Membuat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit: Bagaimana Membangun Kebiasaan dan Mencapai Target

Katanya sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Sayangnya kadang melakukan yang sedikit-sedikit itu tidak semudah yang dibayangkan. Kegagalan demi kegagalan menumpuk dan ada kalanya kita jadi frustasi.

Saya ingin berbagi pengalaman saya dalam membangun kebiasan dan mencapai target-target saya, serta hal baru yang akan saya coba mulai hari ini, “Tantangan Tanpa Kasur Lipat”!

A. Benar-benar mulai dari sedikit-sedikit

Bagi bukit itu jadi blok-blok tanah yang kecil. Jadi butiran kalau perlu.

Contohnya, ada target menyelesaikan makalah. Yang perlu kita cantumkan dalam agenda kita bukan “Rabu, xx November, makalah”. Tuliskan aksi spesifik yang bisa kita lakukan untuk mencapai target selesainya makalah itu. Misalnya, “pergi ke perpustakaan cari buku tentang linguistik umum untuk ide kerangka makalah”. Saya belajar hal ini dari buku Getting Things Done oleh David Allen dan coba mempraktekkannya. Ternyata mengetahui aksi-aksi konkret yang bisa saya lakukan memang membantu. Target-target saya jadi terlihat seperti blok-blok tanah kecil-kecil yang bisa saya angkut dan tumpuk satu persatu, bukannya bukit raksasa yang mustahil untuk diangkat.

Contoh lain lagi, saya punya keinginan untuk membangun kebiasaan olahraga. Saya tidak suka banyak berada di luar, jadi saya tidak memulai dari lari di area kampus atau pergi ke gym. Saya mulai olahraga di kamar dengan mengikuti video-video di FitnessBlender. Kadang saya frustasi karena tidak bisa mengikuti apa yang ada di video. Di saat-saat seperti itu saya coba ubah pendekatan saya. Saya pilih video-video yang untuk pemula. Waktu staminanya belum cukup kuat, pilih set olahraga yang pendek, sekitar 10 menit. Ketika sudah bisa melakukan gerakan-gerakan di video itu tanpa kehilangan napas, saya coba gerakan-gerakan yang lebih menantang, tambah durasi olahraganya.

Kadang kita perlu lupakan bukitnya sejenak dan fokus pada blok-blok tanah yang membentuknya. Ada kalanya terasa sulit, tapi terjang saja tanpa banyak berpikir.

 

B. Jatuh ya bangkit. Susah ya minta bantuan

Tulisan dari Andre Sólo di situs Quiet Revolution ini membawa perubahan bagi saya. Bukan perubahan yang drastis, tapi serangkaian perubahan kecil yang berkelanjutan.

Di tulisan tersebut Andre menceritakan pengalamannya dalam mencapai target-targetnya dengan berbagi target mingguan dengan seorang rekan. Seminggu sekali ia mengirim email ke temannya dan bercerita apapun tentang target-target minggu sebelumnya; mana yang tercapai dan tidak, kesuksesan besar dan kegagalan hebat, hal-hal yang membuat pencapaian target terasa berat, kehebohan ketika mencapai suatu target.

Saya membaca artikel tersebut pada bulan Juli tahun ini dan sejak saat itu mencoba sistem ini. Rekan saya adalah adik saya. Setiap Senin kami berbagi target minggu tersebut dan evaluasi target minggu sebelumnya di fitur notes aplikasi LINE. Kami saling memberi “jempol” untuk tulisan masing-masing, bertanya lebih detil tentang perkembangan usaha kami, saling belajar dari kesuksesan dan kegagalan satu sama lain, saling memberi saran, dan kadang sekadar mendengarkan keluh kesah ketika ada yang gagal.

Berkat hal ini, saya sekarang sudah bisa rutin olahraga. Dari dulu saya tidak terbiasa menggerakkan tubuh, lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar daripada di luar. Sekarang saya masih sering di kamar, tapi saya bisa rutin olahraga di sana. Hanya sekitar 15-30 menit setiap dua hari sekali, tapi rutin. Saya yang dulu menggeh-menggeh melakukan gerakan jumping jack sudah bisa mengatur napas dengan cukup baik sehingga tidak ngos-ngosan. Saya pun mulai menikmati olahraga dan berkeringat. Sekarang sudah tidak perlu mencantumkan olahraga dalam target mingguan karena sudah otomatis saya lakukan setiap dua hari sekali. Ini salah satu contoh kebiasaan baru yang saya bentuk berkat metode Andre.

Yang lebih penting, saya dapat membangun sikap positif dan menghadapi target-target saya, termasuk kegagalan-kegagalan yang menyertai. Selain itu, ini juga jadi media untuk komunikasi dan menjaga hubungan dengan adik saya. Kami tinggal terpisah sekitar 300 km, tambah lagi kami dari dulu bukan tipe yang sering ngobrol atau hang out. Dengan metode Andre, kami jadi rutin komunikasi.

Ketika gagal mencapai target atau kesulitan membuat kebiasaan baru, ingat bahwa kita tidak sendiri. Kalau kita minta bantuan, selalu saja ada orang yang bersedia membantu. Mungkin kita merasa skeptis, tapi selalu ada orang lain yang mau peduli, bahkan menghargai kita lebih baik daripada kita menilai diri kita sendiri.

 

C. Sayangi diri sendiri

Menginjak bangku SMA saya mulai berpikir “macam-macam”. Mulai merasa resah dengan hidup dan cara saya menjalaninya. Pada masa itulah saya melihat bahwa saya cenderung sulit melakukan sesuatu secara rutin atau melanjutkan sesuatu. Saya anggap hal itu sebagai bukti bahwa saya tidak konsisten; saya manusia yang gagal.

Waktu berlalu, hidup berjalan, banyak hal terjadi yang membuat saya sadar bahwa menyalahkan diri sendiri itu tidak ada gunanya. Dengan segala macam cara saya berusaha berubah. Tentunya banyak usaha saya yang gagal, tapi setidaknya saya jadi tahu bahwa saya tidak seburuk yang saya bayangkan. Buktinya saya bangun terus setiap kali jatuh, meski kadang harus susah payah menggeret diri, atau dengan tangis dan keluh kesah.

Setelah menyadari hal itu, saya bisa melihat diri saya dengan cara pandang yang lebih positif. Jadi bisa lebih fokus dalam usaha mencapai target-target daripada menghabiskan energi untuk menyalahkan diri sendiri. Saya jadi lebih sayang terhadap diri sendiri, dan sebagai hasilnya saya bisa mencapai hal-hal yang saya targetkan dan menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang saya inginkan.

Masih banyak hal yang tidak bisa saya lakukan, tapi ya sabar saja lah. Meski belum berhasil dan kadang masih mengutuk diri sendiri, setidaknya satu minggu sekali saya bisa melihat kegagalan saya dengan tenang, melihat apa yang menyulitkan saya dan menentukan hal-hal baru yang bisa saya lakukan supaya berhasil.

Kita sudah menjalani hidup sampai detik ini, tentunya dengan tantangan masing-masing. Bukankah itu juga suatu pencapaian? Setidaknya berikanlah tepuk tangan untuk diri sendiri. Kalau masih sulit berbaik hati terhadap diri sendiri, minta bantuan orang lain seperti yang saya ceritakan di poin B.

 

Penutup: Tantangan Tanpa Kasur Lipat

Seperti biasa hari ini saya membagi target minggu ini kepada adik saya. Target minggu ini hanya dua, lebih sedikit daripada biasanya (saya cenderung kemaruk dan pasang banyak target, tapi setelah evaluasi target minggu lalu, saya putuskan untuk mengurangi). Saya ingin berbagi salah satu target itu di sini.

**

Target:

Pukul 5-17 duduk di depan meja. Kerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Mandi dan ganti baju pergi untuk bantu membentuk suasana kerja. Boleh menjauh dari meja untuk makan, olahraga, cuci-cuci, stretching, atau rehat sejenak. Tidak boleh menggelar kasur bawah meski untuk rehat. Rehatnya harus tetap duduk tegak, berdiri, atau jalan.

Setelah pukul 17 bebas guling-guling.

**

Kenapa saya pasang target ini? Saya selama ini kesulitan untuk melakukan apapun dengan efektif karena sulit fokus dan mudah menyerah ketika fokus saya hilang. Akibatnya saya sering berhenti di tengah-tengah. Di saat-saat seperti itu saya menggelar kasur lipat dan berbaring di sana dengan niat untuk rehat sejenak.

Niat. Garis bawah di situ.

Biasanya niat saya tidak cukup kuat jadi saya menghabiskan waktu berbaring lebih lama daripada yang sebaiknya. Kerja pun jadi kurang produktif. Ujung-ujungnya saya merasa payah dan menyalahkan diri sendiri. Lahirlah lingkaran setan.

Nah, karena itu saya pasang target ini. Dengan fokus terhadap satu hal yang konkret (tidak menggelar kasur lipat), saya melakukan poin A “benar-benar mulai dari sedikit-sedikit”. Harapannya dengan ini saya bisa membangun kebiasaan kerja yang lebih baik, dan sebagai efeknya bisa mencapai target-target kerja saya.

Untuk melaksanakan poin B, saya membagi target saya ini dengan adik saya dan kalian, para pembaca. Saya akan berbagi apa saja halangan ketika saya menjalani tantangan ini dan bagaimana saya berusaha mengatasinya setiap hari lewat akun Instagram. Doakan saya, ya!

Share this:

5 thoughts on “Membuat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit: Bagaimana Membangun Kebiasaan dan Mencapai Target

  1. eh aku juga baru2 ini mulai olahraga di kamar gara2 2 minggu lalu liat finessblender. Aku cuma push-up 1 menit pagi-sore tiap hari, tapi sekarang semua celanaku kedodoran. Kalo makan, aku habisin sayur sama lauknya dulu, nasinya aku makan terakhir. Sama banyak minum air putih.

    1. Waaa~ Emang ngaruh ya yang dikit-dikit itu. Bahkan 2 x 1 menit per hari bisa keliatan hasilnya!
      Makasih tips tentang pola makannya mas (^^)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *