku tidak tahu apa, sekarang aku bisa memberinya nama. Anehnya sebuah jarak.

“Trus, si Meti sebenernya gimana sama Lukas?” tanya Kiki sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun, bibirnya membentuk senyum jahil. Senyum itu tidak berubah sejak terakhir kami bertemu, hampir setahun lalu. Meski sering melihatnya di update-an sosmed, aku sempat khawatir senyum itu akan berubah ketika melihatnya langsung. Lega mengisi dadaku ketika aku terbukti salah.

“Gimana gimana?”

“Oke apa enggak?”

Aku menahan ujung-ujung bibirku supaya tidak turun. “Waduh, nggak tahu e.”

“Lha waktu Lukasnya ngampirin ke kosan? Apa mungkin pas Meti cerita-cerita sama kamu? Kan kalian kamar sebelahan. Lebih sering ngobrol lah.”

Kiki masih saja senyam-senyum, sepertinya ia terlalu terlena dalam kisah percintaan sahabat kami dan tidak menyadari perubahan raut wajahku. Masa iya sih, aku bisa berakting sebegitu hebatnya, menyembunyikan perasaanku saat ini dan menahan raut muka masam.

“Dia main rahasia-rahasian,” jawabku sambil tertawa (di telingaku terdengar kaku, tapi Kiki ikut tertawa, syukurlah).

Meti, Kiki dan aku teman dekat semasa SMA. Jam istirahat kami selalu bertiga. Weekend main bertiga. Begitulah. Setahun lalu kami lulus dan masuk ke universitas. Kiki masuk ke universitas di Surabaya, sedangkan Meti dan aku masuk ke universitas yang sama di Jogja. Fakultasku beda dengan Meti, tapi kami tinggal di satu kos, kamar bersebelahan. Itulah bagaimana trio kami terpisahkan oleh jarak. Untungnya kami hidup di era teknologi. Selama ada grup chat dan follow akun sosmed, kami bisa sering kontak satu sama lain, tahu kabar-kabar terbaru. Rasanya hampir seperti tidak ada yang berubah.

Hampir.

Meski kini kami tinggal di bawah satu atap, aku malah merasa lebih tidak mengenal Meti. Mungkin karena beda fakultas, beda pergaulan, kesamaan di antara kami berkurang. Obrolan pun tidak seseru dulu. Meti juga sudah jarang curhat ke aku. Aku pun tak tahu bagaimana kabar hubungannya dengan Lukas, pemuda yang sedang mendekatinya.

Beda dengan Kiki. Entah kenapa, aku merasa apa yang ada di antara kami tidak banyak berubah. Mungkin karena bisa dibilang setiap hari kami ngobrol lewat chat. Aku tahu kapan Kiki ada kelas, Kiki tahu kapan aku ada rapat organisasi. Ia kadang curhat dalam tulisan panjang, atau kadang malah video call. Aku merasa masih mengenalnya. Tiga ratus kilometer jadi tak terlalu berarti.

Aku jadi teringat. Teman kos lain, namanya Dini. Suatu hari orang tua dan adiknya berkunjung ke kos. Mereka datang membawa dua kardus carica, satu untuk keluarga ibu kos, satu untuk kami para mahasiswi yang senang dengan apapun yang gratis.

Waktu ikut yang lain mengerubungi kardus carica, tak sengaja aku mendengar percakapan keluarga Dini dan ibu kos.

“Dini ini kalau disuruh mbantu pekerjaan rumah susahnya minta ampun. Nggak bisa apa-apa dia. Sempat khawatir ninggal dia sendiri di kos,” ibu Dini berkata sambil tertawa.

“Halah, Bu. Putrinya pinter kok, baik-baik aja,” jawab ibu kos dengan tawa khas ibu-ibu yang sama.

Ibu kos tidak menjelaskan, tapi aku tahu. Bagaimana Dini rajin membantu ibu kos mengurus tamannya, biasanya sambil ngobrol-ngobrol. Dini tidak pernah tampak terpaksa. Senyumnya ketika mengayunkan sapu selagi bercakap-cakap dengan ibu kos mencapai matanya, memancarkan tulus. Bahkan Dini kadang membantu ibu kos dengan cucian atau yang lain ketika rewang ibu kos sudah pulang hari itu.

Beberapa saat pandanganku terpaku pada sosok Dini yang duduk di sebelah kanan ibu kandungnya. Ia nampak rileks, tapi terkadang otot-otot wajahnya menegang ketika ibunya membicarakan dirinya dan menepuk-nepuk lututnya. Sampai sekarang kadang-kadang aku masih teringat sosok Dini saat itu.

Ada juga kenalan lain. Teman satu jurusan bernama Lora. Lora sering terlihat bersama Monik, teman satu jurusan juga. Misalnya sebelum kuliah, mereka ada di bangku depan kantin, ngobrol-ngobrol. Tugas kelompok juga sering satu grup. Tapi ketika Lora tertimpa musibah, ayah dan ibunya kecelakaan parah, yang pertama kali tahu, mengabari teman satu jurusan, dan mengajak untuk membantu Lora adalah Sally. Sally dan Lora juga tampak berhubungan baik, tapi dari luar sepertinya tidak sedekat Lora-Monik. Aku ingat ketika Sally memberitahu kami soal Lora, setelah merasa sedih dan prihatin, yang selanjutnya muncul di dadaku adalah perasaan heran.

“Eh, itu orangnya dateng!”

Suara riang Kiki membangunkanku dari lamunan. Aku mengikuti arah pandangannya, menuju Meti yang melangkah mendekat. Meti tersenyum dan mendadak aku merasa kangen, padahal aku sering melihatnya langsung.

Meti duduk, ikut mengobrol, tertawa-tawa bersama Kiki. Aku tersenyum sambil berpikir tentang anehnya jarak, dan bagaimana aku bisa mendekatkan jarak antara dua kamar yang bersebelahan. Melihat tawa mereka berdua, aku pikir, apa yang tidak mungkin.

Share this:

Tinggalkan Balasan