Dari Benci Jadi Cinta: Kisahku dengan Si Olahraga

Tertarik pada pandangan pertama bisa terjadi dengan mudah, tapi memupuknya jadi cinta butuh proses dan usaha. Apalagi kalau mulainya dari benci. Seperti saya dan saya olahraga.

 

Saya dan Dirinya, Dulu dan Kini

Dari kecil saya jarang menggerakkan tubuh. Memang waktu SD pernah ikut kegiatan tari tradisional dan balet, tapi masing-masing hanya bertahan satu tahun. Waktu SMP juga bergabung di drum band sekolah sampai hampir tiga tahun, tapi ya itu saja. Selain itu cuma ikut pelajaran olahraga di sekolah. Itupun nilainya pas-pasan, pokoknya lulus. Tiap ujian akhir, lari keliling kompleks sekolahan tiga kali (mungkin tidak sampai tiga kilometer), saya selalu susah payah memenuhi target waktu 15 menit.

Olahraga bukan hal yang menyenangkan bagi saya. Saya tidak paham apa yang menyenangkan dari olahraga, bahkan menonton pertandingan pun saya tidak begitu tertarik. Apalagi saya tidak suka berbasah-basah, dan berolahraga berarti berkeringat: basah!

Itu dulu.

Beberapa bulan terakhir ini saya rutin jogging, biasanya dua hari sekali. Dua minggu terakhir saya bisa non-stop 5 kilometer setiap kali jogging. Kok bisa?

 

Motivasi

Melihat kembali perjalanan saya bersama Si Olahraga, nampaknya motivasi saya untuk akrab dengannya bukan hanya satu, tapi kombinasi dari beberapa hal. Misalnya, lelah dengan perut saya yang jemblung. Selain bosan dengan komentar ibu saya (yang penuh dengan niat baik, tapi tetap saja melelahkan), saya juga bosan merasa tidak nyaman ketika duduk, bosan merasa tersiksa dengan celana panjang yang mencekik perut. Selain itu, saya juga sering merasa tidak sehat, baik secara fisik maupun mental, dan berpikir bahwa olahraga rutin adalah salah satu cara yang baik untuk merasa bugar.

 

Menumbuhkan Bibit Cinta

Bagaimana cara saya bisa mulai menyukai olahraga? Kuncinya adalah menerima rasa malas/benci, kemudian menghadapi rasa itu secara bertahap dan rutin.

 

1. Menerima Rasa Malas/Benci

Setelah bertahun-tahun, otak saya sudah ingat, “olahraga berarti keringat, capai, tidak enak”. Ingatan itu memunculkan rasa malas dan tidak suka tiap kali saya hendak olahraga. Sampai sekarang juga masih, lho! Bedanya sekarang saya sudah tahu, percuma menolak rasa malas dan benci itu. Yang ada malah ya tambah malas dan benci. Semakin kuat menolak sesuatu, semakin otak kita terobsesi dengan hal itu.

 

2. Lihat Apa yang Membuat Malas/Benci, Lalu Hadapi

Kalau sudah diterima, apa berarti dituruti saja? Tidak. Pertama, saya melihat apa hal spesifik dari olahraga yang membuat saya tidak suka. Misalnya, saya tidak suka olahraga karena harus keluar. Anak rumahan seperti saya tidak suka harus repot-repot keluar. Ya sudah, saya akali dengan memulai olahraga yang tidak perlu keluar kamar. Saya ikuti video-video di Fitness Blender, di sana ada banyak jenis olahraga yang bisa dilakukan di kamar, bahkan tanpa alat. Lama-lama pun saya mulai terbiasa berolahraga, tidak lagi enggan berkeringat. Akhirnya saya bisa “upgrade” ke olahraga di luar.

Setelah terbiasa menatap rasa malas/benci dan menghadapinya, saya jadi sadar bahwa rasa malas/benci itu suka menyamar, menjelma jadi macam-macam alasan. Misalnya, “Aduh, harus keluar kamar…” Otak saya mulai ngeles. Ya saya hadapi saja dengan cara tadi. Dulu sebelum punya matras juga sering keluar alasan “Nggak punya matras buat olahraga, nih…” Saya hadapi dengan cari video olahraga yang bisa dilakukan dengan berdiri (tanpa matras). Ada juga alasan “Lha kamarnya sempit e…” Ya cari olahraga yang tidak butuh banyak ruang.

Tidak perlu takut untuk melihat rasa malas/benci lekat-lekat dan berkata, “Aku malas, tapi aku kerjakan”. Kalau sudah dikerjakan, biasanya perasaan itu akan hilang sendiri.

 

3. Mulai dari Sedikit-Sedikit

Saya tidak tiba-tiba mulai jogging langsung 5 kilometer. Prosesnya panjang dan dimulai dari sedikit-sedikit. Dulu bahkan 500 meter saja sudah sudah pingiiiin banget berhenti. Tapi ya sudah. Kalau memang 500 meter masih susah, ya coba 300 meter dulu, tapi non-stop. Kalau sudah tidak ngos-ngosan, tambah jadi 500 meter, 1 kilometer, dst.

 

4. Rutin

Gambar: Aplikasi 30 Day Fit Challenge Workout

It never gets easier, you just get better. Hal yang dihadapi tidak akan jadi lebih mudah. Kita yang jadi lebih baik. Ini memungkinkan, dengan syarat yaitu menjaga rutinitas. Kalau sudah rutin dan terbiasa, kita akan merasa lebih ringan ketika olahraga. Tubuh kita mungkin tetap merasa lelah, bagaimana pun juga, olahraga butuh energi. Tapi kita tidak perlu lagi energi untuk merasa/berpikir malas, berat, capek. Kita hanya mengeluarkan energi untuk tubuh dan bisa menyimpan energi yang tadinya dibuang-buang oleh hati dan otak.

Menjaga rutinitas memang tidak mudah. Saya juga merasakannya. Sekitar 4 tahun lalu sebenarnya saya juga sudah pernah memulai olahraga, tapi tidak bisa rutin. Sekarang saya sudah punya sistem dan alat-alat yang bisa membantu untuk menjaga motivasi dan rutinitas (selengkapnya ada di “Membuat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit: Bagaimana Membangun Kebiasaan dan Mencapai Target“).

 

Kisah Kami Masih Berlanjut

Sekarang saya sudah bisa menerima Si Olahraga ke dalam hati saya, tapi bagaimana ke depannya? Seperti yang sudah saya sampaikan, sampai sekarang masih ada perasaan “males, ah” di antara saya dan dirinya. Saya berusaha menghadapi dengan berbagai hal; meneruskan evaluasi mingguan, cari stimulasi dengan hal-hal baru (rute jogging baru, dsb.)

Gambar: Instagram Misako Uno

Saya juga follow akun-akun medsos dan blog yang menginspirasi, terutama di Tumblr dan Instagram. Baru-baru ini saya dapat motivasi baru dari Mbak Misako Uno, anggota grup AAA dari Jepang. Dia sharing lewat Instagramnya bahwa dia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti maraton di Honolulu bulan Desember ini. Dia bilang dia bukan tipe yang atletik, tapi dia suka lari santai dan ingin menantang dirinya sendiri. Melihat tulisan Mbak Misako, saya jadi tergerak untuk lebih giat melatih diri. Saya memang tidak bisa lari di maraton yang sama dengannya, tapi rasanya semangat ketika membayangkan diri saya yang bisa berlari sepanjang 42,195 kilometer sama seperti Mbak Misako. Saya usahakan supaya ini tidak jadi khayalan semata!

Share this:

3 thoughts on “Dari Benci Jadi Cinta: Kisahku dengan Si Olahraga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *