[Fiksi] Anting

Mata Santi sedikit terbelalak, terpaku pada telinga kiri anak gadisnya. Kemudian pandangannya bergerak menuju telinga kanan, sebelum akhirnya menyipit.

“Nit, antingmu mana?”

Nita sang putri, yang sedari tadi asyik dengan buku di pangkuannya, mendongak untuk menatap ibunya.

“Lupa, Bu,” jawabnya santai, membuat sang ibu geleng-geleng kepala.

“Perempuan ya pakai anting to, nduk.”

Anaknya hanya menyahut “Iya, Bu…” lalu kembali menghadap bukunya.

 

**

Santi mengamati anak gadisnya yang sedang duduk di seberang meja. Rasanya ada yang aneh. Ada yang kurang. Santi tidak tahu apa.

Temen-temen sudah oke. Aku mau coba usaha ini dulu.” Santi mendengar suara Nita berkata.

“Nanti disuruh kumpul saja di rumah. Bapak ajarin prosedur buat badan hukumnya.” Kali ini suara bapaknya Nita.

Suara-suara itu membuat perhatian Santi teralihkan.

Ndak jadi ngelamar ke yang di Surabaya itu to, nduk?” ujar Santi, membuat anak dan suaminya menoleh. “Kan nilai-nilaimu bagus. Punya sertifikat bahasa asing juga. Pasti diterima.”

“Bukan pekerjaan yang pingin aku tekuni, Bu.”

Lha tapi kan enak.”

Nita terdiam sejenak sebelum menjawab, “Enak buat siapa? Ibu atau aku?”

Santi tidak menjawab.

Ketika mereka selesai makan dan berjalan keluar restoran, Santi melihat sosok Nita dari samping dan akhirnya sadar. Nita tidak pakai anting.

**

 

Santi meluncur di atas lantai ruang keluarga, mengayun-ayunkan sapunya. Suara Nita dan bapaknya di ruang kerja suaminya terdengar sampai sini. Tentu saja. Rumah mereka bukan rumah yang besar. Tapi Santi tidak bisa menangkap kata-kata mereka. Maklum, telinga orang berumur.

Selesai menyapu, Santi duduk di kursi dan mengambil handphone yang tergeletak di meja sebelahnya. Ia membuka aplikasi WA dan membaca pesan-pesan di grup sambil lalu, hingga kemudian Nita masuk ke ruang keluarga. Matanya agak sembap. Sebenarnya ia sudah terlihat menahan tangis ketika ia tiba di rumah tadi siang. Ternyata barusan dikeluarkan ke bapaknya.

Nita duduk di sofa seberang kursi Santi. Ia mengeluarkan handphone dari saku celana dan mulai menggerakkan jari-jarinya.

Santi membuka mulutnya. “Kata budhemu, perusahaan tekstil di Jember lagi buka lowongan.”

Nita mendongak, menghadapkan mata yang masih agak basah kepada ibunya.

“Aku masih mau lanjut usaha, Bu.”

Lha tapi jadinya kayak gini.”

“Wajar to, Bu. Namanya juga orang usaha.”

Nada Nita tidak meninggi. Hanya terdengar bosan dan lelah. Sudah agak lama sejak Nita jarang meninggikan suara kepada ibunya. Mungkin beberapa tahun sejak Nita tidak tinggal di sini. Ketika masih satu atap mereka biasa saling melempar ujaran penuh emosi sampai salah satu mengalah. Sekarang, seperti saat ini, mereka hanya bertukar beberapa patah kata dan membiarkan rangkaian kata itu terputus ketika tidak tercapai kesepakatan.

Santi berdiri dari kursinya, melewati sofa untuk menuju ke kamar. Ketika kembali, ia membawa sebuah kotak kecil. Diserahkannya kepada Nita.

“Kemarin Ibu nemu anting bagus.”

Nita mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata, tapi tangannya meraih kotak itu dari tangan ibunya.

 

**

Lha Ibu Bapak mau ke mana?” tanya Nita setelah selesai mengunyah tempenya.

“Waduh, mau dibayarin jalan-jalan, nih,” sahut Bapak. Ada bangga di dalam suaranya. “Mau ke mana, Bu?”

Santi mendengar tapi tidak langsung menjawab. Ia masih terpaku melihat putrinya yang duduk di hadapannya, asyik menyendok nasi dan kuah sayur bening. Sudah lama pemandangan ini tidak hadir di meja makan rumah ini.

Nita sudah bertahun-tahun tidak tinggal di sini, Santi sudah biasa. Anehnya Santi baru merasa sepi dua tahun setelah Nita pindah. Kira-kira bersamaan dengan waktu Nita mulai sibuk merintis bisnisnya. Nita semakin jarang pulang. Telepon masih sering, tapi tidak pernah lama-lama. Santi tahu ia harus maklum, tapi ia tak bisa menghentikan rasa sepi yang melanda. Rasa yang tumbuh karena ia curiga, Nita menjauh bukan karena kesibukan, tapi lebih karena tidak ingin berhubungan dengan ibunya, tidak ingin mendengar info lamaran kerja di perusahaan atau bujukan untuk berhenti berwirausaha yang sering keluar dari mulut Santi.

Minggu lalu tiba-tiba Nita bilang dia akan pulang. Kemarin malam ia sampai dan dengan semangat ia bercerita akan perkembangan usahanya. Ditunjukkan foto rekan-rekannya dan juga kantor yang mereka tempati. “Kami masih belum apa-apa, tapi sudah cukup stabil untuk menghidupi tiap anggota kami.” Begitu kata Nita dengan mata berbinar-binar. Santi hanya mendengarkan dengan tersenyum, setengah takut berkomentar dan menghapus kilau dari kedua mata putrinya itu.

“Ibu.” Santi mendengar anaknya berkata. “Mau ke mana?”

Santi akhirnya mengajukan beberapa nama kota. Hingga beberapa saat setelahnya, pembicaraan di meja makan berputar pada kandidat tempat untuk wisata keluarga.

Setelah selesai makan dan piring-piring dicuci, Santi duduk di sofa ruang keluarga. Nita ikut duduk di sampingnya, dengan semangat berbicara tentang rencana liburan mereka, meyakinkan bahwa mereka akan mengunjungi tempat-tempat kuliner enak seperti yang ibunya idamkan.

Mata Nita masih berbinar-binar seperti kemarin malam, Santi senang melihatnya. Tapi Santi juga tidak bisa mengabaikan garis-garis wajah anaknya yang semakin menonjol, pipi yang entah sejak kapan jadi begitu tirus, kantong-kantong yang muncul di bawah matanya. Santi pun bertanya-tanya, anak gadisnya ini kok ya memilih jalan susah. Hati Santi tak bisa berhenti bergejolak memikirkannya.

“Nanti Ibu tinggal santai aja. Semua aku yang urus, ya.” Suara Nita menarik Santi dari lamunannya. Perlahan mata Santi kembali menangkap apa yang ada di hadapannya, anak perempuannya dengan mata bersinar dan senyum manis. Lalu perhatian Santi teralihkan oleh sesuatu yang berkilau di telinga anaknya. Lingkaran emas dengan hiasan kecil berbentuk bunga, masing-masing satu di tiap telinga.

Santi kembali menatap mata anaknya. Rasa khawatir masih memberati dadanya, tapi kemudian ia berpikir, toh rasa ini akan selalu menghantui. Sudahlah. Hari ini sudah dulu.

Dan Santi pun tersenyum.

Share this:

Tinggalkan Balasan