Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line”

<Tulisan ini mengandung spoiler>

Baru-baru ini saya selesai nonton drama Jepang “Life~Love on the Line.” Overall oke, sukses membuat saya semangat nonton selama empat minggu penayangannya. Dari drama ini ada satu hal yang paling membekas: Bagaimana drama ini bisa menampilkan tokoh yang realistis dan manusiawi.

Tonton di Viki:

Life~Love on the Line

Continue reading “Perspektif: Drama Jepang “Life~Love on the Line””
Share this:

Belajar dari Subtitle: “Life~Love on the Line” Ep1

Kembali lagi di “Belajar dari Subtitle“! Kali ini saya nonton drama Jepang berjudul “Life~Love on the Line” (Life 線上の僕ら) dan ketemu hal menarik di subtitle bahasa Inggrisnya.

Tonton di Viki:

Life~Love on the Line

Continue reading “Belajar dari Subtitle: “Life~Love on the Line” Ep1″
Share this:

Praktis Belanja Buku Jepang dengan Bookwalker

Dulu saya pernah pakai beberapa situs e-commerce untuk beli buku-buku Jepang. Tapi sekarang makin malas beli karena pengirimannya butuh waktu dan biayanya bisa lebih mahal karena pajak.

Selain itu saya juga sudah lelah menimbun buku fisik. Dalam 10 tahun terakhir, saya sering pindah tempat tinggal dan banyak barang yang tidak bisa saya bawa, termasuk buku. Ada buku yang saya berikan ke orang lain, beberapa bisa saya bawa ke tempat tinggal sekarang, tapi banyak juga yang saya tinggal di rumah orang tua di Surabaya dan rumah nenek di Jogja. Sudah nggak ingat buku mana yang ada di kota mana. Capek ^^;

Continue reading “Praktis Belanja Buku Jepang dengan Bookwalker”
Share this:

Hidup Bersama Hewan

Sejak saya bisa mengingat, saya sudah hidup bersama binatang peliharaan di rumah. Anjing, kelinci, kura-kura, dan pernah sekali waktu, kucing. Baru sejak umur 17 pindah dari rumah orang tua dan tinggal sendiri di kosan, saya tidak lagi hidup bersama hewan.

Rossie dan Sandy

Pengalaman 17 tahun pertama dalam hidup itu terus membekas dan mempengaruhi saya. Sampai sekarang merasa agak aneh nyebut binatang peliharan “mati.” Lebih nyaman nyebutnya “meninggal.”

Karena dulu pelihara kelinci begitu banyak dari SD sampai SMP, saya pernah menolak makan sate kelinci. Seumur-umur makan sate kelinci baru sekali, waktu saya usia 21 tahun. Ya bisa dibilang agak lebay ya, tapi emang saya nggak tega. Saking sayangnya dulu saya ingat tanggal meninggalnya semua kelinci kami, misalnya si Leo itu 2 Mei (ingat karena pas Hardiknas) dan hari Jumat (waktu nemu Leo terbujur kaku, saya pakai seragam pramuka).

Continue reading “Hidup Bersama Hewan”
Share this:

Mengembalikan Kecintaan pada Buku dengan Scribd

Dulu waktu SD saya betah duduk berjam-jam untuk membaca buku. Novel-novel Harry Potter saya lahap habis, karya J.R.R. Tolkien yang berjudul The Hobbit saya baca berkali-kali. Sayanganya semakin bertambah usia, saya merasa makin sulit membaca. Mau mulai membaca tulisan sepuluh ribu kata saja rasanya berat (btw novel Harry Potter yang pertama edisi bahasa Inggrisnya ada 76.944 kata).

Saya suka mencatat buku-buku yang saya baca di akun Goodreads, sudah punya akun ini dari SMA. Tapi dari tahun ke tahun jumlah buku yang saya baca makin sedikit. Tahun 2018 saya selesai membaca 4 novel, 1 kumpulan cerita pendek, dan 1 komik. Sedangkan tahun lalu saya menamatkan 3 novel dan 24 jilid komik Slam Dunk, plus mencoba 1 novel yang ternyata saya tidak suka dan berhenti baca di tengah-tengah.

Continue reading “Mengembalikan Kecintaan pada Buku dengan Scribd”
Share this: