Seperti Dokter Strange yang Diberi Wejangan Oleh Sang Leluhur

Yang ada di kepala saya waktu itu adalah bagaimana nikmatnya bekerja di suasana yang berbeda (bukan di kamar yang hawanya buat ingin guling-guling di kasur) sambil ditemani makanan enak. Kenyataannya tidak sesuai bayangan.

Di toko makanan saya menunggu agak lama untuk bisa memesan karena  tidak ada petunjuk jelas bahwa pemesanan harus dilakukan di depan etalase sebelah kasir, bukan di kasir. Tidak ada antrian yang jelas sehingga pengunjung yang akan memesan, pengunjung yang ingin lihat-lihat isi etalase, dan pengunjung yang sedang menunggu pesanan bercampur jadi satu. Pegawai ada cukup banyak, tapi butuh waktu hingga pesanan saya bisa dicatat. Setelah keluar dari toko dan tiba di tempat tujuan, saya baru tahu bahwa di dalam pesanan saya tidak ada sendok, padahal sewaktu bayar saya sudah minta dan kasirnya bilang sudah ada di dalam pesanan.

Dengan perasaan yang kesal saya mulai bekerja. Rasa kesal meningkat ketika melihat pekerjaan yang dikirim rekan saya masih perlu perbaikan.

Dalam kondisi seperti itu saya mencari nama toko makanan yang tadi saya datangi. Saya klik tombol Google Review.

Lalu di kepala saya muncul kata-kata Sang Leluhur di film Doctor Strange.

“It’s not all about you”.

Tidak semua hal berpusat padamu. Terjemahan bebas saya seperti itu.

Lalu saya sadar. Para pegawai toko tadi tidak membuat saya menunggu dan lupa memasukkan sendok karena ingin membuat saya kesal. Pada umumnya pihak toko tidak ingin membuat pelanggannya kesal. Tidak ada alasan juga untuk menarget saya; mereka tidak kenal saya, saya tidak kenal mereka. Lebih logis melihat bahwa mereka melakukannya karena mereka belum paham cara melayani pelanggan dengan efisien (tokonya memang masih baru dan tadi pegawainya ada yang terlihat bingung).

Rekan kerja saya tidak berbuat kesalahan karena ingin membuat saya kesal. Lagipula pekerjaan ini menguntungkan kami berdua; tidak ada alasan baginya untuk sengaja berbuat salah.

Ketika saya sadar, saya tutup halaman Google Review tadi. Menuliskan kekesalan saya di sana akan membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan, baik untuk pihak toko, pelanggan lain, maupun diri saya sendiri. Lebih baik saya menghubungi toko secara langsung, lewat email misalnya, sampaikan pengalaman saya, saran konkret bagaimana supaya pelanggan lebih nyaman di sana (misalnya, membuat tulisan sederhana “pesan di sini” di satu bagian toko supaya pelanggan tahu di mana harus mengantri).

Saya juga coba untuk jelaskan kepada rekan kerja saya, bagian mana yang menurut saya perlu diperbaiki, kenapa, bagaimana cara memperbaikinya.

Ketika saya mencoba melihat dunia dari berbagai sisi, melihat dunia yang tidak berpusat pada saya, saya mendapat hal yang setiap hari saya dambakan: damai.

Share this:

Tentang Empati dan Tanggung Jawab

Kali ini saya diingatkan kembali akan pelajaran yang sudah pernah saya dapat: pelajaran tentang cara berempati serta batas dari tanggung jawab kita.

Saya punya teman. Kami belum pernah bertemu, tapi saya menganggapnya teman. Sebut saja namanya Melati. Kami kenal sejak saya meng-upload tulisan-tulisan saya di internet dan dia membacanya. Ternyata kami punya pengalaman yang mirip; kami pun ngobrol banyak dan mulai saling mengenal.

Baru-baru ini kami pun saling tukar alamat email supaya bisa lebih enak komunikasi. Ngobrolnya hal-hal “remeh” seperti tugas yang perlu dikerjakan hari itu dan artis-artis yang kami suka.

Kami belum pernah bertemu. Tidak tahu wajah masing-masing. Hidupnya terpisah lautan luas. Tapi saya merasakan ikatan batin dengannya.

Suatu ketika Melati kirim pesan ke saya. Temannya Melati ada yang merasa hidupnya payah dan sepertinya berpikir untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Melati panik. Dia bilang dia bingung harus bilang apa, takut kalau dia salah bicara, temannya bisa semakin terdorong untuk bertindak gegabah.

Membaca pesan Melati, saya jadi teringat kejadian yang pernah menimpa saya. Ada teman saya yang lain, sebut saja namanya Rosa. Dulu Rosa juga pernah menunjukkan indikasi mirip teman Melati. Waktu Rosa sepertinya akan bertindak gegabah, saya panik. Saya sampai menangis dan menelepon Bapak saya. Syukurlah Rosa baik-baik saja; dia hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri dan dia pun kembali beraktivitas seperti biasa.

Dari kejadian itu saya belajar, kita bertanggung jawab atas tindakan dan kata-kata kita, tapi tidak atas respon orang lain terhadapnya. Oke, saya bisa mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat Rosa mengurungkan niatnya yang tidak-tidak, atau mungkin malah mendorongnya menuju niat itu, entahlah. Ya, saya bertanggung jawab atas perkataan atau perbuatan saya. Tapi Rosa mau menanggapinya bagaimana, itu tidak termasuk dalam lingkup tanggung jawab saya.

Sebaliknya juga begitu. Apapun yang Rosa lakukan, itu tanggung jawab dia. Tapi dia tidak bertanggung jawab atas respon saya terhadap tindakan dia. Kalau saya kepikiran, panik tidak karuan, dan sampai terganggu aktivitasnya atau bahkan mengganggu orang lain, ya itu salah saya, bukan Rosa.

Lagipula, saya ini apa? Cuma manusia. Manusia bisa mempengaruhi manusia lain, tapi tidak pernah punya kontrol penuh. Kok saya bisa-bisanya sok menganggap kata-kata dan tindakan saya yang membuat Rosa melakukan sesuatu?

Itulah bagaimana saya belajar batasan tanggung jawab, serta cara berempati yang baik. Saya sampaikan pengalaman saya itu ke teman saya Melati.

Sebenarnya saya menuangkan hal ini dalam tulisan bukan hanya karena saya ingin berbagi dan mudah-mudahan membantu orang-orang lain yang mengalami hal serupa. Saya menulis karena sebenarnya saya juga butuh. Membaca pesan Melati membuat saya emosional. Saya menangis. Saya merasakan bagaimana panik dan khawatirnya si Melati. Saya merasakan bagaimana perspektif temannya Melati menyempit sampai-sampai dia hanya bisa berpikir bahwa hidupnya payah, bahwa ia hanya bisa bebas dari hidup payah itu dengan merengkuh kematian.

Saya menerima perasaan saya itu, tapi saya tidak mau berlarut-larut di dalamnya. Saya harus mempraktekkan apa yang saya katakan sendiri: Melati dan temannya memang membuat saya emosional, tapi kalau saya terus-terusan sedih dan depresi, itu tanggung jawab saya.

Oleh karena itu, saya menulis. Setidaknya dengan menulis saya bisa membuat orang lain tahu, “Oh, ternyata ada orang-orang yang mengalami hal seperti ini.” Mungkin mereka akan bisa lebih siap ketika bertemu dengan orang-orang seperti Rosa, Melati, teman Melati, (dan juga saya). Saya hanya berharap, emosi saya ini bisa tersalurkan dengan cara yang baik, dan syukur-syukur bisa berguna untuk orang lain juga.

Sekarang Melati tampaknya sudah lebih tenang. Dia bilang temannya sudah mulai berusaha mengatasi masalahnya dengan cerita ke teman-teman yang lain. Entah bagaimana nanti jadinya, tapi sekarang Melati memutuskan untuk percaya saja pada temannya dan istirahat dulu.

Saya bilang ke Melati, “Sini aku peluk. Nggak beneran, sih. Tapi anggep aja beneran ya. *Peluk virtual*”

Dia balas ” *Peluk balik yang keras* Terima kasih sudah ada untuk aku secara ‘virtual’ ha ha.”

Pelukannya Melati hangat. Hangat dan menenangkan, rasanya malam ini saya bisa tidur nyenyak.

Share this:

Belajar Menulis Bahasa Jepang di Lang-8, Langsung Dapat Koreksi Dari Native

Waktu kuliah di jurusan Sastra Jepang, saya biasa menulis tugas sakubun (mengarang) di Lang-8 sebelum mengumpulkannya ke dosen. Mumpung bisa dikoreksi langsung oleh orang Jepang.

lang8_1
Tampilan depan Lang-8

Lang-8 adalah situs tempat kita bisa menulis dalam bahasa asing yang sedang kita pelajari dan mendapat koreksi langsung dari native speaker bahasa tersebut. Berbagai macam pengguna dan bahasa ada di sana. Continue reading “Belajar Menulis Bahasa Jepang di Lang-8, Langsung Dapat Koreksi Dari Native”

Share this: