Rasa yang “Baik Hati” (Bag. 1 dari ?)

Pembelajar bahasa Jepang biasanya mengenal kata yasashii (ditulis 優しい atau やさしい) sejak awal. Biasanya yasashii diterjemahkan sebagai (1) ‘baik hati’ atau (2) ‘mudah’ dalam bahasa Indonesia.

 

Contoh:

(1) 彼女は優しい人です。 Kanojo wa yasashii hito desu. Dia adalah orang yang baik hati.

(2) この問題はやさしいです。Kono mondai wa yasashii desu. Soal ini mudah.

 

Saya belajar bahasa Jepang secara serius mulai 8 tahun lalu dan sudah selama itulah saya mengenal yasashii, tapi baru-baru ini saya merasa si yasashii ini mengusik saya. Tepatnya semenjak saya mulai aktif di bidang penerjemahan dan sering bertemu dengan ungkapan yasashii aji (優しい味 / やさしい味).

snapshot_2016-11-22_15-7-0
Hasil pencarian yasashii aji dengan penulisan 優しい味
snapshot_2016-11-22_15-7-33
Hasil pencarian yasashii aji dengan penulisan やさしい味

Yasashii sudah dijelaskan di atas, sedangkan aji biasa diterjemahkan sebagai ‘rasa’. Lalu yasashii aji diterjemahkan bagaimana? Rasa yang baik hati? Rasa yang mudah?

Continue reading “Rasa yang “Baik Hati” (Bag. 1 dari ?)”

Share this:

Membuat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit: Bagaimana Membangun Kebiasaan dan Mencapai Target

Katanya sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Sayangnya kadang melakukan yang sedikit-sedikit itu tidak semudah yang dibayangkan. Kegagalan demi kegagalan menumpuk dan ada kalanya kita jadi frustasi.

Saya ingin berbagi pengalaman saya dalam membangun kebiasan dan mencapai target-target saya, serta hal baru yang akan saya coba mulai hari ini, “Tantangan Tanpa Kasur Lipat”!

Continue reading “Membuat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit: Bagaimana Membangun Kebiasaan dan Mencapai Target”

Share this:

Bebas dalam Jeruji


Apa sebenarnya kebebasan itu?  Bagaimana supaya kita bisa bebas? Pertanyaan-pertanyaan itu yang jadi fokus dalam talkshow “Membongkar Jeruji Kebebasan” bersama Okky Madasari oleh panitia Sikolastik 2016.

Okky Madasari adalah seorang penulis yang telah menelurkan berbagai novel dengan kebebasan sebagai unsur ceritanya. Melalui karya-karyanya beliau menyuarakan jeritan orang-orang yang dikekang karena nilai-nilai dan pandangannya tidak sesuai dengan mayoritas, orang-orang yang direnggut nyawanya karena sesuatu yang mereka yakini.

Beliau memulai karir sebagai jurnalis dengan keyakinan bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Kemudian beliau banting setir menjadi penulis karena ia beripikir bahwa sastra mampu menghadirkan kehidupan, mempengaruhi jiwa dan pikiran, mengusik kesadaran pembaca, dan menyuarakan masalah; sastra bentuk tulisan yang paling kuat.

Pada acara talkshow beliau mengatakan, “Jika kita menulis dengan ketakutan, kita tidak akan menulis apapun. Jika kita menulis tanpa keberanian dan kebebasan, kita tidak menyampaikan apa-apa”. Begitu teguh beliau dalam kepenulisan untuk memperjuangkan kebebasan, yang beliau definisikan sebagai “melakukan dan memilih sesuatu tanpa rasa takut”.

Lantas, bagaimana batasannya? Hal itu saya ajukan pada sesi tanya-jawab dan beliau berpendapat bahwa batasannya adalah hak orang lain. Ketika kita berbuat sesuatu yang merenggut hak seseorang–hak untuk merasa aman, hak meyakini sesuatu, hak untuk hidup, dan sebagainya–saat itulah kita telah melanggar batas kebebasan kita.

Dari situlah saya berpikir, kita bisa membongkar jeruji kebebasan. Tapi ada kalanya jeruji itu perlu untuk menjaga kita supaya tidak merenggut kebebasan orang lain.

Apakah saya sudah bisa menyampaikan suara saya dengan menghargai orang lain, tanpa kebencian dan kekerasan? Apakah saya sudah bisa memilah mana yang perlu disuarakan, dan mana yang jika disuarakan malah merenggut hak orang untuk meyakini sesuatu? Apakah saya sudah bebas dengan menghargai kebebasan orang lain?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu saya ajukan kepada diri saya sendiri setiap hari.

Share this: