Memetik Pelajaran dari Akun LINE yang Dibajak

Suatu siang di hari Jumat. Teman saya, sebut saja si A, dapat kabar dari mutual friend kami, sebut saja si B, bahwa dia dapat pesan LINE aneh dari saya. Pesannya dalam bahasa Jepang (si B orang Jepang jadi bisa baca), minta si B untuk beli bitcoin dan mengirimkan kodenya ke “saya”.

Padahal saya tidak menyentuh LINE selama sekitar dua jam dan tidak merasa mengirimkan pesan seperti itu.

Saya buka LINE.

Ternyata LINE menyatakan bahwa saya sudah log out. Ketika log in kembali, akses saya ditolak; akun saya sedang dipakai di perangkat lain.

Lah?

Perangkat lain apaan???

Karena saya sudah hubungkan akun saya dengan email, saya coba ganti password lewat email. Ganti passwordnya sih bisa, tapi waktu log in kembali, saya harus melewati prosedur ganti perangkat dengan dua tahap verifikasi: (1) memasukkan kode yang dikirim lewat SMS ke nomor yang terdaftar di akun, (2) memasukkan kode yang dikirim lewat chat LINE di perangkat yang biasa dipakai.

Satu. SMSnya tidak kunjung datang ke hape saya.

Dua. LINE di perangkat yang biasa dipakai. Halo? LINE yang sedang tidak bisa saya akses itulah yang biasa saya pakai. Bagaimana saya bisa lihat chatnya? Perangkat yang sedang dipakai mah, yang lagi dibawa si pembajak, kan?

Saya pun lapor ke tim LINE. Pengaduan saya sedang diproses. Saya sekarang menunggu kabar lanjutan dari pihak LINE dan berdoa semoga akun saya bisa diambil kembali, atau setidaknya bisa dinonaktifkan (akun saya masih aktif di tangan pembajak, masih tergabung dalam grup-grup, dan mengirimkan pesan penipuan ke lebih dari satu kontak saya).

Tapi saya tidak bisa hanya diam dan menunggu.

Gara-gara kejadian ini, saya jadi waspada terhadap banyak hal. Saya ganti password akun Google lagi (terakhir Oktober 2016) dan coba lihat apa ada tindak pengamanan tambahan yang bisa saya ambil. Waktu ganti password terakhir kali, saya juga aktifkan verifikasi dua tahap; kode dikirimkan ke ponsel setiap saya log in di perangkat baru. Belum tahu ini seberapa efektif. Mungkin bisa membantu menjaga akun Google dari aktivitas mencurigakan di perangkat lain, tapi kalau aktivitas mencurigakannya di perangkat pribadi saya? Apalagi saya selalu dalam kondisi log in di hape dan laptop pribadi. Kalau hape dan laptop saya kenapa-kenapa (kena virus? malware? saya masih belajar tentang istilah-istilah itu) dalam kondisi log in akun Google, apa akun saya dengan mudahnya disalahgunakan? Perlu penyelidikan lebih lanjut.

Saya juga mulai berusaha mengamankan situs ini dengan menjalankan saran-saran pengamanan dari artikel Niagahoster. Belum semua langkah saya jalankan, tapi setidaknya sebagian sudah. Saya selalu jadwalkan seminggu sekali untuk back up situs ini lewat cpanel. Pada sesi back up berikutnya saya coba sekalian menjalankan langkah pengamanan yang belum saya laksanakan.

Hape. Yang paling mencurigakan karena selama ini hape saya sering install aplikasi dengan sendirinya. Saking parnonya, saya memutuskan untuk back up semua data dan melakukan factory reset. Ternyata tidak menyelesaikan masalah karena belum dua hari setelahnya, sudah ter-install aplikasi tanpa kehendak saya. Saya curiga masalahnya memang dari hape itu sendiri (hape saya Xiaomi dan artikel ini mengajukan kemungkinan mengerikan soal produk ini). Saya masih mencari cara untuk mengatasinya (ada yang tahu? SOS).

Laptop. Saya coba full scan dengan McAfee. Ada virus terdeteksi tapi tidak bisa delete maupun clean. Saya sudah minta tolong Bapak untuk cari tahu masalahnya. Karena saya tinggal terpisah 300 kilometer dari Bapak, saya harus janjian online di waktu yang sama dengan Bapak supaya Bapak bisa akses laptop saya dari jauh dengan aplikasi TeamViewer.

Untuk masalah perangkat elektronik, selama ini saya banyak bergantung pada Bapak yang pekerjaannya berkutat dengan komputer, pemograman, dan semacamnya. Beli laptop, printer, hape, saya tinggal jelaskan kebutuhan saya persisnya seperti apa, Bapak rekomendasikan produk-produk yang spesifikasi dan budgetnya sesuai. Bingung soal aplikasi di laptop, tanyanya ya ke Bapak.

Dengan adanya kejadian dicurinya akun LINE saya ini (akan selamanya terkenang sebagai LINE 乗っ取られ事件 / LINE nottorare jiken dalam ingatan saya), saya jadi ingin lebih paham tentang perangkat elektronik dan cara pengamanannya. Benar-benar paham jadi bisa melindungi diri sendiri. Ya ada batasnya. Ini bukan keahlian saya. Apalagi sudah ada banyak hal yang diurus selain ini. Pokoknya saya usaha sebisanya untuk belajar dan tidak lupa meminta bantuan orang lain bila diperlukan.

Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Yang saya dapat dari LINE nottorare jiken adalah kesadaran dan kewaspadaan yang meningkat. Saya bersyukur sudah berkembang jadi pribadi yang lebih fleksibel, tidak melulu stres karena kejadian tidak menyenangkan ini dan bisa belajar darinya.

Saya tutup tulisan kali ini dengan gaya bicara pembawa acara kriminal yang tayang siang-siang di sebuah stasiun swasta: Waspadalah!

(acara itu sudah tidak tayang? saya sudah lama tidak nonton TV)

Share this:

[Fiksi] Anting

Mata Santi sedikit terbelalak, terpaku pada telinga kiri anak gadisnya. Kemudian pandangannya bergerak menuju telinga kanan, sebelum akhirnya menyipit.

“Nit, antingmu mana?”

Nita sang putri, yang sedari tadi asyik dengan buku di pangkuannya, mendongak untuk menatap ibunya.

“Lupa, Bu,” jawabnya santai, membuat sang ibu geleng-geleng kepala.

“Perempuan ya pakai anting to, nduk.”

Anaknya hanya menyahut “Iya, Bu…” lalu kembali menghadap bukunya.

 

**

Santi mengamati anak gadisnya yang sedang duduk di seberang meja. Rasanya ada yang aneh. Ada yang kurang. Santi tidak tahu apa.

Temen-temen sudah oke. Aku mau coba usaha ini dulu.” Santi mendengar suara Nita berkata.

“Nanti disuruh kumpul saja di rumah. Bapak ajarin prosedur buat badan hukumnya.” Kali ini suara bapaknya Nita.

Suara-suara itu membuat perhatian Santi teralihkan.

Ndak jadi ngelamar ke yang di Surabaya itu to, nduk?” ujar Santi, membuat anak dan suaminya menoleh. “Kan nilai-nilaimu bagus. Punya sertifikat bahasa asing juga. Pasti diterima.”

“Bukan pekerjaan yang pingin aku tekuni, Bu.”

Lha tapi kan enak.”

Nita terdiam sejenak sebelum menjawab, “Enak buat siapa? Ibu atau aku?”

Santi tidak menjawab.

Ketika mereka selesai makan dan berjalan keluar restoran, Santi melihat sosok Nita dari samping dan akhirnya sadar. Nita tidak pakai anting.

Continue reading “[Fiksi] Anting”

Share this:

Tantangan Pertama Tahun 2017

2017! Yeeey!

Biasanya saya tidak terlalu peduli dengan tahun baru. Jarang merayakan pergantian tahun dengan main di luar atau menonton acara spesial di TV. Kali ini pun sama. 31 Desember 2016 saya tidur pukul 9 malam (gasik pol), bangun pukul 3 dini hari tanggal 1 Januari 2017 (tubuh saya cuma bisa tidur 5-6 jam tiap kali, lebih dari itu otomatis bangun). Sekilas tidak jauh beda dengan biasanya.

Hanya saja kali ini ada perbedaan. Bedanya ada di cara saya memaknai pergantian tahun dan 365 hari baru yang akan saya jalani (bila Tuhan memberkahi). Tahun 2015 saya mulai sadar akan banyak hal dan lebih banyak belajar tentang hidup. Tahun 2016 juga terus belajar dan hasilnya sekarang saya merasa lebih positif dalam menjalani hidup, atau setidaknya bisa lebih cepat kembali positif ketika jatuh ke lubang negativitas.

Biasanya saya berpikir, “Ngapain bikin resolusi tahun baru, paling di tengah-tengah udah buyar”. Dulu saya menganggap diri saya manusia gagal yang tidak bisa melakukan apapun secara konsisten. Ternyata saya bisa, jadi saya ingin kembali menantang diri saya tahun ini dengan target kecil-kecilan.

It’s time to address the elephant in the room, menghadapi salah satu permasalahan dalam diri saya: kurangnya kemampuan konsentrasi karena refleks saya dalam menghadapi rasa sakit dan pikiran lainnya.

Continue reading “Tantangan Pertama Tahun 2017”

Share this: