Latihan Tidak Berpikir (1a) Mengurung Diri dalam Pikiran Menurunkan Daya Konsentrasi

Terjemahan dari buku Kangaenai Renshuu oleh Koike Ryuunosuke.

Latihan Tidak Berpikir: Pengantar

Bab 1 Penyakit Bernama Pikiran

Orang Menjadi “Tidak Acuh” karena Berpikir

img_20161231_153313_hdr

1. a. Mengurung Diri dalam Kepala Menurunkan Daya Konsentrasi

Continue reading “Latihan Tidak Berpikir (1a) Mengurung Diri dalam Pikiran Menurunkan Daya Konsentrasi”

Share this:

Latihan Tidak Berpikir: Pengantar

img_20161220_190719_hdr

Pengantar di sampul buku:

Ayo berhenti berpikir dan lebih banyak menggunakan panca indra. Dengan begitu rasa kesal dan resah akan hilang.

 

Saya coba menerjemahkan salah satu buku berbahasa Jepang yang saya punya. Buku ini membantu saya menyadari apa yang sebenarnya membuat saya resah sehari-hari dan bagaimana saya bisa mulai menghadapi rasa resah itu. Perubahan dimulai dari kesadaran.

 

Judul: 考えない練習 (Kangaenai Renshuu)

Penulis: 小池龍之介 (Koike Ryuunosuke)

Tanggal terbit:22 Desember 2013 (cetakan ke-9)

Penerbit: Shogakukan

ISBN: 978-4-09-408700-0

***

Continue reading “Latihan Tidak Berpikir: Pengantar”

Share this:

[Fiksi] Writing Prompt: Lunch Gone Wrong

Aku tidak tahu apa yang ada di balik mata terbelalak itu. Yang aku tahu hanyalah betapa jernihnya bayangan diriku terpantul di permukaannya. Napasku tertahan, baik karena terpesona dengan kedua bola mata itu, maupun karena tangan yang mencengkram lenganku, lembut tapi cukup kuat untuk buatku merasakan jari-jari lentik itu terbenam di kulit.

Ia memalingkan wajah dan menarik tangannya. Sambil meratapi hilangnya segala kontak, aku menatap punggungnya yang menjauh pergi ke arah dapur. Lalu aku melihat ke bawah. Memo dan menu yang ia bawa dari meja sebelah tergeletak di lantai. Ya ampun. Dia sampai lupa telah menjatuhkan ini, pikirku sambil meraup benda-benda itu dari lantai dan meletakkannya di atas mejaku.

Apa yang membuatnya begitu terkejut? Aku buru-buru mengambil hape dari saku celana, menyalakan kamera depan. Hape di jarak yang tak terlalu dekat tapi tak terlalu jauh, cukup supaya aku bisa menjelajahi detil wajahku tanpa terlihat terang-terangan sedang bercermin.

Hasilnya: tidak jelas. Tidak ada yang nampak berbeda dariku hari ini. Tidak ada juga hal-hal memalukan seperti bulu hidung yang terlalu panjang atau potongan sayur menempel di gigi. Kenapa ia begitu terkejut? Apa mungkin ia baru saja sadar betapa menariknya diriku? Setelah sekian bulan aku makan siang di sini? Tanpa sadar aku sudah tertawa kecil. Kalau pikiran barusan aku sampaikan ke Dedi, dia pasti menyipitkan mata dan mengataiku tukang ngarep.

Aku merasakan ujung-ujung bibirku masih terangkat, bahkan setelah ia menghilang ke balik pintu dapur. Sambil kembali ke piring nasi sayur dan tahu tempe, aku bersiul-siul dalam hati.

Sendok sudah di dalam mulut, rasa manis dan tekstur lembut tahu bacem merebak di lidah, ketika aku menangkap suara gadis itu, tercekat oleh sesuatu yang terdengar seperti panik.

“Tapi 6 menit lagi dia mati! Kita harus gimana?”


Prompt: Lunch Gone Wrong dari Writer’s Digest

Share this: