Latihan Tidak Berpikir (1b) Tiga Bonnou Dasar Manusia: Amarah, Hasrat, dan Kebimbangan

Terjemahan dari buku Kangaenai Renshuu oleh Koike Ryuunosuke.

Latihan Tidak Berpikir: Pengantar

Latihan Tidak Berpikir (1a) Mengurung Diri dalam Pikiran Menurunkan Daya Konsentrasi

 

Bab 1 Penyakit Bernama Pikiran

Orang Menjadi “Tidak Acuh” karena Berpikir

1.b.  Tiga Bonnou Dasar Manusia: Amarah, Hasrat, dan Kebimbangan

Sebenarnya kebanyakan orang hampir pasti mengalami pola seperti ini. Ketika baru pertama kenal, rasanya begitu gres. Misalnya, ketika penampilan pasangan kita masih fresh, hati kita berdebar-debar karena rangsangan baru. Oleh karena itu, kita segera sadar ketika gaya rambut mereka berubah, khawatir kita membosankan ketika ekspresi mereka sedikit suram dan berusaha ganti topik yang menarik.

Akan tetapi, lambat laun kita akan terbiasa dengan informasi tentang mereka. Sebenarnya ekspresi mereka terus berubah dengan sangat cepat, tapi bila kita melihat mereka dengan sekenanya, ekspresi mereka tampak seperti tidak berubah.

Ini yang dalam keseharian disebut dengan kejenuhan. Bila tipe informasi yang sama dimasukkan terus menerus, maka kita akan merasa bosan dengan rangsangan informasi itu dan menginginkan rangsangan lain.

Ketika hal itu terjadi, ada yang langsung lari ke pasangan baru, tapi kebanyakan orang lari ke kekasih yang ada di dalam otak. Kekasih itu bukan orang, melainkan hal-hal di dalam otak yang kita sukai atau membuat kita tertarik. Kita jadi terobsesi dengannya dan hanya memikirkan hal itu. Kita kabur ke dalam kepala kita dan rasa peduli terhadap pasangan kita jadi berkurang.

Ada orang yang merasa jenuh dengan cepat dan ada yang lambat. Kejenuhan punya hubungan erat dengan bonnou (煩悩) dalam ajaran Buddha.

Di sini saya akan menjelaskan apa itu bonnou secara sederhana. Kita selalu menerima beragam informasi melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan kesadaran. Di antara energi-energi impulsif yang merespon rangsangan tersebut, hasrat, amarah, dan kembimbangan adalah yang paling besar dan merupakan “3 racun hati”.

Pertama, energi impulsif hati yang menginginkan lebih banyak informasi dari panca indera disebut dengan hasrat. Ketika seseorang memberikan pujian sekenannya dan kita merasa tersanjung, energi bonnou hasrat pun aktif dan menuntut lebih banyak.

Sebaliknya, energi impulsif pada hati yang menolak informasi disebut dengan amarah. Ketika mendengar ejekan dari orang lain dan merasa tidak enak, energi bonnou amarah pun aktif dan berusaha memusnahkan hal yang tidak mengenakkan itu.

Amarah yang dimaksud di sini mempunyai makna yang jauh lebih luas daripada istilah amarah dalam sehari-hari. Pikiran negatif tentang tidak adanya semangat melakukan sesuatu, rasa iri terhadap seseorang, penyesalan terhadap masa lalu, rasa kesepian dan gugup, semuanya punya akar yang sama dan menjadikan energi bonnou amarah sebagai bahan bakarnya.

Apabila ada sedikit saja kekuatan yang melawan, itulah amarah. Tiap kali terbawa perasaan negatif seperti ini, energi bonnou yang kelam jadi bertambah. Tidak hanya jadi sumber stres, hal ini juga membentuk pribadi yang mudah jatuh ke dalam pikiran negatif.

Sebelumnya saya menyebutkan bahwa ada gangguan yang sedikit-sedikit tercampur ke dalam proses pengolahan informasi di dalam hati. Mari kita pikirkan informasi seperti apa yang merupakan gangguan. Informasi yang dimasukkan bersamaan dengan bonnou amarah atau hasrat yang kuat diulangi berkali-kali dan membekas bersama dengan obsesi yang kuat.

Ketika mengetahui ada yang bicara buruk tentang kita dan amarah merasuki hati, amarah akan terukir dalam hati bersama dengan rangsangan yang kuat. Tak lama kemudian, kita mulai berpikir, “Jahatnya dia berkata seperti itu” atau “Bagaimana kalau orang lain menganggapnya serius dan meremehkanku?” Pikiran menyiksa seperti itu berputar-putar di dalam kepala. Informasi yang sama diulang berkali-kali sehingga memori utama di hati kita tersita untuk itu dan kita tidak bisa melalukan hal penting lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kita tidak peduli lagi dengan amarah tersebut dan merasa lupa terhadapnya.

Akan tetapi, informasi yang terukir dalam hati dengan kekuatan bonnou akan selalu ada dan tersimpan.

Proses yang kita rasa sudah lupa itu adalah proses yang jarak antara pengulangan dan durasinya diperpendek oleh kesadaran. Dengan kata lain, proses ini hanya berubah jadi begitu cepat sehingga kita tidak lagi menyadarinya. Sesungguhnya proses ini terus bercampur dengan pergerakan hati dan membawa pengaruh.

Pikiran seperti “Iih, jahatnya” dan “Aduh, gimana nih?” yang terus berulang secara samar akan terjadi begitu cepat sehingga lama-lama menghilang. Oleh karena itu, kita tidak sadar akan pikiran-pikiran itu dan merasa tidak enak tanpa tahu penyebabnya.

Pikiran-pikiran ini tidak disadari, dengan kata lain mereka muncul dalam waktu yang sangat singkat sampai tidak bisa disadari dan kemudian menghilang. Mereka menjadi pemicu rangkaian pikiran baru dan membuat kita berpikir. Misalnya, pikiran “Aduh, gimana ini” memicu pikiran seperti “Gimana kalau kerjaan ini gagal?” atau “Gimana kalau gagal dan diremehin orang itu?” Bisa jadi pikiran mulai berontak seenaknya sendiri.

Semakin bertambah pikiran-pikiran ini di dalam hati, memori utama hati kita semakin termakan oleh pikiran yang tidak berguna. Karena itulah kita jadi tidak bisa mengenali pemandangan dan ekspresi orang di hadapan kita dengan jelas, tidak bisa menerima suara alam dan manusia dengan baik, tidak bisa merasakan apa yang kita makan dan merasa puas. Kita jadi merasa tidak benar-benar hidup dan terpenuhi.

Hilangnya rasa terpenuhi itu dapat dianalisis dari sisi lain dan dijelaskan sebagai berikut. Meski bermaksud melihat, mendengar, atau menyentuh, memori utama kita direnggut oleh gangguan yang ada di kepala sehingga informasi baru tidak bisa masuk. Ketika mendengarkan orang lain dalam satu detik, dalam 0,1 detik benar-benar mendengarkan orang itu, tapi 0,9 detik sisanya berpikir tentang bagaimana diri kita di mata orang itu. Ganggunan dari masa lalu masuk dan menumpulkan panca indera sehingga kita jadi tidak fokus.

Kalau ini berlanjut, dalam 10 detik kita kehilangan kesadaran selama 9 detik, dalam 60 menit kesadaran hilang selama 54 menit… Akhirnya ketika kita bertambah usia dan melihat ke masa lalu, kita akan merasa bahwa beberapa tahun telah berlalu dalam sekejap. Kita terlena dalam khayalan bernama pikiran yang tak berhubungan langsung dengan kenyataan. Sebagai ganjarannya, kesadaran kita menjadi tumpul dan rasa bahagia akan berkurang.

Seiring dengan bertambahnya usia, banyak orang mengatakan bahwa akhir-akhir ini waktu berlalu dengan cepat. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah terhapusnya informasi panca indera tentang kenyataan karena gangguan pikiran yang terakumulasi dari masa lalu. Ketika gangguan tersebut menang telak atas kesadaran akan kenyataan, kita menjadi linglung. Kita sepenuhnya dikuasai oleh informasi dari masa lalu dan sama sekali tidak bisa menyadari kenyataan baru. Ketika melihat cucu, kita salah mengira mereka anak kita dan tidak bisa membetulkan kesalahpahaman ini.

Yang menjadi dasar semua itu adalah “kenyataan yang ada di depan mata terlalu biasa dan membosankan, pikiran negatif lebih merangsang”. Pikiran kita diprogram untuk berontak ke arah negatif untuk memberikan rangsangan baru pada hati. Kita terkena “penyakit pikiran” ini, sedikit demi sedikit menjadi tidak tahu tanpa sadar, dan menjadi linglung. Begitu mengetahui hal itu, kita akan dengan mudah berhenti menggumamkan hal-hal tidak berguna di dalam hati.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, energi impulsif hati yang bosan dengan hal di depan mata dan menginginkan rangsangan baru itu disebut dengan kebimbangan.

Orang lain sedang berbicara, tapi hati kita berpikir “Hal membosankan seperti ini abaikan saja”. Hati luntang-lantung, menghindar, dan akhirnya tak satupun pembicaraan mereka masuk ke telinga kita. Bonnou kebimbangan disebut juga dengan bonnou ketidaktahuan.

Ketidaktahuan yang dimaksud di sini berbeda dengan tidak berpendidikan atau bodoh. Yang dimaksud adalah tidak mengetahui bagaimana kesadaran bergerak di dalam tubuh dan pikiran seperti apa yang bergejolak.

Selama berpikir, indera penglihatan, pendengaran, dan peraba menjadi tumpul sesuai dengan banyaknya energi yang dihabiskan untuk berpikir. Akibat terlalu terlena oleh pikiran di dalam otak, sensasi tubuh jadi terabaikan, hati dan tubuh jadi tidak harmonis.

Semakin menggunakan bagian dari otak untuk berpikir, semakin sulit bagi seseorang untuk menangkap informasi tubuh dan hati, dan kita menjadi tidak tahu. Kita tidak bisa menangkap perubahan ekspresi dan suara lawan bicara kita sehingga kita merasa tidak ada perubahan dan bosan.

Pada akhirnya, semakin banyak berpikir hanya dengan kepala, semakin banyak hal tak berguna yang menumpuk, semakin kita tidak tahu akan kenyataan dan gerak kesadaran diri sendiri.

Bonnou ketidaktahuan membawa hati kita kabur dari kenyataan menuju ke otak. Sekali terlanjur memiliki kebiasaan berpikir, kita tidak bisa lepas dari kebiasaan tenggelam dalam pikiran, bahkan di saat kita seharusnya tidak berpikir. Kita pun menjadi mudah mengurung diri dalam pikiran.

Share this:

Tinggalkan Balasan