Pengalaman Konseling dengan Psikolog Puskesmas

Saya berkutat dengan isu kesehatan mental bukan cuma setahun dua tahun belakangan. Sudah dari zaman masih pakai seragam putih abu-abu dan masih berlanjut sampai sekarang di paruh akhir usia kepala dua.

Jadi sebenarnya saya sudah berpengalaman dan mampu menghadapi, apalagi sejak tahun 2015 sudah belajar caranya minta bantuan. Cuma kadang-kadang perjuangan ini terasa berat banget karena satu hal.

Continue reading “Pengalaman Konseling dengan Psikolog Puskesmas”
Share this:

Belajar dari Subtitle: Macam-Macam “Otsukaresama” di Border Ep2

Saya sudah dengar soal drama Jepang berjudul “Border” ini sejak awal tayang di tahun 2014, tapi belum sempat nonton. Pemeran utamanya aktor Oguri Shun yang terkenal. Mungkin penggemar Jejepangan di Indonesia paling tahu dia dari drama komedi-romantis “Hana Yori Dango” alias “Boys Over Flowers” dan juga film aksi tentang berandalan sekolah berjudul “Crows Zero.”

Oguri Shun di gambar promosi “Border.” Sumber: tv-asahi.co.jp

“Border” menceritakan kisah Ishikawa Ango (Oguri Shun), detektif kepolisian yang bertugas menangani kasus pembunuhan. Suatu hari dia ditembak kriminal dan pelurunya nyangkut di dalam kepala. Karena operasi mengambil peluru ini berisiko tinggi, Ishikawa memutuskan untuk menunda operasi dan hidup dengan peluru di dalam dirinya. Sejak saat itu, dia jadi bisa bicara dengan arwah korban pembunuhan di kasus-kasus yang dia tangani.

Awalnya saya nggak berharap banyak ke drama ini karena Jepang itu produksi banyak sekali drama detektif tiap tahunnya. Mereka biasa produksi drama tiap 4 musim dalam setahun yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Nah, di tiap musim ini selalu ada drama detektif dan jumlahnya nggak cuma satu-dua. Kebayang banyaknya, kan? Makanya saya siap-siap dengan kemungkinan “Border” jadi judul yang nggak ada istimewanya di antara sekian banyak drama detektif Jepang. Lagipula hadirnya aktor terkenal tidak selalu menjamin dramanya bagus.

Para tokoh utama “Border.” Sumber: ginkon2.xyz

Eh, ternyata cukup 1 episode untuk buat saya jatuh hati dengan “Border.” Waktu nulis blog ini saya baru nonton 5 dari 9 episode, tapi sudah terpuaskan dengan kualitasnya sejauh ini. Karakterisasi tokoh, jalan cerita, gaya kamera dan musik pengiringnya semua selera saya banget.

Tonton di Netflix: 
Border
Continue reading “Belajar dari Subtitle: Macam-Macam “Otsukaresama” di Border Ep2″
Share this:

Tembang Kenangan: Lagu yang Berubah Makna

Biasanya saya mengaitkan satu lagu dengan satu kenangan atau periode tertentu. Misalnya lagu “No Me Ames” yang mengingatkan pada perjalanan keluarga dari Surabaya ke Jogja, atau lagu “Aku Bisa” yang membawa saya kembali ke masa SMP.

Tapi ternyata ada lagu yang kenangan dan maknanya berubah seiring berjalannya waktu. Baru-baru ini saya merasakannya dengan lagu “Kiseki” oleh GReeeeN.

Continue reading “Tembang Kenangan: Lagu yang Berubah Makna”
Share this:

Belajar dari Subtitle: “Ride on Time” Season 1 Episode 17

Baru-baru ini saya kembali menyelam ke fandom idol Jepang, khususnya idol dari agensi Johnny’s. Di agensi Johnny’s, idol-idol yang belum debut (rilis CD album) disebut dengan “Johnny’s Jr.” Nah, salah satu grup idol yang saya minati adalah Naniwa Danshi. Mereka termasuk Johnny’s Jr. di wilayah Kansai (Osaka dan sekitarnya).

https://www.tvlife.jp/wps/wp-content/uploads/2019/01/206330.jpg
Grup Naniwa Danshi dari Kansai Johnny’s Jr.

Karena lagi demen, saya jadi cari-cari konten Naniwa Danshi dan Kansai Johnny’s Jr. Ternyata di Netflix ada serial dokumenter “Ride on Time” yang meliputi perjalanan para grup idol di agensi Johnny’s. Season pertama episode 17-20 khusus membahas Kansai Johnny’s Jr., termasuk Naniwa Danshi.

Tonton Ride on Time di Netflix:
Ride on Time

Waktu nonton episode 17, ada beberapa istilah bahasa Jepang yang saya pikir susah untuk diterjemahkan. Saya jadi tertarik mengamati bagaimana istilah-istilah itu diterjemahkan dalam subtitle bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Continue reading “Belajar dari Subtitle: “Ride on Time” Season 1 Episode 17″
Share this: